Mengabadikan Momen Sulteng Bangkit Lewat Foto

0
321
Salah satu potret yang menggambarkan tiga orang anak korban likuefaksi Balaroa, yang sedang asyik bermain ayunan. Foto ini merupakan karya fotografer Kantor Berita Antara Sulteng, Basri Marzuki.

PALU – Kamis, 26 September 2019, sejumlah fotografer yang tergabung dalam organisasi Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu, terlihat sibuk memajang hasil karya mereka di salah satu stand pameran di Lapangan Vatulemo, Kota Palu.

Foto – foto yang dipajang itu merupakan hasil karya yang mereka abadikan setahun pascabencana. Di sudut stand pameran, tampak pemandangan tiga perempuan berusia sekitar delapan tahun, duduk diatas ayunan terbuat dari ban mobil yang diikat dengan tali pada kedua ujung kayu sepanjang 1,5 meter.

Sambil tertawa lepas, mereka menggenggam erat kedua tali ayunan, satu dari tiga anak tersebut bermain ayunan sambil memeluk adik bayinya. Pemandangan itu diabadikan oleh fotografer Kantor Berita Antara, Basri Marzuki dalam sebuah foto berukuran 17 R.

Momen itu diabadikan dua bulan pascabencana, tepatnya Sabtu, 28 Desember 2018 di Taman Bermain Anak di lokasi pengungsian Balaroa, Jalan Sumur Yuga Palu. Ketiga anak itu adalah korban bencana alam likuefaksi Perumnas Balaroa.

Lewat karya itu, Basri Marzuki, menerangkan sejumlah lembaga pemerhati anak baik dari dalam maupun luar negeri juga turut memberi dukungan pemulihan korban bencana, terutama kepada anak-anak terdampak bencana Pasigala.

Di samping stand juga digelar teatrikal yang diperankan oleh kelompok sanggar seni Gimba dari Fakultas Sastra Universitas Alkhairaat Palu. Teatrikal yang mengisahkan terjadinya gempabumi bermagnitudo 7,4 SR ini, cukup memukau perhatian Walikota Palu, Hidayat dan juga masyarakat yang hadir saat itu.

Bak aktor teater kelas nasional seperti W.S. Rendan dan Arifin C. Noer, belasan muda-mudi sanggar seni Gimba, dengan properti pendukung sederhana membuat semua penonton terpana.

Pameran karya dibalik bingkai foto, aksi teatrikal serta musikalisasi puisi dari sanggar seni Gimba Fakultas Sastra Universitas Alkhairaat Palu itu, adalah rangkaian kegiatan pameran foto yang digagas oleh PFI Palu dan LKBN Antara Biro Sulteng.

Kegiatan yang dimulai sejak tanggal 26-hingga 28 September 2019, dilaksanakan untuk merefleksi sekaligus mengingatkan kembali kepada masyarakat Kota Palu dan sekitarnya terkait bencana yang telah merenggut ribuan korban jiwa.

Menariknya di ajang pameran foto yang bertemakan “Sulteng Bangkit, Setelah Setahun Bencana” itu, tidak menampilkan sisi sensitif bagi korban bencana atau pun visual gambar yang mengandung unsur traumatik terhadap masyarakat terdampak.

Ketua Panitia Pelaksana Moh Rifki, menyampaikan foto yang dipamerkan dalam agenda satu tahun pascabencana, merupakan gambaran kehidupan dan proses pemulihan penyintas. “Yang ditampilkan di pameran ini adalah gambaran proses masyarakat terdampak yang telah bangkit secara mandiri usai bencana,” ujarnya.

Sementara itu, Jurnalis Foto LKBN Antara Oscar Matuloh, yang turut menghadiri kegiatan itu, mengatakan, percepatan pemulihan masyarakat Kota Palu dan sekitarnya sangat cepat.

Oscar mengakui menyaksikan sendiri, bagaimana Palu, Sigi dan Donggala porak-poranda ditimpa bencana setahum silam. Namun, dengan cepatnya mereka bangkit.

“Terbukti kawan-kawan saya para pewarta foto di Palu sudah bangkit dan memberikan semangat lewat pameran foto ini,” sebut Oscar yang baru-baru ini dianugerahi gelar Empu Ageng Bidang Foto Jurnalistik dari Institut SeniIndonesia (ISI) Yogyakarta .

Kepala Biro Antara Sulteng Rolex Malaha, mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Palu, yang telah memberikan dukungan atas terlaksananya pameran foto ini.

Dia berharap, dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Palu melalui Walikotanya menjadi contoh daerah lain, untuk mendukung karya-karya jurnalistik para jurnalis, termasuk wartawan foto. “Pameran ini juga menjadi wadah para jurnalis foto untuk mengembangkan hasil karyanya.” Ucap Rolex.

Di tempat yang sama, Wali Kota Palu Hidayat, mengapresiasi pameran tersebut. Menurut Hidayat, semua momen yang direkam dalam foto-foto yang ditampilkan pada pameran ini tidak menunjukkan sisi yang memicu warga mengulang kembali kesedihannya menjelang peringatan satu tahun bencana.

“Yang kita lihat, pemandangan anak-anak tertawa, dan aktivitas warga yang menunjukkan semangat. Ini patut diapresiasi,” ujarnya.

Hidayat mengungkapkan, peringatan satu tahun bencana ini merupakan momentum introspeksi diri bagi semua masyarakat Pasigala atas peristiwa 28 September 2018.

“Jadi kita fokuskan dengan acara keagamaan seperti dzikir dan doa massal di berbagai titik Kota Palu dan sekitarnya.

Reporter : M Faiz Syafar
Editor      : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini