Mitigasi Bencana Melalui Bahasa Gambar

0
358
MELIHAT GAMBAR – Seorang anak perempuan melihat gambar yang menceritakan dampak tsunami dan liquefaksi pada pameran di Museum Sulteng , Jalan Kemiri, kelurahan Kamonji, kecamatan Palu Barat, Kota Palu

Mitigasi Bencana Melalui Bahasa Gambar

 

PALU –  Kesadaran untuk melakukan mitigasi bencana terus bertumbuh. Baik yang dilakukan pemerintah, kelompok bahkan perorangan.   Seperti yang terlihat, pada Sabtu 5 Oktober 2019,  sekitar pukul 07.00 Wita,  sekelompok anak-anak sampai dewasa terlihat berkumpul, bergerombol depan museum Sulteng, jalan Kemiri, kelurahan Kamonji, kecamatan Palu Barat, Kota Palu.

Mereka datang dari berbagai sekolah, mulai tingkat pendidikan anak usia duni (PAUD) sampai perguruan tinggi yang ada di kota Palu dan sekitarnya, ingin berkunjung melihat secara dekat pameran khusus, ” Sejarah alam dan kebencanaan di Sulteng, mengangkat tema, ” Mitigasi bencana berbasis kearifan lokal, ” di selenggarakan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  UPT Taman Budaya dan Museum Sulteng, mulai Kamis (3/10) sampai Selasa (8/10).

PENDIDIKAN BENCANA – Anak-anak sekolah dasar mengamati gambar bertema bencana di museum Sulteng, jalan Kemiri, kelurahan Kamonji, kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sabtu 5 Oktober 2019

Meski ruang pameran belum di buka, para siswa sekolah terdiri dari 10-20 orang dengan guru pembimbingnya sudah terlihat antusias antrian depan ruang pameran  untuk masuk. Setelah jam telah ditentukan dan di perbolehkan petugas masuk, mereka serentak masuk ke dalam ruang pameran.  Dalam ruang pameran ini tidak terlalu banyak benda-benda dipamerkan.

Ruang pameran seluas 16 meter X 14 meter di dekorasi sedemikian rupa, pada dinding-dinding dipasang tulisan pengetahuan berupa proses terjadi bencana gempa, angin topan, tanah longsor, likuefaksi, tsunami dan peta titik-titik gunung berapi di Indonesia maupun beberapa istilah bahasa lokal (Lore, Kulawi, Kaili) terkait bencana alam, linu/lingu = gempa bumi, bomba talu= tsunami, nalodo/halodo = likuefaksi, natura= tanah longsor, naombo= runtuh, natoyo=tepian pantai runtuh. Di tengah ruangan di taruh benda-benda keramik jaman dulu yang rusak akibat gempa, kini telah direstorasi kembali Unesco.

Memasuki ruang pameran ada dua petugas UPT Taman Budaya dan Museum di tempatkan bertugas guna menjelaskan kepada pengunjung, terkait benda-benda di pamerkan maupun pengetahun sejarah kebencanaan di Indonesia, khususnya Sulteng.

Seksi Pemanfaatan dan edukasi, UPT Taman Budaya dan Museum, Sabtu (5/10), Latif  mengatakan, pameran khusus ini bertujuan, mengingatkan anak-anak, agar berhati-hati ketika ada gempa, ada petunjuk cara evakuasi guna menyelamatkan diri. Selain itu, mengenalkan sejarah  literasi kebencanan di Indonesia, khususnya Sulteng kepada anak-anak sejak usia dini, agar bertambah pengetahuannya terkait kebencanaan.  ‘’Bukan hanya bencana gempa, tapi bencana lainya seperti tsunami, likuefaksi dan letusan gunung berapi, ” ujar Latif.

 

Dia mengatakan, dalam kesempatan pameran khusus ini, kami memamerkan keramik-keramik peninggalan sejarah masa lampau, rusak paska gempa, kini telah direstorasi atas bantuan Unesco dilakukan orang Jepang dan 2 orang museum Nasional. “Saat ini belum selesai semua direstorasi, sebab ada  ratusan keramik rusak, ” katanya. Guru sejarah SMA 6 Palu, Jein Feybe mengatakan, membawa sekitar 20 siswa-siswinya, guna mengenalkan sejarah terjadinya peristiwa kegempaan di Indonesia, ksususnya Sulteng. Hal ini dilakukan guna menambah wawasan pengetahuan kepada anak didiknya. “lebih menambah wawasan anak-anak terkait bencana  kegempaan  di Indonesia,” katanya.

 

Siswa SMA 6 Palu, Amira, mengaku, adanya kunjungan ke museum, menambah pengetahuanya terkait sejarah terjadinya kegempaan, bukan hanya di Indonesia tapi dunia, lebih khusus Sulteng. “Kunjungan ini sangat menarik, sebab dari yang belum kita tahu tentang bencana, akhirnya tahu, ” ucap Amira, turut diamini sesama rekanya Desi Arini.

Dalam pameran khusus tersebut, berbagai barang-barang peninggalan gempa, tsunami dan likuefaksi 28 September silam seperti album foto, sepatu dan benda lainya turut dipamerkan. Pameran dikunjungi dari berbagai sekolah mulai jenjang pendidikan anak usia dini  sampai tingkat Perguruan Tinggi. ***

 

Penulis  :  Ikram

Foto      :  Ikram

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini