Mengukir Prestasi di Sekolah Darurat

0
194

PALU – Suatu siang sekitar pukul 13.40 Wita, matahari sangat terik menyengat kulit namun seolah tak dirasakan oleh tiga orang siswi yang sedang asyik duduk santai, di sebuah saung terbuat dari kayu, beratap rumbia. Tiga orang siswi tersebut akrab disapa Caca, Fira dan Emira.

Mereka merupakan murid baru yang sedang menjalani masa orientasi siswa (MOS). Dari raut wajah mereka terlihat begitu ceria beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru. Nampak juga guru-guru duduk di saung lainya yang di kelilingi pohon-pohon berdaun rindang.

Mereka baru saja selesai melaksanakan proses belajar mengajar di Madrasah Darurat (Maddura) Tsanawiyah Negeri 3 Kota Palu, Jalan Kijang Selatan VI, Kelurahan Birobuli Selatan, Kecamatan Palu Selatan, Selasa, 23 Juli 2019.

Pascabencana 28 September 2018 Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Palu ini masih melaksanakan proses belajar dan mengajar di madrasah darurat. Sebagian kelas masih beratapkan terpal, berdinding kalsiboard dan rangka baja.

Meski mengalami keterbatasan sarana dan prasarana, namun kualitas serta mutu pengajaran tidak berkurang, bahkan para siswanya berprestasi di tingkat Nasional.

Soal prestasi tak perlu diragukan di sekolah ini, seperti pada Kompetensi Sains Madrasah (KSM) siswa di sini meraih peringkat III. Kemudian mendapatkan peringkat lima pada kompetensi robotika tingkat Nasional. Demikian hal ini disampaikan Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 3 Kota Palu, Munira Labalado.

Menurut dia, MTs Negeri 3 Palu, sebelumnya berlokasi di jalan Dewi Sartika, depan SPBU, akibat bencana sekolah tersebut mengalami kerusakan parah dan telah ditetapkan berada pada zona rawan bencana (ZRB). Sehingga sekolah ini terpaksa direlokasi ke lapangan Futsal Banteng.

Meski demikian proses belajar dan mengajar di MTs tetap berjalan seperti biasanya. Bagi Munira proses belajar tak hanya bisa dilakukan di dalam kelas saja di ruang terbuka pun bisa dilakukan.

“Siswa-siswa sangat enjoy menikmati suasana belajar di ruang terbuka. Mereka menyatu dengan alam,” ujarnya.

Ia mengatakan, bila matahari mulai menyengat kulit, anak-anak diajak keluar dari sekolah darurat lalu belajar dibawah pohon dan saung-saung yang telah disediakan.

Apalagi sekolah ini kata dia, telah menerapkan pembelajaran ramah anak. Anak-anak belajar sambil bermain, begitupun, dengan para gurunya tetap melakukan aktifitas belajar, seperti biasa.

Tak heran jika banyak para orang tua memilih menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Ia menyebutkan pada tahun ini penerimaan peserta didik baru (PPDB) mengalami kenaikan signifikan bahkan membludak.

“Peserta didik mengambil formulir 525 orang, yang mendaftar kembali 483 orang, diterima 224 orang, hanya untuk 7 kelas,” katanya.

Jumlah keseluruhan siswa-siswi 712 orang, dengan tenaga pendidik ASN 27 orang, honorer 8 orang.

Ia menyebutkan, Maddura MTsN 3 ini sendiri dibangun oleh tiga donatur, Yayasan Sayang Tunas Cilik (YSTC), Child Fund dan PKPU.

Heny Frida, guru lainnya mengatakan dirinya sangat senang mengajar di sekolah ini meski kondisinya serba terbatas namun Ia termotivasi dengan semangat siswanya. Untuk itu Ia berjanji akan memberikan hal terbaik bagi sekolah tersebut.

“Kedekatan secara emosional antara guru dan murid membuat interaksinya semakin kuat, dengan adanya musibah kemarin,” katanya.

Penulis/Foto : Ikram
Sarifah : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini