Pasca Bencana, Anak dan Perempuan Rentan menjadi Korban Kekerasan

0
155

PALU — Perempuan dan anak menjadi pihak paling rentan menjadi korban kekerasan dalam situasi pascabencana. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, melansir telah terjadi 11 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah yang terkena bencana yakni Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala.

Menurut Asisten Administrasi Umum Pemprov Sulteng, Muliono, bentuk-bentuk kekerasan yang menimpa korban yakni kekerasan seksual, fisik, psikis, dan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga).

Jumlah itu, kata Muliono, menambah deretan angka kekerasan di Sulawesi Tengah yang mencapai 256 kasus sejak Januari hingga Agustus 2018. “Kekerasan pada anak dan perempuan bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, termasuk di daerah bencana,” kata Muliono, dalam siaran persnya, pekan lalu.

Muliono menjelaskan, Pemprov Sulteng berkomitmen bahwa rehabilitasi dan rekontruksi pascabencana akan dilakukan dengan berperspektfif gender. Sebab hal itu sudah tertuang pada Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana No. 6 Tahun 2017, khususnya pada pasal 5.

“Rehabilitasi dan rekonstruksi mengacu pada 8 prinsip, salah satunya mengarus utamakan kesetaraan gender, kelompok rentan, penyandang disabilitas dan keadilan,” katanya.

Sementara itu, Deputi Perlindungan Hak Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Vennetia Dannes, menyatakan keprihatinannya atas meningkatnya kasus kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa perempuan di pengungsian.

“Dalam situasi bencana, kami berharap semua pihak bisa menahan diri,” kata dia saat mengunjungi Tenda Ramah Perempuan di pengungsian Jonooage Lolu, Kabupaten Sigi, Jumat pekan lalu.

Menurut Vennetia, Indonesia sudah memiliki UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang bisa mempidanakan setiap pelaku KDRT. Namun dalam situasi bencana, pelaku KDRT yang melakukan kekerasan satu kali akan diberi peringatan dan konseling. “Tapi kalau istri tidak mau memaafkan, bisa langsung dilaporkan,” kata dia.

Sebelumnya, juru bicara Gerakan Perempuan Sulawesi Tengah, Dewi Rana, mengatakan, maraknya kasus kekerasan tersebut karena kondisi pengungsian yang tidak ramah terhadap perempuan. Antara lain tidak ada pemisahan toilet laki-laki dan perempuan, penerangan yang minim, dan penjagaan keamanan yang belum terkelola dengan baik.

Penulis : Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini