Paramita, Wanita Penyintas Tegar Menjalani Takdirnya

0
1641
foto: Josua Marunduh DI ATAS KURSI RODA - Paramita tegar meniti jalan takdir

TRAGEDI kemanusiaan September 2018 telah 21 bulan berlalu. Perlahan dan pasti, warga mulai mencari jalannya sendiri sendiri. Beradaptasi dengan keadaan. Sebagian bahkan mampu recovery dan menjalani kehidupannya dengan baik-baik saja.

Di tengah kegembiraan ribuan penyintas menerima  dana stimulan untuk memperbaiki rumah-rumah mereka. Atau senyum semringah penyintas menikmati hunian teduh sumbangan Yayasan Budha Tzu Chi, ada pemandangan menyesakkan.

Seorang ibu di Lorong Sukur – Jalan Sungai Manonda – Kelurahan Duyu. Tulang belakangnya remuk dihantam beton. Separuh tubuhnya tak berfungsi. Menjalani hari-harinya di atas kasur lusuh. Di sampingnya, berdiri tegap sang suami. Seorang buruh lepas, yang tak pernah berhenti mencintainya.

Paramita (29) seorang penyintas yang kurang beruntung. Ia bukan hanya tidak masuk dalam list penerima bantuan hunian tetap dan seabrek bantuan untuk para korban bencana di Palu. Nama keluarga ini pun, tidak ada dalam daftar warga yang mendapatkan hak-haknya sebagai korban bencana. Di era pandemi covid pun – dimana pemerintah mengalokasikan bantuan untuk warga terdampak pandemi, keluarga ini pun lagi-lagi terlewatkan.

Sang suami Abdul Gafur (32) bukannya apatis. Ia sudah bolak balik ke Pemerintah Kelurahan Duyu hingga ke Dinas Sosial Kota Palu, untuk mengklaim hak-haknya sebagai warga. Hasilnya nihil. Ia pernah ke Kantor Kelurahan Duyu dengan berbekal surat pengantar dari Ketua RT 4. Di sana Gafur ditanya masih harus tanya, apakah penduduk di Kelurahan Duyu atau bukan.

Setelah meyakinkan sebagai warga Kelurahan Duyu, Gafur mengaku disuruh kembali ke rumah. Ia dijanjikan akan didatangi oleh petugas kelurahan disertai pernyataan yang membuat dirinya dibayangi keraguan. ”Tunggu saja di rumah. Tapi jangan berharap,” ungkap Gafur menirukan pernyataan petugas kelurahan tersebut.

Beberapa waktu berselang, petugas kelurahan datang di kediamannya. Sempat disuruh mengisi formulir. Setelah itu, tak ada lagi kabarnya. Sampai hari ini.

Mentok di Pemerintah Kelurahan. Gafur dan istrinya berharap ada jalan keluar lain. Gafur menyasar Dinas Sosial Kota Palu. Di instansi ini, sempat terbetik harapan. Perjuangannya bakal membuahkan hasil. Di benaknya, Dinas Sosial adalah lembaga yang mengemban amanah menangani orang-orang seperti dirinya.

”Setidaknya kali ini berhasil,” ujarnya membatin.

Di sana, ia memasukan berkas di meja salah satu petugas. Berkasnya diterima. Dijanjikan pula bakal disurvei. Namun petugas yang berjanji itu, atau timnya, tak kunjung mendatangi kediamannya. Gafur tak patah semangat. Ia datang lagi kedua kalinya. Namun disuruh balik ke RT untuk mengambil surat pengantar. Lagi-lagi mentok.

”Jalurnya sudah saya diikuti. Tetap tidak ada. Ke kelurahan lagi, masih dengan kata kata yang sama. Jangan berharap,” curhat Gafur kepada wartawan di kediamannya, Rabu 1 Juli 2020.

 

foto: Josua Marunduh
DIKAWAL SUAMI – Gafur, sang suami tak pernah berhenti mengalirkan energi dan cintanya untuk istri

Di era pandemi covid 19, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp600 untuk keluarga terdampak wabah global ini. Lagi-lagi Gafur dan keluarganya tak masuk dalam daftar penerima bantuan ini.

Tapi dapur harus tetap mengepul. Bantuan pemerintah yang diharapkan bisa mengatasi kesulitan sesaat, pun tak kunjung ada. Pria berperawakan sedang ini, kembali mengandalkan order harian sebagai buruh bangunan yang tidak setiap hari datang. Upahnya Rp80 ribu per hari.

Beruntung, akhir-akhir ini order kerja datang nyaris tanpa henti. Kesibukan rehabilitas rumah sedang memuncak – berbarengan dengan mengucurnya dana stimulan di Kota Palu.

Kemarin, saat wartawan menyambangi kediamannya, Gafur sedang bekerja di rumah tidak jauh dari kosnya. Anak sulungnya Agung(7) berlari kecil memanggil ayahnya. Seketika Gafur datang, bajunya bercak air semen. Masuk ke rumah, membopong tubuh istri, menaikkannya di atas kursi roda, lalu mendorongnya ke ruang tamu. Di sana, ia menemani istrinya melayani wawancara.

Di sela-sela wawancara, teleponnya berdering. Dari kejauhan seseorang mengabarkan mobil pengangkut semen sudah datang. Gafur pamit sebentar berlari kecil ke tempat kerjanya. Tak berapa lama balik lagi menemani istrinya melayani wawancara.

*

Paramita seorang perempuan muda dengan dua anak. Sulung bernama Agung (7) dan bungsu bernama Lufiah (6). Berhasrat membina keluarga sakinah. Karena itu, saat masih tinggal di rumah kakaknya di BTN Puskud, Kelurahan Palupi, Mita berhenti sebagai karyawan di salah satu usaha jasa binatu. Perhatiannya dicurahkan pada dua bocah berusia, sulung 5 tahun dan bungsu 4 tahun. Untuk menopang hidupnya, Mita menggantungkan hidupnya dari kiriman suami yang bekerja sebagai buruh nun jauh di sana di Kalimantan. Hari hari dijalani dengan indah.

Hingga tibalah hari naas itu. Hari yang kelak membuat dirinya harus tergeletak di atas tempat tidur. Yang untuk ke kamar kecil saja butuh topangan dari orang lain. Yang untuk baring dan bangun pun memerlukan tenaga orang lain.

Sore menjelang magrib Jumat 28 September 2018, Mita dan dua anaknya sedang bercengkerama di kamar. Tiba tiba terjadi gonvangan hebat. Sambil menggendong anak perempuannya, Mita berlari ke arah dapur. Sial, di dapur ia dihajar dinding beton yang mengenai tulang belakangnya. Runtuhan berikutnya menimpa lengan kirinya. Mita menyingsingkan lengan baju memperlihatkan pangkal lengan yang bentuknya tampak tak lagi sempurna itu.

Dalam himpitan material, ia merasa kesulitan bernapas. Namun tetap sadar. Berteriak minta tolong. Seketika datang pertolongan dari kerabat. Ia dan anaknya dibawa ke lapangan Taman Kota Doyota Puskud. Saat itu Mita sadar tangannya patah. Namun tidak ada tindakan medis.

Semalam di lapangan kemudian pindah ke Kelurahan Duyu – Kecamatan Ulujadi. Hari ketiga, saat di pengungsian di Duyu, ia dan anaknya ditemukan aparat TNI. Tentara menawarkan agar dirawat di RSUD Wahidin Makassar. Semalam di rumah sakit, berbekal surat rujukan dari rumah sakit tentara itu, Mita dan dua anaknya serta adik perempuannya terbang menuju Makassar menggunakan Pesawat Hercules. Pertemuan dengan suaminya terjadi di Makassar.

Di RSUD Makassar ia ditangani dengan baik oleh dokter di rumah sakit itu. Selama dirawawat, dokter tidak memberi jaminan apakah sakitnya bisa disembuhkan atau tidak. Hanya diberitahukan tulang belakangnya patah. Syaraf terjepit.

”Kaki saya seperti tidak connect dengan tubuh saya, mungkin karena syarafnya terjepit,” ucap Mita sembari menatap kaki-kakinya yang tampak terus mengecil. Dokter menyarankan menjalani terapi. Dua bulan tergolek di RS Wahidin, ia disarankan rawat jalan. Rawat jalan dijalani di Makassar, selama 4 bulan.

Total Mita dan keluarganya menghabiskan 6 bulan di Makassar. Untuk menopang biaya hidup selama rawat jalan, bantuan dari warga setempat dan organisasi kemanusiaan luar negeri. Namun bantuan bantuan tak seterusnya mengalir. Selebihnya, diambil dari uangnya hasil bekerja di Kalimantan.

Enam bulan di Makassar uang simpanan makin menipis. Tanda-tanda perbaikan tak kunjung terlihat. Pilihan terbaik adalah kembali ke Palu. ”Bulan Mei kami pilih pulang,” rinci Mita. Bahkan pemasangan gips dan pen dilakukan di Palu.

Setiba di Palu, cobaan lain mulai mengadang. Rumah kakaknya di BTN Puskud tak bisa ditempati. Luluhlantak dihantam gempa. Kala itu, masih berlaku kebijakan Pemkot Palu, warga seperti Gafur dan Mita ini, tidak bisa mendapatkan huntara. Karena statusnya yang mengontrak.

Pilihan paling masuk akal adalah mencari kos. Sambil terus berjibaku mencari bantuan yang tak kunjung ada. Mengandalkan pekerjaan sebagai buruh harian, Gafur terus membatin. Mencoba meyakinkan dirinya. Sekali kelak nasib baik akan berpihak pada orang-orang seperti dirinya. Keyakinan yang sampai hari ini belum benar-benar didapatinya.


f-yardin
BERSAMA BUAH HATI– Paramita, penyintas bencana yang tak pernah mendapat bantuan untuk korban bencana bersama Lufiah anaknya dan suaminya yang terus memegangi kursi roda, di kediamannya, Kamis 1 Juli 2020

Di kos berkelir hijau yang harus ditebus Rp500 setiap bulan, dua anaknya bermain main. Mereka tampak tak kehilangan kecerian.  Berlarian di halaman yang di sisi kanannya tampak hijau tanaman sawi dan seledri yang diantarai gemericik air. Sesekali dua kakak beradik menghilang di balik pintu. Bergantian menjenguk sang ibu yang tergeletak di kamar.

Ayahnya, Gafur berangkat kerja pukul 07.00. Sejam sebelum berangkat, Gafur mengaku sudah sibuk di dapur. Menyiapkan sarapan pagi untuk istri dan anaknya. Sesekali jika tak sempat, membeli sayur matang di warung. Rutinitas yang terus dilakukannya saban hari. Kembali dari kerja paling lambat pukul 17.00. Sepanjang wawancara, si bungsu Lufiah terus menggelayut manja di samping kursi roda ibunya. Ditanya cita-citanya, Fia yang tahun ini masuk TK bercita-cita menjadi dokter.

*
Di atas kursi roda, Mita tampak tegar menjalani hari harinya.

Simak pernyataannya ini.

”Bisa keluar dari himpitan beton saja sudah syukur. Banyak orang yang mau selamat seperti saya tapi tidak punya kesempatan. Di luar sana banyak kehilangan nyawa. Ada yang hilang tak pernah kembali. Sedangkan saya, hanya kehilangan fungsi separuh tubuh”.

Penulis: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini