Mereka yang Berjuang Menyusui di Situasi Bencana

0
669
Intan dan suaminya (Irsyad) sedang duduk santai di samping tenda pengungsian Balaroa.

PALU – Suatu siang Intan sedang duduk dikursi terbuat dari bambu, tepat di samping tenda pengungsian Balaroa, kedua tangannya mendekap anaknya yang baru berusia delapan bulan. Sementara suaminya, Irsyad duduk berhadapan dengannya.

Ditempat itu, Intan mulai menceritakan bagaimana perjuangannya menyusui Naura anaknya yang lahir 53 hari pascabencana gempa yang mengguncang Kota Palu, 28 September lalu, tepatnya Rabu, 21 November 2018.

“Naura lahir prematur dengan berat badan 1,7 kg. Kondisinya itu membuat Naura butuh perhatian ekstra. Beruntung ASI saya lancar. Jadi kebutuhan nutrisinya terpenuhi,” ujar Intan sambil sesekali mengusap kepala anaknya.

Menyusui dalam situasi bencana, tentu banyak tantangan yang di hadapi. Mulai dari tidak tersedianya ruangan khusus untuk menyusui, kondisi lingkungan tenda yang tak senyaman di rumah dan ketersediaan makanan bergizi terbatas.

Belum lagi, terik matahari menembus hingga ke dalam tenda membuatnya semakin tak nyaman. Namun, itu semua dihadapinya dengan tenang. Ia berusaha sebisa mungkin rileks agar produksi ASI-nya tidak berkurang.

Jika waktu memberikan ASI tiba, dirinya langsung ke sebuah bilik terbuka dipinggir Jalan Sumur Yuga milik tetangga. Selain menjadi tempat tinggal tetangganya, bilik itu juga digunakan untuk berjualan aneka minuman.

“Ditempat itu, saya biasanya menyusui anakku,” ujarnya.

Namun, terkadang Intan merasa risih karena kendaraan roda dua milik warga setempat hilir mudik di depan bilik tersebut untuk membeli barang dagangan pemilik bilik.

“Merasa terganggu sih iya, tapi, mau bagaimana lagi, mau menyusui di dalam tenda itu panasnya minta ampun, Naura pasti rewel, ” keluhnya.

Untuk mengakali agar auratnya tidak kelihatan saat menyusui, Intan menutupinya dengan jilbab panjang. Beruntung keluarga dekat Intan bersedia membantu Intan jika terjadi kendala dalam memberikan ASI esklusif.

“Jika Naura kurang sehat, saya biasanya ke rumah keluarga di Duyu, satu atau dua minggu disana baru kita balik lagi ke tenda,” kata Intan.

Selama situasi bencana, Intan tak pernah sedikitpun memberikan susu formula kepada Naura karena, selain menuruti saran dari dokter, Intan menganggap ASI eksklusif lebih aman dan menyehatkan sekaligus menghemat biaya kebutuhan rumah tangganya.

Intan bukan satu-satunya ibu menyusui yang berjuang menyusui di situasi bencana. Raodah, penyintas Balaroa pun mengalami hal yang sama. Setiap kali menyusui anaknya, ia harus pergi ke bilik yang biasanya dipakai Intan menyusui anaknya.

“Biasanya saya bersamaan dengan mama Naura, menyusui di bilik jualan ini,” kata dia.

“Bisa lihat sendiri kan, kalau sudah sore begini, banyak orang lewat di jalan itu,” tambahnya sambil menunjuk bilik tempat ia menyusui anaknya.

Raodah mengungkapkan, sejauh ini di shelter pengungsian miliknya belum tersedia ruang khusus bagi ibu menyusui, padahal menurut Raodah hal itu penting diterapkan guna menjaga keamanan bagi bayi dan ibu demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Sebelum terjadi bencana 28 September 2018 lalu, Raodah berjualan siomay bersama suami, namun pekerjaan itu tak lagi dilakoninya karena modalnya telah habis dipakai menyambung hidup di tenda pengungsian.

Popok dan pakaian bayi menjadi kebutuhan khusus bayi yang masih minim dimiliki baik Raodah maupun Intan. Kedua ibu rumah tangga ini sedikit berharap bantuan kebutuhan tersebut.

Selain itu, Raodah dan Intan juga ingin segera pindah di hunian sementara Duyu, namun huntara yang disiapkan pemerintah untuk warga Balaroa telah penuh di huni oleh penyintas lainnya.

Sebelum gempa, Irsyat bekerja sebagai tukang ojek. Namun, sepeda motor yang ia pakai “ngojek” telah dijual untuk memenuhi kebutuhan Intan saat melahirkan Naura.

Mereka tak ingin berpangku tangan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka berjualan minuman atau makanan ringan. “Yah lumayan bisa menutupi kebutuhan hidup khususnya kebutuhan bayi anak kami,” terangnya.

Sebelumnya, Satuan Tugas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Wiryani Pambudi mengatakan, dalam situasi bencana, pemberian air susu ibu (ASI) justru paling tepat dan aman. Sebab ASI selalu tersedia dan siap diberikan tanpa menunggu bantuan datang. Antibody ASI juga dapat melindungi bayi terhadap kuman penyakit sehingga menurunkan risiko kematian bayi akibat infeksi, pneumonia, diare dan Otitis Media Akut (OMA).

“Angka kematian bayi usia 0-2 bulan yang tidak disusui lebih tinggi enam kali lipat dibandingkan anak yang disusui, kemudian angka kematian akibat pneumonia lebih tinggi 15 kali lipat dialami bayi yang tidak disusui,” jelasnya.

Menyusui yang optimal, lanjut dia, dapat meningkatkan pengembangan sumber daya manusia dan mengurangi pengeluaran kesehatan untuk keluarga dan Indonesia. Untuk itu, ia meminta para pembuat kebijakan harus berinvestasi dalam kebijakan dan program dukungan menyusui.

Dalam pantauan Wiryani di setiap daerah situasi bencana, belum ditemukan ada upaya pendirian tenda laktasi, belum ada upaya penugasan nakes dengan kompetensi konseling menyusui, belum ada tindakan tegas untuk menyikapi donasi formula bayi (+botol-dot) yang massif dan dibagikan tanpa sepengetahuan dinas kesehatan setempat.

“Salah satu kendala menyusui disituasi bencana adalah minimnya dukungan menyusui, terpisah dari anggota keluarganya dan kondisi tempat tinggal atau penampungan tidak memadai,” terangnya.

Alasan utama kegagalan menyusui, kata dia, bukan karena ASI tidak cukup, tapi, kurangnya dukungan lingkungan sekitar, masalah fisik dan emosi, pilihan ibu dan kekhawatiran ASI berkurang.

Wiryani Pambudi, mengatakan, pemberian susu formula harus dihindari di situasi darurat bencana. Sebab susu formula rentan tercemar dan menyebabkan bayi menderita diare akut.

“Ketiadaan air bersih dan lingkungan yang kotor bisa membuat susu formula tercemar kuman,” kata Wiryani.

Reporter/Foto : M. Faiz Syafar
Editor               : Sarifah Latowa

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini