Menggiling Padi Setelah Likuefaksi

0
117

SIGI – Deru mesin penggilingan padi terdengar dari pinggir jalan. Dari kejauhan terlihat tiga orang pekerja sedang meratakan gabah yang dikeringkan di pelataran. Sesekali pekerja itu menyeka peluhnya karena terpapar teriknya matahari.

Di dalam bangunan penggilingan padi semi permanen itu, tampak seorang pekerja berada di atas loteng, menuang gabah ke dalam mesin penggilingan yang berada di bawahnya. Ada enam karung berisi gabah terlihat di dekatnya, menunggu giliran dituang ke mesin.

Di bawahnya, pekerja lainnya menadah bulir-bulir beras yang keluar dari mesin penggiling. Menampung lalu memasukkannya ke dalam karung di atas timbangan. Sebentar lagi para pemilik beras itu akan datang menjemputnya.

Lima pekerja itu adalah warga Desa Lolu, Kabupaten Sigi yang terdampak gempa. Setelah kehilangan rumah, mereka kini tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Bekerja di penggilingan beras menjadi kesibukan baru bagi dua pekerja itu, sepekan setelah bencana. Sebab mereka tidak punya pekerjaan lain, karena lahan-lahan pertanian mereka rusak dilumat likuefaksi.

Penggilingan padi itu milik Anton warga setempat. Bukan karena ketiadaan pilihan setelah kehilangan pekerjaan akibat gempa, tapi lebih kepada kesadaran akan hidup yang tak boleh pasrah apalagi berhenti.

Anton membuka usaha penggilingan padinya sepekan setelah gempa. Kondisi bangunan dan beberapa mesinnya masih rusak. Dia tergerak untuk menghidupkan usaha penggilingan padi itu sembari membantu pengungsi yang kehilangan pekerjaan.

“Saya panggil orang-orang sekitar yang mau bekerja membantu membersihkan puing-puing pagar yang roboh,” kata Anton, Rabu kemarin, 5 Desember.

Menurut Anton, sebenarnya penggilingan padi bisa langsung beroperasi saat itu juga. “Tapi tidak enak karena orang-orang di sekitar kita masih sangat berduka, trauma dengan bencana. Jadi pertama kali buka hanya bersih-bersih saja,” lanjut Anton.

Anton pun kemudian mengajak beberapa pengungsi untuk bekerja agar mereka tidak sekedar menunggu bantuan di tenda pengungsian. Minimal dengan bekerja, pengungsi bisa mendapatkan upah harian dan beras untuk kebutuhan di tenda.

Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, mereka membangun kembali penggilingan padi yang sebelumnya sudah beroperasi sejak 30 tahun lalu. Bagian-bagian mesin yang rusak diperbaiki, termasuk mengganti aki yang sudah soak. Mesin pun akhirnya bisa beroperasi kembali tepat 10 hari pascagempa.

Anton mengatakan, sebuah keberuntungan karena dari sekian banyak penggilingan padi di desa itu dan sekitarnya, hanya penggilingan padinya yang bisa beroperasi. Sedangkan lainnya tutup karena rusak serius.

Karena itu, sejak dioperasikan pertama kali hingga saat ini, saban hari mesin penggilingan padi itu terus menderukan mesinnya. Gabah-gabah milik warga, termasuk warga dari desa lainnya yang tersisa dibawa ke tempatnya itu untuk digiling.

Penggilingan padi milik Anton menerapkan bagi hasil 2:8. Beras bagi hasil itulah yang kemudian digunakan pemilik penggilingan untuk mengupah para pekerjanya. Sebagian dalam bentuk uang dan sebagian lagi dalam bentuk beras.

Persoalannya kemudian jika nanti gabah-gabah stok lama milik warga itu semuanya habis digiling. Ia tentu akan kesulitan mendapatkan gabah lagi karena tidak ada produksi akibat gempa yang merusakkan saluran irigasi Gumbasa.

Padahal, menurut catatan redaksi Kabar Sulteng Bangkit, saluran irigasi Gumbasa itu menyuplai lahan pertanian di 8 kecamatan.

“Kita hanya bisa berharap, pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi hal ini, karena kasihan warga, terutama yang selama ini mengandalkan pendapatannya dari pertanian akan kehilangan sumber mata pencaharian, dan ini sangat rawan,” harap Anton.[]

Penulis : Basri Marzuki
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini