Mitigasi Bencana Diajarkan Sejak di Sekolah Dasar

0
408
Seorang guru di SDN Inpres Palupi, mengajarkan siswa-siswinya cara memberikan pertolongan pertama kepada temannya yang terluka saat terjadi bencana.

PALU – Wilayah Sulawesi Tengah rawan akan potensi bencana khususnya wilayah Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala), terutama bencana alam. Karena itu, mitigasi bencana sudah seharusnya diajarkan kepada masyarakat sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Hal inilah yang dilakukan Ansyar Sutiadi, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu.

Ia meluncurkan buku panduan dan bahan pembelajaran mitigasi bencana alam berbasis kearifan lokal terintegrasi dalam kurikulum 2013 sebagai pegangan seluruh tenaga pengajar di tingkat SD dan SMP se-Kota Palu.

Menurut Ansyar, buku yang disusun sejak bulan Oktober 2018 hingga disebarluaskan sejak tanggal 27 Juli 2019 adalah langkah awal dari proses yang panjang dan berkelanjutan, untuk menanamkan pengetahuan akan pentingnya mitigasi bencana alam, sejak di bangku SD dan seterusnya bagi wilayah Pasigala.

Penyusunan panduan mitigasi bencana, dilakukan selama sembilan bulan, di sela-sela itu, para kepala sekolah serta 25 orang guru dilatih mengenai sistem penerapan buku mitigasi, serta melakukan simulasi seperti yang tertuang dalam buku tersebut.

“Hal ini dilakukan agar mitigasi bencana dapat tersampaikan kepada seluruh siswa,” ucapnya.

Kata Ansyar, sekolah merupakan sarana dan sumber pendidikan sedari dini hingga masa depan anak kelak, maka dari itu, sudah seharusnya mengimplementasikan aspek yang berkaitan dengan keadaan alam sekitar.

“Buku ini jangan hanya dijadikan koleksi atau cuma sekadar dibaca saja, tetapi harus diimplementasikan kepada seluruh siswa-siswi calon penerus bangsa,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SD Negeri Inpres Palupi, Wariman, mengaku telah mengajarkan mitigasi bencana sebelum dan setelah terjadi bencana alam 28 September 2018.

“Implementasi mitigasi bencana di SDN Inpres Palupi alhamdulillah sudah berjalan dengan lancar, dan seluruh warga sekolah sudah memahami apa itu mitigasi bencana,” ujar Wariman

Kata dia, para siswa mendapat sosialisasi, edukasi pertolongan pertama, dan antisipasi bencana, khususnya gempabumi. Sosialisasi dilakukan agar murid-murid SD paham apa yang harus dilakukan jika sewaktu-waktu terjadi bencana.

Mereka bisa langsung melakukan upaya untuk menyelamatkan diri atau memberikan pertolongan pertama saat mereka terluka. “Minimal murid-murid SD ini paham, apa yang harus mereka lakukan jika sewaktu-waktu terjadi bencana,” ucapnya.

Seorang guru memegang velg mobil yang di jadikan bel dan juga berfungsi sebagai peringatan jika terjadi bencana.

Uniknya di sekolah ini menggunakan velg mobil sebagai alarm jika terjadi bencana. Pemilihan penggunaan bel peringatan keadaan darurat seperti bencana, lanjut Wariman adalah poin penting yang harus diperhatikan dan disepakati bersama.

Selain bel, lanjut Wariman, penataan ruang kelas siswa tak kalah penting dilakukan. Seperti posisi pintu harus terbuka lebar, posisi bangku dan meja sekolah juga harus ditata sesuai keamanan siswa.

Selain itu, ia membentuk tim peringatan dini bencana, tim pertolongan pertama, tim evakuasi, dan tim logistik juga menambah langkah komitmen dalam menyikapi upaya mitigasi bencana.

“Tak hanya guru maupun staf sekolah, siswa pun terlibat dalam tim tersebut. Tiap kelas masing-masing memiliki tiga siswa yang tergabung dalam tim itu,” kata Wariman.

Nur Indah, guru ekstrakurikuler SDN Inpres Palupi, juga berperan aktif mengembangkan pengurangan risiko bencana di sekolah sekaligus pembina pramuka ini, merasa sudah seharusnya upaya mitigasi bencana di sekolah dibudayakan dan dibiasakan.

Menurutnya, pemberian arah jalur evakuasi di dinding-dinding sekolah menggunakan cat permanen, serta dua titik kumpul di timur dan barat pun menghiasi upaya mitigasi bencana sekolah yang berada di tengah-tengah kompleks pemukiman warga Kelurahan Palupi, Kecamatan Tatanga, Kota Palu.

Sederet upaya mitigasi bencana yang dilakukan pihak SDN Inpres Palupi diatas diakui Wariman dan Nur Indah masih sebatas teori. Wariman mengatakan, kesiapan SDN Inpres Palupi baru sekitar 45 persen hal itu dianggap masih perlu ditingkatkan secara berkelanjutan.

Wariman mengaku, semua upaya mitigasi bencana yang telah diterapkan di sekolahnya sebagian besar diambil dari buku panduan dan bahan ajar mitigasi bencana alam.

“Buku panduan ini, membantu meningkatkan kapasitas para guru mengajarkan pengurangan risiko bencana di sekolah kami.” tutupnya.

Reporter : Mohammad Faiz Syafar
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini