Mitigasi Bencana Harus Dimulai dari Diri Sendiri

0
313

PALU – Setiap orang yang tinggal di daerah bencana, seperti di Sulawesi Tengah, harus memiliki kemampuan untuk mengurangi risiko bencana (mitigasi). Kemampuan mitigasi personal ini selanjutnya cukup penting untuk menentukan mitigasi di tingkat keluarga dan komunitas lebih besar.

“Yang harus dipastikan pertama kali adalah meningkatkan kecakapan personal kita,” kata pemerhati isu kebencanaan, Muh Isnaeni Muhidin atau yang akrab disapa Neni Muhidin, dalam Focus Grup Discussion (FGD) yang dilaksanakan Kelompok Muda Peduli Hutan (Komiu) dan LBH Apik, di salah satu hotel di Kota Palu, Kamis (20/12/2018).

Menurut Neni, salah satu kecakapan diri sendiri adalah dengan menekan rasa panik saat bencana terjadi. Sebab dengan mengendalikan rasa panik, seseorang bisa bertindak lebih rasional untuk menyelamatkan diri saat bencana.

“Mereka yang selamat dari bencana 28 September lalu bisa jadi adalah mereka yang berhasil mengendalikan rasa panik,” kata penggiat literasi ini.

Setelah itu, seseorang bisa meningkatkan kemampuan mitigasi tersebut ke tingkat keluarga, RT, dusun hingga desa/kelurahan. Dalam lingkup keluarga dan lingkungan sendiri, model mitigasi yang tepat dilakukan adalah dengan membahas bersama jalur evakuasi dan titik kumpul yang aman saat bencana terjadi.

Menurut Neni, masyarakat cukup penting untuk membangun mitigasinya sendiri dan tidak perlu bergantung kepada pemerintah daerah atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Sebab pemda dan BPBD belum tentu memiliki sumber daya untuk membuat mitigasi dan peringatan dini yang lebih baik.

“Apalagi pemda juga tidak bisa menjangkau seluruh warga saat bencana terjadi,” kata dia.

Neni mencontohkan apa yang dilakukannya di Kelurahan Tipo. Bersama puluhan warga, Neni membantu merumuskan titik-titik jalur evakuasi ke arah dataran yang lebih tinggi dan menyepakati titik kumpul.

Penamaan jalur evakuasi dan titik kumpul tersebut harus didasarkan pada pengalaman dan memori kolektif masyarakat, dengan menggunakan nama lokal yang mudah dipahami. Seperti Dala Pangova untuk jalur evakuasi dan Nikasiromu untuk menandai titik kumpul yang dianggap aman.

Selama ini, masyarakat yang tinggal di dataran tinggi Sulawesi Tengah memiliki kesadaran lebih baik tentang mitigasi bencana, daripada warga yang tinggal di lembah Palu. Kesadaran lokal ini terbangun karena distribusi kesadaran bencana lewat tuturan masih terpelihara. Selain itu juga karena memori kolektif soal bencana yang masih melekat sehingga aspek personal seperti kecakapan diri telah terlatih.

Penulis: Jefrianto
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini