Mereka yang Bangkit, Setelah Huntara Batal Dikosongkan

0
140

PALU- Pengosongan hunian sementara (Huntara) Kompas di Jalan Asam III, Kelurahan Kabonena, Kota Palu, akhirnya batal dilakukan. Padahal sebelumnya pemerintah Kecamatan Palu Barat memberikan batas waktu pengosongan selama dua hari, mulai Senin hingga Rabu, 24 Juli 2019.

Mendengar kabar baik itu, Ratna (40) penghuni huntara yang sedang sibuk melayani pembeli nasi kuning langsung sumringah. Ia tak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya.

“Saya bersyukur tidak jadi disuruh keluar. Makanya sekarang saya jualan lagi,” ujarnya di sela-sela kesibukannya.

Ratna mengungkapkan, sebelumnya, Ia sempat berhenti berjualan sehari setelah ada himbauan pengosongan huntara. Ia mengaku sangat merasa resah kala itu.

Dalam hatinya berbisik “Kemana lagi saya akan mencari tempat berteduh dari panas dan hujan, kalau di suruh keluar dari tempat ini.” Semalam suntuk Ia gelisah, tidurpun tak nyenyak memikirkan hal itu.

“Tidak enak sudah perasaanku, mau jualan tapi disuruh kosongkan. Jadi beban pikiran.” ujarnya.

Namun kini, Ia kembali tersenyum dan bangkit dari keresahannya. Satu harapannya, peristiwa serupa jangan terulang lagi. Karena, baginya lokasi itu adalah satu-satunya tempat Ia menaruh harapan untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi menutupi kebutuhan anak-anak dan suaminya dalam sehari-hari.

Sementara itu, Maria Ulfa, warga huntara lainnya mengaku, mendengar kabar pengosongan dibatalkan dari beberapa warga yang mendengar langsung penyampaian itu dari pihak Kecamatan Palu Barat pada Rabu, 23 Juli 2019. “Iya ada orang camat telfon kita kemarin, katanya bertahan saja (jangan pindah),” ucapnya.

Di tempat terpisah, Lurah Kabonena, Yasir Syam saat dikonfirmasi membenarkan hal tersebut. Dirinya terkejut saat sebelumnya mendatangi huntara Kompas Rabu, 23 Juli siang. Ternyata banyak anak-anak dan ibu hamil yang tinggal di tempat itu. Melihat kondisi itu, Ia pun mengaku tidak setuju jika terjadi pengosongan.

Yasir mengatakan, Ia akan lebih mengakuratkan data para warga lagi agar kejadian yang sama tak terulang. Data tersebut juga kata Yasir, nantinya, akan menjadi acuan untuk pembagian jaminan hidup (jadup) jika telah dicairkan pemkot.

“Semua data itu lengkap ada sama korlap. Korlapnya terus pro aktif mengatur huntara itu, dan dia selalu kabarkan ke saya.” jelasnya.

Penulis/Foto : M Faiz Syafar
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini