Pakar Jepang: Tanggul Perlu Dikombinasikan dengan RTH

0
157

PALU – Pakar perencanaan kota dari Universitas Kanazawa, Jepang, Profesor Zhen-jiang Shen menyebut, rencana pembangunan tanggul penahan tsunami di pesisir Teluk Palu, yang diwacanakan oleh pemerintah pusat, sebaiknya dikombinasikan dengan perencanaan ruang terbuka hijau (RTH) di sekitarnya. Menurutnya, polemik tentang pembangunan tanggul ini, juga pernah dialami oleh Jepang.

Profesor Zhen-jiang, yang ditemui di sela-sela pelaksanaan International Conference on Urban Disaster Resilience (ICUDR), yang dilaksanakan oleh Fakultas Teknik Universitas Tadulako (Untad), Kamis (25/4/2019), menjelaskan, sebelum bencana gempa bumi dan tsunami di Tohoku tahun 2011, Pemerintah Jepang sudah memiliki standar untuk membangun dinding penghalang tsunami setinggi 6 – 8 meter dan ini sudahberlangsung selama kurang lebih seratus tahun.

Namun kata dia, saat tsunami 2011 terjadi, ketinggian tsunami hingga mencapai 9 meter.

“Dengan kejadian itu, pemerintah merevisi standar dinding penahan tsunaminya hingga 15 meter. Tapi itu jadi masalah di sana, karena ada yang mengusulkan solusi lain, seperti landscape atau membuat tempat untuk ketika air yang datang, air terkumpul di titik tersebut, tidak langsung ke pemukiman,” jelasnya.

Profesor Zhen-jiang menyebutkan, pertimbangannya hingga ada usulan lain selain dinding tersebut, adalah pada saat membangun dinding, akan mengganggu bagi masyarakat, utamanya jarak pandang dan keindahan pantai itu sendiri.

“Ada juga solusi lainnya seperti relokasi, namun kasus di lapangan, walaupun konturnya bergunung-gunung, tapi karena banyaknya orang yang bermukim di pantai, proses relokasi bisa menjadi masalah,” ujarnya.


Adapun penyelesaian yang dilakukan kata dia, adalah membuat taman (RTH) bagi publik di sekitar lokais tanggul. Namun untuk Palu, hal ini kata dia, tergantung kebijakan pemerintahnya.

“Harus ada penyesuaian dengan kondisi lingkungan dan sosial di masyarakat),” ujarnya.
Terkait rencana sejumlah pihak, terutama pemerhati lingkungan di Palu untuk menolak pembangunan tanggul dan menggantinya dengan menanami pesisir teluk palu dengan mangrove, Profesor Zhen-jiang menjelaskan, biasanya walaupun sudah ada mangrove, jika misalnya tsunaminya tinggi, mangrove hanya menghalangi, tapi tidak bisa menghilangkan tsunami.
“Sebaiknya dikombinasikan antara tanggul dan RTH.

Untuk mangrove sendiri, menurut saya belum bisa meredam tsunami berskala besar. Pemerintah Jepang sendiri merevisi tanggul/dinding penahan tsunaminya hingga 15 meter, dengan kombinasi landscape,” jelasnya. ***

Penulis : Jefrian
Foto: Jefri & Yardin
Editor: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini