Nestapa di Huntara Posko 4 Petobo

0
503

PALU – Salah satu hunian sementara (huntara) Posko 4 Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah, kondisinya kian memprihatinkan.

Huntara yang memiliki 100 bilik ini, merupakan bantuan pemerintah Jawa Tengah pascabencana 28 September 2018 silam. Bantuan huntara yang di serahkan langsung oleh Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo kini mulai banyak yang rusak bahkan tidak lagi layak di huni.

Meski demikian, 82 kepala keluarga atau 700 jiwa tetap bertahan di huntara itu karena tidak memiliki pilihan lain.

Sri Mulya (34) penghuni huntara Posko 4 menceritakan, tiga bulan pasca penyerahan oleh Ganjar Pranowo mereka mendapatkan sejumlah bantuan termasuk penyediaan fasilitas pendukung berupa air bersih, MCK dan sanitasi.

Namun setelah itu, kata dia, tidak ada lagi bantuan baik dari pemerintah kecamatan, kota maupun provinsi. Kondisi material bilik yang telah termakan usia membuatnya bersama warga harus memperbaikinya secara mandiri.

“Sisa material bangunan likuefaksi jadi pilihan kami untuk memperbaiki bilik berukuran 3 x 4 meter yang kami huni,” ujarnya.

Persoalan lain yang harus dihadapinya, ketika musim penghujan datang, air hujan masuk hingga ke dalam bilik menyebabkan sejumlah perabot serta pakaian dan alas tidur mereka ikut basah.

Di huntara ini seluruh lantainya masih tanah, sehingga saat hujan melanda bukan hanya air yang masuk kedalam bilik tapi, sejumlah binatang seperti kaki seribu, kecoa hingga ulat serta cacing bermunculan.

“Untuk mengantisipasi itu, kami sudah membuat parit di sekitar bilik tapi karena kondisi lantai masih tanah maka air tetap merembes, huntara kami ini seperti diabaikan pemerintah,” katanya sembari memperlihatkan biliknya yang sempit.

Senada Mariana warga huntara itu, menceritakan, untuk pemenuhan air bersih di tempat itu warga terpaksa patungan untuk membeli bahan bakar solar yang digunakan untuk mesin pompa air.

Hanya saja kata dia, banyak warga yang kemudian tidak bisa berpartisipasi dengan alasan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Air dari tangki yang dipasok pemerintah katanya, tidak mencukupi. Bahkan, hanya mengisi tiga bak penampungan. Padahal, ada sekitar 701 jiwa yang membutuhkan air untuk masak, mencuci dan mandi.

“Mau minta patungan beli solar biasanya warga bilang belum ada uang, jadi mau gimana lagi terpaksa kita yang memiliki kelebihan yang menalanginya,”tuturnya.

Ia berharap pemerintah memperhatikan warga yang tinggal di huntara. “Jangan biarkan kami hidup seperti ini,” harap Mariana.

Melan warga lainnya menambahkan, huntara yang di tinggalinya itu pada awalnya di peruntukan bagi keluarga yang memiliki bayi, balita, lanjut usia (lansia) serta ibu hamil. Sehingga konsepnya harus mengedepankan kelompok penerima.

Namun, sejak di serahkan tidak ada perubahan sama sekali. Bahkan saat ini kondisinya sangat tidak layak bagi kelompok penerima dengan kriteria diatas.

“Tidak usah kita bicara fasilitas dan sebagainya, lihat saja kondisi lantai bilik ini. Sejak di serahkan sampai sekarang tidak ada yang berubah masih tetap lantai tanah. Jelas ini tidak layak di tinggali baik oleh ibu hamil, lansia, apalagi bayi,” keluh Melan.

Ketiga perempuan ini berharap pemerintah memberi perhatian kepada mereka yang tinggal di huntara posko 4. Mereka juga menginginkan pemerintah memberikan pelatihan berkaitan dengan pemberdayaan.

Sehingga, mereka dapat memiliki keterampilan yang kemudian bisa membantu meningkatkan perekonomian keluarga.

Mereka sepakat di berikan pelatihan mengenai tata boga termasuk adanya pemberian modal dan peralatan kerja agar bisa langsung di gunakan untuk membuka usaha.

Bagi penghuni lelaki, berharap agar ada pemberdayaan yang bisa diberikan kepada mereka seperti keterampilan beternak. Pasalnya banyak para penghuni di huntara ini keseharian bekerja sebagai pengembala ternak.

Reporter/Video : Iwan K Basir
Editor                 : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini