Menyemai Bibit Toleransi dari Barak Pengungsi Petobo

0
592
TAUZIAH - Anak-anak pengungsi menerima tauziah dari imam di mushola Petobo, Minggu 24 November 2019 (Foto Komang Darmini)

MATA Anisah tampak memejam, merasakan sejuknya percikan air suci di tengah terik matahari jam 11.00 siang. Ia tampak ingin berlama lama berdiri menunggu percikan air berikutnya. Sayang di belakangnya masih banyak rekannya menanti ritual berikutnya. Anisa pun menepi memberi kesempatan kawan kawannya. Rekan rekan Anisa yang berjumlah 15 orang tampak ingin berlama-lama merasakan kesejukan. ”enak-enak dingin,” kata bocah bocah itu riuh. Mereka adalah rombongan anak-anak penyintas anggota Taman Baca Banua Huntara Petobo, yang akan melakukan road show ke sejumlah rumah ibadah untuk mengenal kolega dan kawan sepantaran mereka di rumah ibadah berbeda, masjid, pura dan gereja. Kegembiraan mereka menerima percikan air, adalah prosesi pertama sebelum masuk di kompleks suci Pura Agung Jagadnata Palu, yang terletak di Kelurahan Talise Palu.

FOTO BERSAMA – Foto bersama setelah menerima tauziah dari ustad (Foto Komang Darmini)

Sebelum masuk di kompleks pura, rombongan anak-anak yang dipimpin pengasuh Taman Baca Banua Huntara Petobo Komang Darmini, menerima seutas kain beraneka warna. Tadinya, beberapa anak menganggap kain-kain itu adalah selendang yang disampirkan ke bahu. Namun ternyata kain kain itu diikatkan di pinggang. ”Ini untuk mengendalikan diri dari hal-hal yang tidak baik,” jelas Dr I Nengah Kundera salah satu tokoh agama Hindu saat menjelaskan fungsi kain-kain itu kepada anak-anak. Sedangkan percikan air suci, sambung dia sebagai simbol penyucian diri sebelum memasukii kawasan di dalam pura.

AIR SUCI – Sebelum masuk ke kompleks Pura, rombongan menerima percikan air suci (foto yardin hasan)

Usai menerima percikan air suci, rombongan anak-anak korban liquefaksi Petobo kemudian diarahkan di ruang pendopo. Di sana dialog berlangsung hangat. Para pemuka agama Hindu menyimak opini anak-anak tentang keberagaman. Selain menjawab aneka pertanyaan spontan anak-anak, Nengah Kundera juga menjelaskan perspektif umat Hindu dalam memandang soal keberagaman dan hubungan antarumat dalam konteks bangsa dan tanah air. Proses tanya jawab di Pendopo berjalan sejam lebih. Usai tanya jawab, sejumlah anak berebut berfoto di spot-spot unik dengan dominasi ukiran.

Usai dari Pura, rombongan menuju Palu Selatan. Tujuan berikutnya adalah Gereja Jemaat Efatha yang terletak di Jalan Banteng Palu Selatan. Di gereja tempat tewasnya, Pendeta muda, Susianti Tinulele pada 2004 silam, rombongan diterima langsung oleh Pendeta Jemaat Efatha, Pdt Arnold Nyawa STh. Anak-anak dari Taman Baca Banua Huntara Petobo ini diterima di dalam ruangan gereja yang sore itu tampak lengang. ”Sebentar lagi jemaat akan datang untuk kebaktian,” ungkap salah satu gembala jemaat yang tampak sibuk melayani kedatangan bocah-bocah penyintas itu. Anisah dan kawan-kawannya terlihat tak berhenti mendongak keatas menyaksikan ornamen yang tersemat di ketinggian membuat mereka ini selalu menengadah ke langit langit. Ornamen natal yang berdiri tak jauh dari altar menambah keanggunan ruang ibadah umat Kristiani ini.

GEMBIRA – Foto bersama di tangga Pura Agung Jagadnata Palu, Minggu 24 November 2019 (foto yardin hasan)

Pendeta Arnold lalu membuka percakapannya dengan tiga salam berbeda. Assalamu’alaikum, Syalom dan Om Swastiastu. Pada prolog yang berlangsung tak sampai 30 menit itu, Pendeta Arnold menyampaikan pesan-pesan kasih, sebagai salah satu basis ajaran Kristen. Kristen juga mengajarkan cinta kasih, tak hanya kepada sesama manusia tetapi kepada alam sekitar. Sebagaimana juga agama-agama lainnya. Kasih bisa merekatkan persaudaraan tak hanya dalam relasi saudara seiman tapi juga sebagai bangsa dan kemanusiaan. Sesi tanya jawab dimanfaatkan oleh beberapa anak untuk bertanya soal bagaimana menjaga hubungan kekerabatan sebagai sesama warga bangsa. ”Kita boleh berbeda, agama, suku dan apa pun itu. Tapi kita bersaudara dalam kebangsaan dan kemanusiaan,” katanya mengakhiri jawaban kepada anak-anak di SD sementara Petobo itu.

TANYA JAWAB – Suasana tanya jawab di Pendopo Pura Agung Jagadnata Palu (foto yardin hasan)

Di Mushola Petobo, rombongan anak-anak mendapat tauziah dari ustad akan pentingnya menjaga silaturahmi kepada sesama anak bangsa tanpa memandang latarbelakang, suku, agama maupun latarbelakang lainnya. Toleransi termasuk salah satu poin penting dalam ajaran Islam. Ia pun menukil beberapa hadist dan ayat alquran soal pentingnya menjaga kekerabatan dengan warga sekitar. Siapa pun dia.

TAMAN BACA UNTUK ANAK-ANAK DI BARAK

Ide lahirnya Taman Baca Banua di Huntara Petobo berangkat dari keprihatinan Komang Darmini dan kawan-kawan akan tidak adanya media bagi anak-anak untuk membaca buku. Setidaknya dengan membaca buku, anak-anak ini bisa melupakan peristiwa pilu yang merenggut nyawa ayah ibu, kerabat bahkan terancam merenggut masa depannya.

TANYA JAWAB – Suasana tanya jawab di dalam gereja Efatha diterima oleh Pendeta Jemaat Efatha Pdt Arnold Nyawa STh (foto yardin hasan)

Berangkat dari sana, berdirilah Taman Baca Banua di Huntara Petobo yang beranggotakan 30 anak. Tak hanya anak-anak yang beragama Islam. Ada pula yang beragama Hindu dan Kristen. ”Tapi mayoritas anak-anak beragama Islam,” kata Komang semringah. Anak-anak membaca buku dengan gratis. Sedangkan buku-buku bacaan ada yang dibeli oleh Lembaga Pendidikan Shanatya Sai Indonesia (LPSSI). Namun ada pula sumbangan dari lembaga dan perorangan yang bersimpati terhadap usaha mereka itu.

MONUMEN REKONSILIASI – rombongan foto bersam di Monumen Rekonsiliasi, monumen untuk mengenang Pendeta Susianti Tinulele yang tertembak saat menbawa kebaktian 2004 silam (foto yardin)

Kegiatan di Taman Bacaan yang didirikannya lanjut Komang, tak hanya membaca buku tapi ada pula menggambar dan mewarnai. ”Kita berupaya menghadirkan kegembiraan khas dunia anak. Belajar sambil bermain,” katanya ditemui, Minggu 24 November 2019. Sampai kapan? ”Tidak tahu sampai kapan,” jawabnya tersenyum. Saat ini selagi anak-anak masih betah di rumah taman bacanya, Komang Darmini dan kawan-kawan bertekad terus membersamai anak-anak ini, menyemai bibit toleransi di pengungsian. Setidaknya, di tangan anak anak inilah masa depan bangsa yang majemuk ini ditentukan. ***

Penulis: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini