Menikmati Air Bersih dari Tenaga Matahari

0
222

DONGGALA – Menjelang sore, lima orang bocah berlarian mendekati sebuah tong penampungan air tidak jauh dari tenda pengungsian di Desa Loru, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala. Kelimanya nyaris histeria menyaksikan air yang keluar dari pipa yang disambungkan dari pompa air bertenaga matahari.

Kelima bocah itu “merayakan” kehadiran air bersih yang muncrat dari pipa. Orangtua mereka pun ikut berkerumun dengan wajah sumringah. Sesekali mereka menadah air dengan kedua telapak tangan lalu mengusapkannya ke wajah.

Yah, sore itu relawan yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil #SultengBergerak berhasil menyambungkan pipa air bersih ke kamp pengungsian yang dihuni 235 keluarga di desa itu.

Sebelumnya, hampir dua bulan, pengungsi terpaksa sempoyongan menimba air dari sumur yang jaraknya cukup jauh agar bisa mendapatkan segalon atau dua galon air.

Hampir seluruh pengungsi di desa itu adalah korban dari gelombang tsunami yang menerjang desa mereka. Rumah mereka ludes tertelan dahsyatnya tsunami. Beberapa di antaranya masih ada yang berdiri, namun tidak layak lagi dihuni karena sejumlah bagian-bagiannya runtuh.

Koordinator Koalisi Masyarakat Sipil #SultengBergerak, Doni Moidady mengungkapkan, sejumlah lembaga nirlaba tergabung dalam koalisi itu. Seluruhnya bertindak untuk mendukung dan mempercepat proses pemulihan bagi korban bencana, baik gempa bumi, tsunami, maupun likuifaksi.

Salah satu lembaga yang bergabung dalam #SultengBergerak adalah Greenpeace Indonesia. Lembaga ini tak hanya menyediakan air bersih bagi pengungsi, tetapi mengedukasi pemakaian energi terbarukan dalam penanganan pascabencana.

“Kami mengusahakan air bersih dengan memanfaatkan pompa air namun berbasis tenaga matahari atau panel surya, sehingga tidak perlu tergantung dengan tenaga listrik yang memang sulit pada kondisi pascabencana begini,” ujar Wan Abu, koordinator relawan Greenpeace Indonesia di Palu.

Panel surya yang disuplai dari Jakarta itu dirakit sedemikian rupa dengan melibatkan para relawan Greenpeace Indonesia dari berbagai wilayah di Indonesia.

Ada dua titik penyediaan air bersih berbasis panel surya ini, yakni di Desa Rogo, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, dan Desa Loru, Donggala.

Di Desa Loru, instalasi penyediaan air bersih itu dengan memanfaatkan bekas pompa air yang sebelumnya tidak berfungsi. Pompa air itu diperbaiki, termasuk membersihkan bak penampungan air berukuran 3 meter x 3 meter x 2 meter. Pompa yang sebelumnya menggunakan listrik, kini diganti dengan energi matahari.

Hanya dibutuhkan dua hari untuk memasang panel surya yang rangkanya terbuat dari besi itu. Sisanya hanya melakukan penyetelan, termasuk menyambungkan energi yang tersimpan dalam baterai itu ke pompa air.

“Matahari di Palu cukup terik sehingga sangat bagus untuk menyerap energinya ke baterai,” ujar Qiwink, salah seorang relawan Greenpeace Indonesia yang turut membantu perakitan panel surya tersebut.

Air yang tertampung di bak besar itu selanjutnya dialirkan melalui pipa-pipa sepanjang lebih kurang 100 meter ke kamp pengungsian yang berada di bukit.

“Bagaimana…? Sudah siap…?” teriak Wan Abu melalui handy talkie di genggamannya.
“Oke, siap yah, ON!” jawab Memed dari balik handy talkie itu.

Seketika air keluar dari pipa.

“Alhamdulillah,” ujar Kepala Dusun Pampayo Herman.

Herman, Kepala Dusun Pampayo, mengucapkan terima kasih atas dukungan #SultengBergerak. Pipanisasi itu membuat pengungsi tidak perlu lagi berjalan jauh untuk mencari air.

“Air bersih bertenaga panel surya ini sangat membantu kami yang menjadi korban tsunami,” kata Herman, salah satu pengungsi.

Tak berselang lama, warga pengungsi pun membawa embernya-masing-masing untuk mengambil air bersih dari sumber tersebut.[]

Reporter: Basri Marzuki
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini