Pakar: Gempa Bumi Bukan Pembunuh

0
433
SEMINAR - Profesor geosains dari Brigham Young University, Amerika Serikat, Ronald Albert Harris, saat menjadi narasumber pada Seminar Internasional Geologi dengan tema Disasters Adaptation Readiness In The 20-10-20 Scheme, Rabu (27/11/2019), di Aula FUAD IAIN Palu. FOTO: JEFRI

PALU – Pembangunan kembali di daerah terdampak bencana 28 September 2018, seperti Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala, perlu memperhatikan aspek keamanan dan kekuatan bangunan. Hal ini perlu dilakukan, agar pemerintah maupun masyarakat di daerah tersebut, tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Demikian dikatakan profesor geosains dari Brigham Young University, Amerika Serikat, Ronald Albert Harris, saat menjadi narasumber pada Seminar Internasional Geologi dengan tema Disasters Adaptation Readiness In The 20-10-20 Scheme, Rabu (27/11/2019), di Aula FUAD IAIN Palu.

Menurut Prof. Harris, kerusakan parah bangunan pada bencana 28 September 2018 lalu, diakibatkan oleh endapan sedimen yang menjadi pembentuk dari sebagian besar daratan di lembah Palu, Sigi, maupun Donggala. Dengan fakta bahwa sebagian besar jenis tanah di wilayah-wilayah tersebut merupakan endapan sedimen, getaran gempa akan sangat teramplifikasi di dataran dengan jenis tanah tersebut, yang mengakibatkan kerusakan bangunan yang berdiri di atasnya meningkat.

Dengan kenyataan tersebut, Prof. Harris menganjurkan agar bangunan yang dibangun pascabencana harus lebih kokoh, karena bukan gempa bumi yang membunuh, tapi reruntuhan bangunan yang jatuh menimpa penghuninya. Dirinya juga melihat, kerusakan bangunan saat terjadi bencana, terjadi karena beberapa masalah bangunan di Indonesia, seperti izin mendirikan bangunan (IMB) yang tidak melihat aspek bencana, tidak adanya inspeksi bangunan berlantai lebih dari satu, praktek pengecoran beton kurang sempurna, tulang beton terlalu kecil, hingga kurangnya pelatihan untuk tukang.

Menurut Prof. Harris, pemerintah seharusnya mengevaluasi bangunan menggunakan check list BNPB. Selain itu masyarakat juga dapat menggunakan bahan bangunan yang tahan gempa, seperti kayu dan bambu. “Jangan mengulangi kesalahan yang sama dalam membangun,” ujarnya. ***

Penulis    : Jefrianto
Editor      : Yardin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini