Mereka yang Menunggu Perbaikan Gedung Sekolah

0
298

PALU — Puluhan siswa berseragam Pramuka duduk di lantai beralaskan tikar dan karpet. Dengan tekun, mereka menyimak Kalsum menjelaskan tentang Pancasila. Sesekali mereka saling berebut menjawab pertanyaan dan menulis apa yang diterangkan Kalsum, di lembaran buku di atas meja.

Panas yang terik, menyelinap. Dengan hanya beratap terpal dan dinding bambu, membuat kelas makin gerah. Tapi, kondisi tersebut tak membuat para siswa kelas dua itu kehilangan antusiasme untuk belajar.

Itu adalah suasana belajar-mengajar di SDN Pengawu, Kecamatan Palu Tatanga, Kota Palu yang masih menggunakan kelas darurat, sembilan bulan pascabencana. Total ada sebelas kelas yang berlangsung di bawah atap terpal. Dulunya, kelas darurat itu dibangun oleh Dinas Pendidikan Kota Palu dan Yayasan Media Group.

“Kami masih pakai kelas darurat karena gedung sekolah rusak parah,” kata guru kelas 2 ini.

Husni, guru lainnya kemudian mengajak saya berkeliling gedung, melihat jejak-jejak yang ditinggalkan gempa 28 September 2019.

Retakan menganga lebar tampak menghiasi tiap lantai dan tembok kelas. Tanah bergelombang, membuat lantai pun turun-naik.

“Dulu sebelum bangun kelas darurat, beberapa pekan kami pakai tenda,” kata Husni yang juga wali kelas 6.

Kondisi kelas darurat pun kian mengkhawatirkan. Ditempa panas dan hujan, membuat kerapuhan di sana-sini termasuk terpal yang mulai bolong. Sekolah pun mulai mengganti terpal dengan atap rumbia, bergantian di masing-masing kelas.

Kalsum, mengatakan, mereka terpaksa masih berada di kelas darurat karena gedung mereka diperbaiki oleh pemerintah. Meski sudah beberapa kali didata oleh Dinas Pendidikan Kota Palu. “Renovasi dijanjikan akhir Juli atau awal Agustus,” katanya.

Kalsum berharap agar pemerintah segera merealisasi perbaikan gedung agar para siswa tidak lagi belajar di kelas darurat. “Kasihan anak-anak kalau terlalu lama. Apalagi siswa kelas satu itu baru mulai sekolah,” dia berharap.

SDN Pengawu hanya salah satu sekolah yang belum diperbaiki pascabencana 28 September 2019. Kepala Dinas Pendidikan Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu, Ansyar Sutiyadi, mengatakan, masih ada seratusan sekolah terdampak bencana yang belum direnovasi.

Menurut dia, beberapa sekolah akan direnovasi pada tahun ini menggunakan Dana Alokasi Khusus dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sedangkan sisanya, akan melibatkan pihak ketiga seperti lembaga swadaya masyarakat dan perusahaan.

“Target penyelesaian perbaikan sekolah yang rusak parah, sedang dan ringan ini berlangsung selama dua tahun,” katanya.

Dalam Laporan Finalisasi Data dan Informasi Bencana di Sulawesi Tengah yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah per 7 Januari 2019, total terdapat 386 sekolah yang rusak. Jumlah itu terdiri dari 107 sekolah rusak berat, 114 sekolah rusak ringan, 165 rusak ringan.

Sekolah Transisi
Sambil menunggu sekolah permanen dibangun, beberapa perusahaan membangun sekolah transisi yakni gedung sekolah semipermanen. Setidaknya ada 15 sekolah transisi yang telah berdiri.

Sepuluh dari 15 sekolah transisi itu di antaranya dibangun oleh PT. United Tractors Tbk (UT). Mereka yakni SDN Inpres Balaroa, SDN 2 Sindue SDN Petobo 1, SDN Petobo 2, SDN 4 Mamba, SDN 21 Amal Sindue, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Balaro, Taman Kanak-Kanak PGRI Aman Sindue, SMKN 8 Palu, dan TB Al-Khairat.

Penyerahan sepuluh kunci sekolah itu, pada Jumat 19 Juli 2019, diserahkan langsung oleh Edhie Sarwono, Direktur United Tractors kepada 10 kepala sekolah penerima sekolah transisi.

Menurut Edhi, sepuluh sekolah itu dapat menampung 1.025 siswa dengan 155 tenaga pendidik. “Semoga semangat siswa-siswi di sini kembali pulih dan semangat menjadi anak yang cerdas dalam mencari ilmu,” kata dia.

Marlina Aliman Kepala Sekolah Dasar Negeri 1 Petobo, mengatakan, sekolah transisi yang dibangun UT itu sangat berguna bagi agar anak-anak didik mereka dapat menerima pelajaran dengan suasana yang lebih nyaman.

“Sebelumnya proses belajar mengajar kami lakukan di tenda darurat,” katanya.

Ia menuturkan, sebelum peristiwa gempa 28 September 2018, peserta didiknya berjumlah 232 orang. Namun, setelah bencana likuefaksi terjadi, siswanya tinggal 162 siswa.

Hal itu, menurutnya, karena banyak siswa yang mengikuti orang tuanya pindah tempat tinggal. Sementara tujuh siswa dan satu orang guru ikut menjadi korban meninggal dunia dalam bencana tersebut.

Ia tak mengetahui pasti, sampai kapan mereka akan tetap menjalani proses belajar mengajar di sekolah semi permanen. Oleh karena itu, dia berharap agar pemerintah segera menyiapkan lahan dan membangun sekolah permanen.

Siva salah satu siswa SDN Balaroa, mengatakan, dirinya sangat senang belajar di sekolah transisi tersebut, ketimbang belajar di sekolah tenda.

“Belajar di sekolah tenda agak kurang nyaman karena lebih panas dan basah saat hujan,” kata siswa kelas 5 tersebut.[]

Reporter: M. Faiz/ Sarifah Latowa
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini