Normalisasi Sungai Bukan Solusi Tepat Banjir Rob di Sirenja

0
391
TERGENANG - Banjir rob yang menggenangi wilayah Desa Tanjung Padang, Kecamatan Sirenja, Sabtu (11/1/2020) sore. (FOTO - FERY EL SHIRINJA)

DONGGALA – Wacana normalisasi sungai sebagai upaya penanganan awal banjir rob di Kecamatan Sirenja, mendapat tanggapan dari sejumlah ahli. Langkah tersebut, dinilai kurang efektif dalam mengatasi banjir rob.

Pengamat kebencanaan dari Universitas Tadulako (Untad), Drs. Abdullah, MT, mengatakan, normalisasi sungai adalah pengerukan dasar aliran sungai, yang telah mengalami pendangkalan. Sungai yang dangkal kata dia, daya tampung airnya menjadi kecil, sehingga setiap terjadi hujan deras di hulu, maka sungai tersebut akan meluap dan membanjiri sekitarnya.

“Jadi, normalisasi sungai adalah upaya menekan banjir yang airnya berasal dari arah hulu (daratan), bukan air yang datang dari arah laut,” ujarnya.
Rob Akibat Downlift

Banjir rob yang terjadi di Kecamatan Sirenja kata Abdullah, terjadi akibat penurunan muka tanah (downlift). Fenomena downlift ini kata dia, terdeteksi sekitar dua minggu pascabencana, sekitar tanggal 10 Oktober.

Bencana downlift tersebut kata dia, terdeteksi ketika air laut pasang, sehingga daratan yang dulunya tidak tergenang air laut ketika air laut pasang, pasca gempa daratan tersebut tergenang, ketika air laut pasang dan disebut banjir rob.

“Awalnya, ada beberapa desa di Kecamatan Sirenja yang terdeteksi mengalami downlift, yakni Lende Tovea, Lende, Lompio, Tompe, Balentuma, Tanjung Padang, Dampal dan Tondo. Namun, ketika terjadi pasang air laut yang lebih tinggi pada minggu kedua Januari 2020 dan disertai gelombang besar, genangan air laut ke daratan semakin luas dan daratan sekitar pantai Desa Ujumbou juga tergenang,” jelasnya.

Rob di wilayah tersebut menurut Abdullah, terjadi 2 periode setiap bulan, masing-masing sekitar 6 hari, pada sore – hingga malam hari. Biasa juga terjadi pada pagi hari. Rob tersebut berdampak besar di wilayah yang mengalami downlift. Ratusan hektare sawah dan kebun telah rusak, terutama di Tompe, Lompio dan Dampal. Bangunan termasuk rumah warga dan infrastruktur yang tidak dirusak oleh gempa dan tsunami, juga menjadi rusak. Sanitasi lingkungan juga rusak.

Ketika rob terjadi, maka air got yang kotor akan bercampur dengan air rob. Demikian pula, isi septic tank juga bercampur dengan air rob tersebut. Dalam jangka panjang, hal ini akan berdampak terhadap warga yang hidup di wilayah tersebut. Selain itu, transportasi darat juga terganggu, terutama pada ruas jalan antara Tompe – Lompio, yang merupakan jalur Trans Sulawesi yang menghubungkan Palu – Tolitoli – Buol – Gorontalo.

Wilayah yang mengalami downlift menurut Abdullah, bisa permanen pada posisinya yang sekarang, juga bisa pulih seperti semula, jika mengalami uplift (peninggian kembali). Gempa Tambu 1968 kata dia, menyebabkan Kampung Lembu (pusat Desa Kambayang, Kecamatan Dampelas) mengalami downlift yang permanen, dan sejak itu, kampung tersebut menjadi dasar laut hingga sekarang.

Gempa Tambu 1968 juga menyebabkan wilayah pantai Dusun Malino (sekarang Desa Malino, Kecamatan Balaesang) mengalami downlift dan tergenang ketika air laut pasang. Tetapi wilayah pantai dusun ini mengalami uplift kembali, sehingga 4 bulan setelah gempa tersebut, wilayah pantai tersebut tidak lagi tergenang, atau tidak lagi mengalami rob, ketika air laut pasang, hingga sekarang.

Tanggul: Solusi Jangka Panjang

Untuk mengatasi banjir rob tersebut, Abdullah mencontohkan cara yang dilakukan Pemda DKI Jakarta untuk mengatasi rob di Jakarta Utara, yakni dengan membangun tanggul beton di sepanjang pantai. Kemudian, pada beberapa tempat tertentu dipasang pompa air, yang berfungsi menyedot air rob untuk ditumpahkan ulang ke laut.

Hal ini kata dia, bisa diterapkan untuk mengatasi rob di Kecamatan Sirenja. Tetapi, harganya mahal, karena harus membangun tanggul beton, antara Ujumbou sampai Lende dan menyiapkan puluhan pompa air untuk menyedot air rob tersebut.

“Harus tanggul beton, karena kalau tanggulnya hanya dari tumpukan batu gajah misalnya, maka air laut akan tetap masuk ke darat lewat celah-celah batu tersebut dan daratan akan tetap tergenang,” ujarnya.
Namun secara pribadi kata Abdullah, dirinya tidak setuju kalau banjir rob diatasi dengan cara seperti yang dilakukan di Jakarta Utara. Menurutnya, selain karena biaya pembangunannya mahal, yang tidak mungkin bisa didanai oleh APBD Donggala, biaya operasionalnya juga akan mahal, karena butuh BBM, perawatan dan tenaga operator mesin pompa.

Kawasan Lindung: Solusi Tepat dan Murah

Dirinya menyarankan solusi yang biayanya lebih murah, yang memungkinkan APBD untuk membiayainya, yakni wilayah downlift tersebut dijadikan kawasan lindung, dan warga direlokasi, terutama yang jarak rumahnya kurang dari 100 m dari pantai sampai 300 m dari pantai, untuk Dusun I dan Dusun III Desa Tompe.
Kemudian, untuk menjaga garis pantai tidak mundur ke arah darat, pantainya ditanggul dengan tumpukan batu gajah, yang dikombinasi dengan vegetasi mangrove, agar ekosistem pantai dan laut tetap terhubung. Ruas jalan antara Tompe – Lompio ditinggikan dengan cara yang biasa, yang tentu biayanya lebih murah dibanding membuat jalan baru, yang biayanya pasti lebih mahal.

Penanganan Rob Butuh Kajian Serius

Sementara itu, peneliti Balai Pengkajian dan Penerapan Tenologi (BPPT), Dr. Widjo Kongko mengatakan, pasca bencana 28 September 2018, Palu, Donggala dan sekitarnya, daratannya mengalami penurunan dan penaikan. Namun hal ini perlu diukur ulang datum-datumnya “Zona pesisirnya ambles, rawan banjir dan rob, serta perlu dipetakan. Adapun solusi praktis dan adaptif yang dapat dilakukan yakni relokasi,” ujarnya.

Adapun menurut Widjo Kongko, untuk penanganan banjir rob, perlu dilakukan kajian yang konperehensif dan detil, karena semua pendekatan ada plus minus dan pro kontranya. Normalisasi dan tanggul kata dia, akan mahal dan berdampak lingkungan. “Jika banjir/pasang rob tidak terlalu masif, mengatur tata ruang dan greenbelt (sabuk hijau), bisa jadi solusi,” ujarnya.***

Penulis  : Jefrianto
Editor    : Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini