Pascabencana, Petani Sawah Beralih ke Tanaman Hortikultura

0
686
Salah satu petani hortikultura di Desa Kotarindau, Kabupaten Sigi, sedang memasang pipa air untuk mengaliri lahan pertaniannya.

PALU – Suatu siang, Agil (41), sedang duduk santai di gubuk rakitannya sendiri sambil menatap hamparan tanaman tomat seluas seperempat hektar miliknya di Desa Kotarindau , Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi.

Tanaman tomat yang di tanam sejak 17 Juli 2019 itu, sudah mulai berbuah seberat 8 gram, ada juga buah yang sudah berukuran rata-rata 180 gram. Selain menanam tomat, Agil juga menanam jagung manis dan cabai

“Perkiraan panen tomat ini, sekitar awal atau pertengahan september mendatang,” ujarnya.

Sebelumnya, lahan ini adalah lahan sawah, namun, setelah mengalami kekeringan akibat rusaknya saluran irigasi dari sungai Gumbasa pascabencana 28 September 2018 lalu, lahan ini dialih fungsikan menjadi tanaman hortikultura.

Pemilihan tanaman hortikultura, menurut dia dipilihnya karena, tanaman jenis ini tidak banyak membutuhkan air.

Meski tidak membutuhkan banyak air, Agil yang juga ketua kelompok tani Taruna Tani Karya Mandiri, berinisiatif membuat sumber air dari sumur dangkal dan sumur suntik bersama anggotanya.

“Untuk membuat satu sumur suntik, kami harus merogoh kocek hingga sepuluh juta rupiah dengan kedalaman sekitar 2o meter,” ujarnya.
Belum lagi, lanjut dia, biaya operasionalnya per hari minimal Rp70.000, untuk membeli bahan bakar dan lain-lain.

Beruntung, setiap petani di kelompok tani Karya Mandiri ini sepakat mencari solusi dan saling membantu mengatasi hal yang berkaitan dengan biaya tersebut.

Kelompok tani di Desa Kotarindau ini memiliki lahal pertanian seluas 25 hektar. Masing-masing petani memiliki luas lahan beragam, ada yang ¼ ha hingga 1,5 ha.

Kelompok tani Taruna Tani Karya Mandiri ini dinaungi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Singgani asal Desa Kotarindau, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi. Agil sendiri mempunyai 20 petani termasuk dirinya yang tergabung dalam kelompok tani tersebut.

Kelompok tani ini di bentuk, setelah ada inisiatif dan ketertarikan anak muda, Desa Kotarindau untuk menggarap potensi lahan pertanian di wilayah Sigi.

Agil pun menyambut niat baik para anak muda tersebut, lalu mengajak 19 orang itu dan membentuk kelompok tani Taruna Tani Karya Mandiri yang di bentuk 15 Maret 2017.

Pascabencana dahsyat 28 September 2018 lalu, memaksa mereka kehilangan pekerjaan. Hampir sebagian masyarakat Desa Kotarindau yang mayoritasnya bekerja sebagai petani memilih mencari pekerjaan lain demi memenuhi kehidupan sehari-hari.

Dalam situasi sulit, Agil mencari beragam cara agar 19 orang anggotanya ini tetap kembali bertani. Pascabencana lima bulan tepatnya awal Februari 2019, satu per satu anggotanya kembali ke lahan pertanian dan semangat bertani kembali dengan alternatif menanam komoditi tomat, cabai, jagung, bawang, dan lainnya.

Desa Kotarindau bukan satu-satunya desa yang mengalami kekeringan. Kekeringan juga di alami Desa Langaleso, Desa ini bersebelahan dengan Desa Kotarindau yang hampir seluruh penduduknya adalah petani.

Meski demikian, Lisma (36) warga dusun dua Desa Langaleso sangat bersyukur dirinya masih bisa menanam cabai sebagai pengganti sementara padi yang biasa ia tanam.

“Sebelum gempa saya menanam padi,” ujarnya.

Saat ini, Lisma mengalami kesulitan menanam benih yang ada, karena, sangat minim air sebagai syarat dasar bagi pertanian. Akibatnya banyak benih yang belum bisa di tanam.

Data dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi menyebutkan, pada akhir Juli 2019 petani Desa Kotarindau, seperti Agil sempat merasakan manisnya hasil panen dari penjualan tomat ke pasar Manonda Palu, tempat rutin mereka menjual hasil panen.

Harga jual pada akhir juli mencapai angka Rp7.000 sampai Rp8.000 per kilogram. Namun, Rifa Intan, salah satu penyuluh menyebutkan, sekitar dua minggu lalu tepatnya 15 Agustus saat panen, harga pasaran tomat anjlok hingga Rp700 per kilogram.

“Hal itu di ungkapan mereka (petani) saat saya kunjungi beberapa waktu lalu,” kata Rifa.

Anjloknya harga tersebut, kata Rifa akibat banyaknya pemasok yang datang dari luar Kota Palu dan sekitarnya. Itulah sebabnya dia sebagai penyuluh tidak bisa menentukan pendapatan petani, karena harga pasaran tidak menentu.

Menurut Rifa, ada sekitar sebelas desa di Kecamatan Dolo yang terdampak gempa. Dari sebelas desa itu terdapat tiga desa masing-masing Desa Karawana, Soulove, dan Potoya yang terdampak parah dan sampai saat ini masih sulit melakukan aktivitas pertanian.

“Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya air yang mengaliri sawah mereka,” jelasnya

Kepala Balai Penyuluhan Petani Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi, Siti Darwisah berharap ada bantuan dari para pihak di luar pemda, sambil menunggu penyelesaian saluran irigasi sungai Gumbasa.

“Kita harap sekali ada bantuan untuk saluran air ke lahan petani ini, dari manapun. Pak Bupati juga membuka diri kepada berbagai NGO untuk bantuan apapun kepada masyarakat Sigi, khususnya air untuk petani,” terang Darwisah.

Menurut Darwisah dan Rifa contoh petani seperti Agil sangat patut diapresiasi karena, satu bulan pascabencana 20 September, Agil sudah kembali memulai aktivitasnya bertani dengan berbagai kesulitan dan kekurangan.

Sebelum gempa, kata dia, para petani di desa itu, sudah berinisiatif menyimpan benih tanaman hortikultura. Pascabencana benih-benih itu baru ditanam.

Terkait hal itu, salah satu lembaga internasional yang berfokus pada ketahanan pangan dan pertanian, FAO membantu para petani di dua desa tersebut dengan memberikan benih, pupuk, serta mulsa.

Setiap petani di berikan dua bungkus benih untuk satu jenis komoditi, 50 kilogram pupuk NPK 16:16, dan 125 cm mulsa.

Davidson Rato Nono, Koordinator wilayah Sigi FAO mengatakan, jangkauan bantuan yang di berikan FAO tersebar di 8 kecamatan di Kabupaten Sigi, di antaranya Kecamatan Biromaru, Dolo, Tanambulava, Gumbasa, Marawola, Dolo Barat, Kinavaro, serta Kulawi Selatan.

Untuk Kecamatan Dolo sendiri, FAO menyalurkan bantuannya di sebelas desa, termasuk Desa Kotarindau dan Langaleso.

Davidson menguraikan, sejak bulan November 2018 kali pertama FAO mengumpulkan data untuk kebutuhan penyaluran bantuan, FAO telah mendistribusikan 430 ton pupuk, lebih dari 7 ton benih jagung, tomat, dan cabai rawit, dan lebih dari 500 ribu meter mulsa plastik untuk tiga daerah terdampak, Palu, Sigi, dan Donggala.

“Untuk Desa Kotarindau dan Langaleso, kami mulai menyalurkan batuan horti ini tanggal 3 Juli 2019, dengan melakukan pendataan yang cukup ketat hasil kerjasama dengan BPP,” ujar David.

Asisten FAO Representative di Indonesia – Program, Ageng Herianto mengatakan distribusi tiga sektor kebutuhan pertanian yang diberikan FAO itu merupakan upaya stimulan agar para petani yang sempat terhenti berproduksi akibat bencana akhirnya kembali bertani.

“Kami mau memastikan bahwa petani dan nelayan di daerah terdampak bencana dapat kembali menyambung tali perekonomian mereka,” harapnya.

Menurut Ageng, program penyaluran stimulan ini menggunakan biaya dari Dana Tanggap Darurat Pusat PBB (CERF) dengan nominal USD 1 juta. Dana tersebut digunakan untuk membantu meringankan beban pemerintah daerah dalam menangani bencana Pasigala.

Di Kota Palu terdapat 1.137 petani penerima manfaat yang tersebar di 27 kelurahan, di lanjutkan di Kabupaten Sigi 4.687 petani di 67 desa, kemudian di Kabupaten Donggala dengan jumlah 2.773 petani yang tersebar di 37 desa penerima manfaat dari FAO.

Reporter /foto : Mohammad Fais Syafar
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini