Mengembalikan Rumah Ikan di Pantai Mamboro

0
282

PALU – Pagi hari Wawan (34) sudah bersiap melaut. Alat mancing termasuk bekal makan siang sudah disiapkan Maimun (32) istrinya. Bersamaan dengan anaknya ke sekolah, Wawan pun berkemas meninggalkan rumahnya menuju laut Teluk Palu.

Siang menjelang sore, Wawan kembali mendayung menuju rumah. Ember berisi hasil tangkapan ikan ditenteng enteng. Hari itu, ia hanya mendampat beberapa ekor ikan. Tak cukup untuk dijual. Hanya bisa dikonsumsi seisi rumah. Tak sekali ini, tangkapan ikan selalu nihil. Beberapa hari sebelumnya pun tangkapannya selalu hanya cukup untuk konsumsi anggota keluarga.

Faidah (28) tahun juga mengeluhkan hal yang sama. Suaminya tak lagi antusias melaut. Tak hanya hasil tangkapan yang berkurang. Bahkan melautnya pun makin jauh. ”Capek saja yang didapat. Jauh ke laut tapi ikannya sedikit,” keluhnya saat ditemui di Pantai Mamboro, Minggu 21 Juli 2019.

Padahal sebelum gempa tsunami menyapu Pantai Mamboro, tangkapan nelayan, selain cukup untuk konsumsi di rumah juga masih ada yang dijual. Menurut Faidah, dulu suaminya menebar jaring tidak jauh dari garis pantai, dan mendapat ikan-ikan kecil untuk dijemur. Kini, untuk menjaring ikan sejenis harus ke laut dalam. Itupun tak selalu ada. ”Dulu jualan ikannya bisa Rp250 ribu sehari. Sekarang dapat Rp50 ribu saja sudah syukur,” katanya. Untuk menambal keuangan keluarga Faidah mengaku, menjadi buruh cuci harian di sejumlah rumah.

Ahmad L Maliki, adalah salah satu nelayan dan pegiat pelestarian di Pantai Mamboro yang gelisah dengan makin minimnya tangkapan nelayan. Ia menenggarai, salah satu penyebabnya adalah matinya terumbu karang tempat berkembangnya biota laut akibat disapu tsunami 28 September tahun lalu.

Sebelum gempa kata dia, nelayan -nelayan di Mamboro cukup menebar jala tak jauh dari pantai. ”Ikan-ikan di sepanjang pantai ini masih banyak. Nelayan cukup pasang jalanya di sini saja. Sekarang nelayan kita harus melaut sampai ke tengah,” katanya sambil menunjuk area pantai. Maliki yang juga seorang nelayan, merasakan makin langkanya ikan di kampung kelahirannya itu.

TERUMBU KARANG MUSNAH

Sebulan setelah gempa, ia menyelam di sepanjang pantai Mamboro Induk hingga taman rekreasi Taipa Beach. Ia kaget mendapati terumbu karang yang tumbuh membujur sekitar 600 meter di sepanjang pantai, habis diterjang tsunami.

Padahal terumbu karang yang sudah tumbuh baik itu, ditanam dan dipelihara dengan susah payah sejak 2004. ”Saya tanam sejak 2004. Tumbuhnya sudah bagus dan menyebar di sepanjang pantai. Ikan batu banyak di sini waktu itu,” katanya. Sekarang tak hanya karangnya yang lenyap, ikan pun menghilang.

Ahmad Maliki ingin mengembalikan Pantai Mamboro seperti dulu. Tak hanya karang yang indah tapi juga pantai yang banyak jenis ikannya. Sejak pekan lalu, upaya itu dimulai. Menggunakan perahu miliknya, bersama tiga temannya, berangkat subuh hari menuju perairan Banawa – Donggala. Di sana mereka mencari bibit terumbu karang jenis jahe. Ia bersyukur dengan bantuan dari relawan Arkom yang membantu pendanaan. Bantuan tersebut ungkap ayah tiga anak ini, membuat budidaya terumbu karang di wilayahnya bisa terwujud.

Pada tahun 2004 katanya, tidak ada bantuan dari siapa pun. ”Semuanya dilakukan sendiri. Ada beberapa teman dekat yang ikut bantu,” jelasnya. Saat ini untuk melakukan dengan biaya sendiri, terasa berat. Budidaya tumbuhan laut itu, membutuhkan modal cukup besar. Apa lagi jika yang ditanami sampai 300 – 400 meter.

Ia bersyukur upayanya itu mendapat dukungan penuh dari relawan kemanusiaan Arkom, yang membantu pengadaan semen dan besi. Terumbu karang didudukan di atas balok berukuran 70 x 10 sentimeter yang terbuat dari semen dengan tulangan dari besi 10. Bibit karang diikat kuat pada pipa yang ditancapkan di balok. Balok itulah yang berfungsi sebagai dudukan sekaligus menahan agar bibit karang muda, tidak tersapu arus di dasar laut.

Menurutnya, usai ditanam tidak dibiarkan begitu saja. Setiap tiga hari harus selalu dicek. Disiangi jika ada plastik atau tumbuhan liar mengganggu tumbuh kembangnya. Atau diganti jika ada yang mati. ”Pengecekan dilakukan selama tiga bulan. Memasuki bulan keenam biasanya karangnya sudah tumbuh solid,” rincinya. Kini, di kawasan yang sedang ditanami terumbu karang dipasang pelampung sebagai penanda agar tidak ada nelayan yang menebar jala di situ, agar tidak mengganggu karang yang sedang dalam masa pemeliharaan.

Ia berharap kerjasamanya dengan Arkom bisa berlanjut. Setidaknya kata dia, kawasan Pantai Mamboro sepanjang 300 – 400 meter akan ditumbuhi karang yang kelak berfungsi untuk rumah ikan. Jika usaha pelestarian terumbu karang berjalan lancar, ia memprediksikan pada tahun keempat, saat karangnya tumbuh dan berkembang ikan ikan kembali banyak maka penghasilan nelayan bisa kembali seperti sediakala.

Penulis: Yardin Hasan
Foto: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini