Peneliti Ungkap Penyebab Banjir di Bangga

0
162

PALU – Bencana gempa bumi yang terjadi di Palu, Sigi, Donggala dan Parigi Moutong 28 September lalu, ternyata menciptakan sejumlah titik longsor di berbagai wilayah ini, termasuk sejumlah titik longsor di pegunungan, yang terletak di sebelah barat Lembah Palu. Hasil longsoran tersebut, kemudian terbawa ke wilayah hilir yang lebih rendah, oleh aliran permukaan ketika terjadi hujan di wilayah hulu.

“Salah satu akibatnya, pasca bencana 28 September 2018, setiap hujan deras di wilayah hulu, Desa Bangga Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, selalu dilanda banjir, yang disertai lumpur berpasir hasil longsoran, dan hal ini sudah berulang kali terjadi,” jelas pengamat kebencanaan, Drs Abdullah, MT, menanggapi banjir yang kembali melanda wilayah Desa Bangga dan sejumlah desa lainnya di Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Minggu (28/4/2019).

Abdullah menjelaskan, sejak dahulu, wilayah Bangga sudah sering dilanda banjir, yang disebabkan luapan Sungai Miu yang hulunya berada di Kulawi. Tapi setelah bencana 28 September 2018, banjir di wilayah Bangga dan sekitarnya, bukan lagi semata-mata luapan dari Sungai Miu, tetapi dari pegunungan yang ada di sebelah baratnya, termasuk desa-desa lain yang ada di sebelah utara Bangga, seperti Desa Balongga.

“Pasca 28 September 2018, banjirnya disertai lumpur yang menyebabkan sedimentasi. Kemungkinan besar penyebabnya adalah luasnya lokasi longsor di pegunungan tersebut, sehingga luapan air permukaan bercampur dengan lumpur hasil longsoran. Hal yang perlu dicari tahu, mungkin di belakang gunung tersebut, lahan yang dibuka oleh masyarakat untuk berkebun semakin meluas atau ada indikasi penebangan pohon.

Abdullah, Senin (29/4/2019), mengatakan, saat dirinya bersama rombongan Geotour Indonesia berkunjung ke Desa Bangga, Minggu (28/4/2019), dirinya melihat sejumlah fenomena. Pertama, dasar Sungai Bangga, sudah rata dengan permukaan tanah sekitarnya, sehingga sungai tersebut sudah tidak berfungsi, untuk menampung dan menyalurkan air.

Kedua, jembatan Sungai Bangga sudah rata dengan dasar sungai dan permukaan tanah sekitarnya. Di sekitar jembatan tersebut, terlihat gunungan sedimen, hasil pengerukan sungai.

Ketiga, rumah-rumah di sekitar sungai, sudah tertimbun lumpur setinggi 2 sampai 3 meter. Dirinya menilai, dengan kondisi seperti itu, kawasan permukiman, khususnya di sekitar aliran sungai, sudah tidak layak huni.

Adapun menurut Abdullah, solusi yang bisa dilakukan, yaitu normalisasi aliran Sungai Bangga. Kemudian membuat kanal/saluran air, paling tidak dua saluran di utara dan dua saluran di selatan Sungai Bangga, agar aliran air dari arah hulu, bisa terbagi. Selanjutnya, dirinya juga menganjurkan pemerintah untuk merelokasi permukiman warga ke arah selatan, misalnya di sekitar pasar yang baru dibangun.

Selain itu, Abdullah juga mendesak pemerintah, untuk melakukan penelitian tentang longsor dan/atau pembukaan lahan/penebangan pohon, di pegunungan di wilayah Dolo Selatan.

Sementara itu, arkeolog Museum Negeri Sulteng, Iksam, MHum, menyebut, dalam bahasa Kaili, kata Bangga memiliki makna basah, sebagaimana juga ditulis oleh Donna Evans dalam Kamus Kaili Ledo – Indonesia – Inggris.

Penamaan Bangga ini kata Iksam, Senin (29/8/2019), kemungkinan besar, karena posisinya yang terletak di delta Sungai Ore. ***

Penulis + Foto: Jefrianto
Editor: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini