Pedagang Pantai Talise Kembali Bergeliat

0
154

PALU – Dengan bersemangat, Risman mendorong gerobak kayunya menuju Pantai Talise. Bersama istrinya Nuraini, Risman menata lapaknya: ada saraba, aneka olahan pisang, minuman ringan, dan jagung bakar.

Kursi-kursi plastik untuk pembeli, ditata di bibir pantai, menghadap persis ke Teluk Palu. Sore itu matahari akan terbenam dan angin laut bertiup sedikit kencang.

Risman membuka lapaknya di pinggir Jalan Cut Mutia, salah satu jalur yang menghubungkan Palu dengan Kabupaten Donggala. Petang itu, pelbagai kendaraan melintas tiada jeda. Beberapa di antaranya berhenti di lapaknya, membeli sebotol air mineral atau jajanan.

“Sekarang jalanan di sini sudah ramai lagi,” kata pria 39 tahun itu, di sela-sela kesibukannya menghidupkan arang, Rabu pekan lalu.

Bukan hanya jalanan, pedagang-pedagang lain mulai kembali berjualan meramaikan ruas Jalan Cut Mutia. Dalam satu kilometer garis pantai, ada sekitar 10 pedagang yang mengikuti langkah Risman.

Risman adalah pedagang pertama yang berjualan di Pantai Talise, setelah gempa dan tsunami menerjang kawasan itu 28 September silam. Bencana itu membuat Pantai Talise sunyi beberapa pekan. Sebab sebagian besar pedagang kaki lima bermukim di pengungsian dan barang dagangan mereka hancur tak bersisa.

Sebelum bencana, Pantai Talise adalah ikon wisata bagi Kota Palu. Setiap menjelang sore dan hari libur, pantai ini tak pernah sepi dari wisatawan. Sepanjang pantai berdiri kafe, warung ikan bakar, wahana bermain, wisata mangrove, dan pacuan kuda.

Risman yang sudah tiga tahun berjualan di Pantai Talise, sempat mengungsi enam hari di markas Komando Resort Militer. Rumahnya retak-retak dan tertimbun sampah sisa-sisa tsunami.

Ia nekat berjualan karena dilanda bosan hanya berdiam diri tanpa pekerjaan. Ia tak tahan harus terus-menerus menunggu datangnya bantuan.“Kalau makan memang selalu dapat. Tapi sampai kapan bergantung terus dengan bantuan?” Katanya.

Keinginannya untuk kembali berdagang menguat. Tak kehilangan akal karena tak punya modal, ia berburu kompor bekas di antara reruntuhan rumah bekas tsunami.

Setelah berhasil mendapat kompor, ia lalu pinjam selang dan gas LPG 3 kilogram ke salah satu kawannya. Ia juga meminta temannya yang lain untuk membantu memasok kacang rebus sebanyak 5 kilogram dan gerobak kecil.

Jadilah, di pekan ketiga setelah bencana, Risman membuka lapak kacang seorang diri di dekat pantai, mulai sore hingga malam. Tidak ada warga yang mengunjungi pantai saat matahari sudah tenggelam. Pengendara kendaraan pun hanya melewati Jalan Cut Mutia di sore hari.

“Setelah bencana, kalau malam, sepi sekali. Tidak ada yang berani lewat sini,” katanya.

Berdagang sendirian, membuat kacangnya cepat ludes. Keuntungan dari berjualan itu, ia tabung sedikit demi sedikit untuk modal. Dari sini, Risman bertahap membeli perlengkapan lain, seperti gelas, piring, dan membuat gerobak lebih besar. Dari berjualan kacang rebus, dagangan Risman akhirnya kembali seperti semula.

Keberhasilan Risman, akhirnya memantik semangat pedagang lain, meski jumlahnya tidak sebanyak sebelum bencana. “Kalau dulu ada sekitar 25 pedagang kaki lima,” kata Risman.

Selain Risman, bocah berusa 11 tahun berama Ramadhan, juga membuka lapak kacang rebus di Pantai Talise. Anak ke-8 dari 10 bersaudara ini, berjualan di depan bekas Hotel Palu Golden, tempat ia menyelamatkan diri ketika tsunami datang setinggi 1,5 meter.

Ramadhan terpaksa mengubur traumanya itu, demi bisa mendulang penghasilan bagi keluarganya. Sebab berjualan kacang rebus menjadi pekerjaan satu-satunya. “Ayah dan kakak juga berjualan kacang rebus di pantai ini,” kata siswa kelas 4 sekolah dasar ini.

Kacang rebus dan gerobak yang dijual Ramadhan dipasok oleh pamannya. Setelah berjualan sejak pukul 15.00 hingga 22.00, ia mendapat upah Rp 25 ribu per hari. Uang itu sebagian ia berikan untuk orangtuanya, sisanya lagi ia pakai sebagai uang saku sekolah.[]

Penulis: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini