Mereka yang Menunggu Pencairan Jadup

0
786

PALU –Pelaksana tugas Dinas Sosial Kota Palu, Mohamad Nur Sidik mengatakan, penyaluran jaminan hidup tahap pertama sudah di transfer ke rekening Bank Mandiri untuk 26.591 jiwa dari total 40 ribu jiwa penerima jadup.

Menurut dia, proses pencairan kepada penerima telah berlangsung, namun dirinya belum mengetahui sudah sejauh mana progress penyalurannya.

“Saya pastikan pihak bank nanti akan melaporkan ke kami seperti apa progresnya,” ujarnya saat ditemui, Selasa, (3/9/2019).

Menurut dia, untuk pencairan sisanya lagi, masih dalam tahap verifikasi dan validasi, dengan mengarahkan segala sumber daya yang dimiliki

“Penerima jadup ini, dilakukan dengan pendekatan data dan telah diusulkan berdasarkan SK walikota,” ujarnya.

Suratman penyintas Balaroa mengatakan, seperti yang ia ketahui, jadup mulai dicairkan pada Senin, 2 September 2019, dengan nilai Rp10.000 perhari untuk satu orang.

“Jika setiap orang menerima Rp10.000 per hari maka selama dua bulan akan menerima jadup sekitar Rp 600 ribu,” urainya.

Pencairanya pun, lanjut dia, dilakukan secara bertahap setiap harinya hanya 100 orang yang dilayani oleh bank yang ditunjuk dan telah ditentukan hari pencairannya.

Sebelum pencairan jadup, kata dia, yang harus dilakukan penerima jadup adalah melapor pada kelurahan setempat, dengan membawa dan memperlihatkan kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK).

Setelah itu, sambungnya, pihak kelurahan lalu memberikan form bank untuk diisi. Form bank itulah yang akan dibawa, untuk melakukan pencairan dananya, pada hari yang telah ditentukan.

Ia sendiri mendapat giliran pencairan jadup pada Selasa, (17/9/2019) mendatang dengan jumlah keluarga, sesuai KK enam orang. Berarti total akan diterima sekitar Rp3,6 juta.

Setelah menerima jadup nanti, Suratman bersama keluarga belum memiliki rencana uang itu akan di pergunakan untuk apa. Namun, yang pasti jadup itu, akan diberikan kepada masing-masing anggota keluarganya.

“Entah mereka akan gunakan untuk apa itu terserah mereka,” terangnya.

Meski demikian dia menekankan, kepada anggota keluarganya agar menggunakan dana jadup untuk kebutuhan yang prioritas, bukan keinginan.

Berbeda dengan Oliv penyintas Huntara Pengawu, ia mengaku heran namanya tidak masuk dalam penerima jadup. Padahal kata dia, ia bersama keluarganya sudah berulang kali didata oleh pihak kelurahan sejak di tenda pengungsian hingga direlokasi ke huntara.

“Anehnya, nama kami tidak keluar dalam daftar penerima jadup,” ujar ibu dua anak ini.

Ia pun sudah menyakan hal tersebut kepada pihak Dinsos Kota Palu, namun jawaban dari dinas tidak seperti yang diharapkanya.

“Saya jadi bingung, mau kemana lagi harus mengadu,” ucapnya.

Ia juga belum mendapat kepastian, apakah namanya akan masuk dalam daftar penerima jadup tahap kedua atau sama sekali tidak mendapatkannya.

Juru bicara Sulteng Bergerak, Firmansyah Algintara, mengatakan saat mendampingi beberapa penyintas di huntara Ikhsanul Khair Tavanjuka, Kayumalue Pajeko, Terminal Mamboro dan Huntara Tawaeli. Mereka menemukan berbagai masalah.

Salah satunya, lanjut dia, ada penyintas yang tidak masuk dalam daftar penerima jadup. Padahal sudah mengurus semua persyaratan yang diminta.

Terkait hal itu, pihaknya melakukan advokasi warga yang tidak masuk namanya dalam daftar penerima jadup, dengan mendatangi kantor Dinsos Kota Palu, Senin, (2/9/2019).

Namun dari pertemuan itu, kata dia belum mendapatkan solusi bagi warga yang namanya belum masuk dalam daftar penerima jadup.

Meski demikian, dinsos mengarahkan, nama-nama yang belum terdaftar boleh masuk tapi, di usulan melalui kelurahan.

“Mereka masih mencocokan data-data yang invalid seperti tidak memiliki KK dan NIK,” terangnya.

Menurut dia, saat mendatangi pihak kelurahan, pihak kelurahan menyatakan tidak memiliki wewenang untuk memasukan nama-nama tersebut.

“Menurut pihak kelurahan mereka hanya bisa memasukan nama atas rekomendasi dari dinsos, sebab dinsos yang mempunyai wewenang dan bertanggungjawab terkait jadup,” tuturnya.

Koordinator Sulteng Bergerak, Adrian Manu, menambahkan, pihaknya akan terus mendampingi penyintas yang berjuang mendapatkan hak mereka.

“Kami akan lanjut mengadvokasi ke dinsos provinsi. Kalau memang tidak menemui jalan maka akan ke walikota, “ ujarnya.

“Kami hanya ingin tahu mengapa masih banyak nama tidak masuk dalam daftar penerima jadup, sementara mereka sudah sering di data,” tutupnya.

Reporter/Foto : Ikram
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini