Pembangunan Huntap Ditarget Rampung Sebelum Lebaran

0
676
BANGUN HUNTAP – Warga bersama TNI membangun rumah yang rusak akibat gempa 28 September 2018 (foto irwan basir)

PALU –  TNI menjamin akan merampungkan pembangunan dan perbaikan rumah rusak akibat gembabumi, tsunami dan liquifaksi,  rampung sebelum lebaran 2020.  Lebaran tahun depan bakal jatuh pada 24 Mei 2020.

Pemerintah yakin mampu merampungkan sebelum lebaran, pasalnya, awal November lalu  telah menurunkan 250 prajurit dari 1.000 personel TNI untuk membantu pembangunan hunian warga yang rusak dihantam gempa.  Sementara  total rumah rusak yang akan dibangun dan diperbaiki sebanyak 4. 095 unit.

Jaminan itu dikemukakan Danrem 132/Tadulako Kolonel Inf Agus Sasmita selaku kepala Satgas, saat rapat koordinasi di Makorem 132 Tadulako pekan lalu.  Danrem melanjutkan, selama 20 hari pengerjaan rehab rekon melibatkan sekira 250 personil TNI AD,  pelaksanaan pekerjaan sudah mencapai 58 unit. Dari jumlah itu baru enam unit rumah yang rampung 100 persen.  Sisanya  ada yang baru rampung 70 persen dan 90 persen. Untuk Kota Palu target rumah kondisi rusak berat yang akan dikerjakan sebanyak 1.594 unit dengan model rumah jenis rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) dan Rumah Instan Konvensional (Riko).

Demikian pula di Kabupaten Sigi.  Jumlah personel yang dilibatkan sebanyak 88 personil, dengan target 1.602 unit. Namun baru 17 unit yang dikerjakan dengan capaian rata-rata 30 persen dan -50 persen.

Prajurit disebar di dua kecamatan.  Kecamatan Sigi Biromaru,  Desa Mpanau sebanyak 43 orang dan di Kecamatan Dolo dengan rincian Desa Kotarindau 31 orang dan Desa Potoya 14 personel.

Lanjut Danrem, progres siginfikan terlihat di Kabupaten Donggala. Dari target 899 unit rumah yang melibatkan 88 personil TNI AD telah dikerjakan 22 unit. Enam  unit telah selesai.  Di Kabupaten Donggala penyebarannya ada di tiga kecamatan,  Kecamatan Banawa, Kecamatan Tanatovea dan Kecamatan Sirenja.

 

Di Kecamatan Banawa fokus pengerjaan ada di Desa Tanjung Batu dengan pelibatan 7 personel. Desa Maleni ada 7 personel dan Desa Boya dengan perkuatan 17 personel. Sementara di Kecamatan Tanatovea fokus di Desa Wani I jumlah personil 7 orang, Desa Wani II sebanyak 14 personil dan Desa Wani III sebanyak 7 orang. Terakhir di Kecamatan Sirenja dengan jumlah personil 29 orang.

Sasmita mengatakan, pencairan stimulan tahap I ini belum selesai dan membutuhkan fasilitasi fasilitator. Target pengerjaan Satgas selama tujuh hari satu rumah harus selesai. Guna mencapai target itu, Satgas diperbantukan membangun rumah atau rehab selama tujuh hari satu rumah selesai.

 

Pada kesempatan yang sama Kepala BPBD Provinsi Sulawesi Tengah Bartolomeus Tandigala mengatakan, pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap aplikator dan fasilitator. Kedua pihak ini berperan sebagai perantara penyediaan bahan baku dalam proses pembangunan dan perbaikan rumah rusak berat itu.

“Kita akan mengevaluasi fasiltator mana yang produktif dan tidak produktif, yang tidak produktif sudah tentu tidak akan digunakan lagi. Kerja mereka harus cepat dalam menyediakan bahan baku agar target bisa tercapai,” kata Kepala BPBD dihadapan sejumlah fasiliator, aplikator dan perwakilan warga.

 

HUNTAP RAMPUNG APRIL 2020

Wakil Menteri PUPR saat peletakan pertama pembangunan tanggul  Pantai Palu mengatakan dari 1.500 pembangunan huntap direncanakan, 300 huntap sudah terbangun.  Dia mengatakan, 1.200 sisanya bisa selesai, sebelum bulan April, sebab rencananya Presiden Jokowi akan berkunjung kembali melihat progresnya.

Untuk itu dia meminta kepada kepala-kepala Balai dari kementrian PUPR, termasuk satgas penanggulangan Palu mewujudkan bersama, agar tiada kesan masyarakat Palu,  Presiden Jokowi datang, tidak ada progres dikerjakan.

 

Sedangkan Gubernur Sulteng, Longki Djanggola pada kesempatan itu mengatakan,  salahsatu hambatan pembangunan hunian tetap (hunta) harus diselesaikan bersama antara lain penyiapan dan pemetaan lahan. Dia mengatakan, untuk lahan-lahan telah ditetapkan zona merah, status keperdataannya telah diputuskan.

‘’Insya Allah lahan-lahan tersebut akan dibangun memorial park, khususnya kelurahan Petobo dan Balaroa, ” katanya.

Secara keseluruhan ungkap Longki, dampak bencana di empat daerah  telah menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, nilainya ditaksir sekitar Rp 24 triliun.

Ia mengatakan, untuk melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi dampak dari bencana tersebut dibutuhkan anggaran sekitar Rp 36 triliun.

” Anggaran ini telah ditetapkan dalam Peraturan gubernur nomor 10 tahun 2019 tentang rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana di Sulteng, ” katanya. ****

Penulis : Irwan Basir & Ikram
Editor   : Yardin Hasan

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini