Menembus Kulawi

0
177

Tidak hanya gempa dan tsunami, di beberapa kecamatan di Sulawesi Tengah juga dilanda banjir bandang pada 21 Oktober 2018 lalu. Hujan lebat yang menyebabkan banjir bandang ini sempat memutus beberapa jalur, seperti jalur ke Kulawi. Pada Sabtu (3/11), tim ERCB – Emergency Response Capacity Building mencoba menembus Kulawi sekaligus melakukan kajian kebutuhan pasca bencana.

Jalur yang terputus adalah antara Desa Salua dan Desa Namo dan sama sekali tidak bisa dilewati kendaraan karena dipenuhi lumpur dan potongan-potongan kayu. Setidaknya empat kecamatan, yaitu Kecamatan Lindu, Kecamatan Kulawi, Kecamatan Kulawi Selatan, dan Kecamatan Pipikoro terisolir untuk sementara waktu.

“Sudah kurang lebih seminggu ini, jalur menuju Kulawi sudah dapat dilewati baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat,” kata Suaib, seorang warga Dusun Sadaunta. Namun tetap dibutuhkan kehati-hatian ekstra saat melintas jalur tersebut, terutama jalur antara Salua dan Namo. Di beberapa bagian masih terlihat sisi tebing yang masih rawan longsor. Batang-batang kayu juga masih nampak di beberapa bagian tebing. Di beberapa titik, jika menggunakan kendaraan roda empat, untuk kendaraan yang berlawanan arah harus bergantian untuk melewatinya karena lebar jalan sementara yang dapat dilewati terbatas dan jurang yang mengancam di salah satu sisi. Diberlakukan jadwal buka tutup di jalur ini. Jalur hanya dibuka pada pukul 11.00 sampai dengan pukul 13.00 WITA dan pukul 16.00 sampai dengan pukul 20.00 WITA.

“Diluar jam-jam tersebut, jalur menuju dan dari Kulawi ditutup untuk pengerjaan jalan,” tambah Suaib. Pemberlakuan penutupan jalan dengan menggunakan portal yang diletakkan di Dusun Sadaunta, Desa Namo. Tampak petugas keamanan juga berjaga disana.

Saat beristirahat di dusun tersebut, terlihat 2 buah ekskavator sedang dikerahkan untuk mengamankan bagian tebing dengan membuat semacam teras di bagian tengah tebing tersebut. Diharapkan dengan adanya teras tersebut, jika terjadi longsor maka longsoran akan tertahan dan tidak sampai ke jalan. Tanah hasil kerukan bagian tebing tersebut dibuang ke jalan untuk kemudian diratakan dan dikeraskan dengan menggunakan menggunakan alat berat lainnya. Di beberapa titik lainnya, kami juga sempat berpapasan dengan para pekerja yang meratakan jalan dengan menggunakan alat berat.

Perjalanan menuju Kulawi masih sekitar kurang lebih 10 km. Sepanjang perjalanan tersebut, terlihat beberapa titik longsor walaupun dalam skala kecil. Nampak juga retakan-retakan di jalan yang dilalui. Untuk desa-desa di Kecamatan Kulawi, sebagian besar kerusakan diakibatkan oleh gempa. Posko-posko pengungsian nampak didirikan untuk para warga terdampak. Namun yang menarik adalah, banyak warga terdampak di wilayah Kulawi yang sudah membangun hunian sementara dengan menggunakan bahan-bahan yang masih dapat dimanfaatkan dari sisa-sisa rumah yang rusak akibat gempa.

Berbentuk rumah panggung, para warga membangun hunian-hunian sementara tersebut dengan menggunakan bahan utama bambu, kayu, dan seng. Bentuk rumah panggung dipilih agar alas rumah tidak langsung tanah akan tetapi bisa menggunakan kayu. Selain itu, jika turun hujan, maka air tidak masuk ke dalam hunian sementara tersebut, seperti yang nampak di Desa Boladangko ketika kami singgah disana. Kepala Desa Boladangko, Roni Tohama dan para warga yang rumahnya rusak akibat gempa, membangun hunian sementara di pinggir sebuah lapangan. “Kami memilih untuk tinggal disini untuk sementara waktu daripada kembali ke perkampungan,” kata Roni.

Pemandangan yang sama kami lihat ketika masuk ke Desa Tangkulowi. Para warga membangun kembali rumah-rumah mereka yang rusak dengan kayu, bambu, dan seng. Berbeda dengan di Desa Boladangko, di desa ini, warga membangun hunian sementara di lokasi bekas rumah mereka.

Selain kebutuhan akan beras dan bahan makanan lainnya, peralatan rumah tangga seperti alat-alat untuk memasak juga dibutuhkan. Hal itu karena warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang di rumah mereka ketika bencana gempa terjadi. Sarana untuk anak-anak sekolah juga perlu diperhatikan, karena untuk sementara waktu mereka beraktivitas dengan menggunakan tenda-tenda darurat akibat rusaknya bangunan tempat mereka bersekolah.

Saat ini sudah memasuki musim penghujan. Semoga kekhawatiran akan kembali longsornya jalur antara Salua – Namo tidak terjadi sehingga akses menuju Kulawi tidak kembali terputus.

Sumber: Kareba Palu Koro Edisi II (Newsletter terbitan konsorsium ERCB – Emergency Response Capacity Building)
Editor: Firmansyah MS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini