Nenek Engkia, Penyintas yang Enggan Bergantung dari Orang Lain

0
176
Keterangan: Nenek Engkia memegang cangkul bersiap turun kembali di kebun

KULAWI – Seribu orang seribu cerita. Setiap orang selalu punya cerita tentang bencana dahsyat, September tahun lalu. Kali ini, cerita datang dari Nenek Engkia (75). Seorang nenek yang tinggal di Dusun II Desa Boladongko di Kecamatan Kulawi.

Nenek Engkia adalah salah satu penyintas di kampungnya. Rumahnya rata dengan tanah, tak kuat menahan guncangan gempa dengan magnitudo 7,4 itu. Beruntung, Nenek Engkia bisa menyelamatkan diri dan melanjutkan kehidupannya di usia senjanya kini.

Pada kondisi yang tak muda lagi itu, Nenek Engkia masih harus berjuang memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Saban hari, hari-harinya dihabiskannya di kebunnya. Menggenggam cangkul yang terlihat tak lagi sepadan tubuhnya yang terus digerogoti usia, ia berkeliling kebun dan terus mengayun cangkul. Sekali dua kali mengayun cangkul, ia berhenti sesaat menghela napas.

Ia menyadari energinya sudah jauh menyusut, tak sekuat 30 atau 40 tahun lalu. Ia juga tak hirau sengatan matahari yang tak kenal ampun menghunjam kulitnya. Namun dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan tak mau menggantungkan hidupnya pada orang lain, membuat ia mengabaikan tenaga yang makin melemah dan paparan ganas sinar matahari yang memanggang kulitnya.

‘’Ini saya tanam rica (cabai) dan jagung,’’ kata Engkia ketika ditemui Kareba Palu Koro – media yang dikelola ERCB, di sela kegiatannya menggarap kebun.

Nenek Engkia mengaku tak suka berdiam diri. Ketika tak melakukan aktivitas dia bisa menjadi sakit. Itulah alasan mengapa dia tetap menggarap kebun, meski tenaganya tak lagi bisa diajak kompromi. “Lebih baik bekerja begini. Ada hasilnya. Badan juga terasa sehat dan segar. Dengan begini juga, saya tidak perlu membeli cabai dan jagung, tinggal ambil dari kebun,” katanya.

Hasilnya kebunnya aku Nenek Engkia, cukup untuk memenuhi kebutuhan dua orang anak dan tiga cucu yang tinggal bersamanya. Kebetulan anaknya juga mempunyai penghasilan dari kebunnya. Dan bisa saling menutupi kebutuhan di dalam rumah.

Pascagempa ia dan keluarganya, kerap mendapatkan bantuan beras. Namun bantuan itu tak setiap waktu. Karenanya ia harus terus berkebun untuk menjamin persediaan makanan terus terjaga. Ia enggan menggantungkan hidupnya dari orang lain.

Nenek Engkia sebenarnya tak hidup sebatang kara. Ia memiliki 7 orang anak. Empat di antaranya laki-laki. Salah satunya sudah meninggal. Suaminya meninggal tiga tahun yang lalu.

Namun untuk kebutuhan hidupnya, ia memilih tidak bergantung pada orang lain. Salah satunya dengan menggarap kebun, menanam palawija. Hasilnya selain untuk memenuhi kebutuhan pangan di rumahnya.

Kini, rumahnya telah berdiri kembali. Berkat bantuan kerabat di kampungnya. Ia bersyukur, rumah ‘’barunya’’ walau menggunakan material bekas, bukan berbahan beton. Gempa dahsyat member pelajaran bagi Nenek Engkia untuk menggunakan material ramah gempa.

Penulis: Yardin Hasan
Sumber: Rilis ERCB
Foto: Martin Dody/ERCB

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini