Merintis Peternakan, Kurangi Pengangguran Usai Bencana (Bagian 2)

0
130

PALU — Punya keprihatinan yang sama akan masa depan penyintas, Isjal dan Nudin Lasahido bersepakat untuk berkolaborasi. Isjal menyediakan sebagian lahan pekarangan rumahnya dan peralatan pengolahan pakan ternak. Sementara Nudin bertugas menggalang dukungan dana serta mengorganisir pemuda setempat untuk ikut terlibat secara swadaya.

Isjal memilih ayam kampung super karena ayam jenis ini tidak membutuhkan perawatan yang rumit. Lahan yang dibutuhkan juga lebih fleksibel dengan masa panen yang relatif lebih singkat.

“Dua setengah bulan sudah bisa panen, rata-rata 1000 ons per ekor. Harganya di pasaran juga bagus,” kata Isjal.

Kendala yang dihadapi, kata Isjal, adalah bibit ayam yang harus didatangkan dari Surabaya. Sehingga jangka waktu pengiriman juga relatif lama yaitu sepekan. Selain itu, belum banyak jagung organik yang ditanam di Sulawesi Tengah. Padahal jagung menjadi bahan baku utama untuk pakan ternak.

Penggunaan pakan organik dinilai penting karena bisa menjaga kualitas daging dan harga. Selain itu, tentu saja lebih aman bagi kesehatan konsumen.

“Sulit memastikan jagung yang beredar di Sulawesi Tengah bebas dari penggunaan pupuk kimia,” katanya.

Rumah Belajar Ternak saat ini mampu memproduksi 500 kg pakan setiap harinya. Jumlah tersebut mampu memenuhi kebutuhan pakan untuk 600 ekor ayam ternak hingga masa panen tiba.

Untuk menjaga kelangsungan pakan, dia berencana akan menggunakan sebagian lahan pekarangan untuk membuka kebun jagung sendiri. Namun itu bergantung dengan modal yang didapat.

Tidak ingin berhenti di sini, Isjal dan Nudin berencana membuka Rumah Belajar Ternak di beberapa lokasi terdampak lainnya. Nudin juga berharap para penyintas bisa mengembangkan ternak ayam kampung super tersebut di tempat masing-masing.

“Meski ini dibangun secara swadaya, kami tetap berharap mendapat dukungan pemerintah, swasta maupun personal agar usaha peternakan para penyintas lebih berkembang,” kata Nudin berharap.

Reporter: Zainal Ishaq
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini