Menelusuri Perjuangan Panjang Para Penerima Dana Stimulan

0
604
PERIKSA NAMA - Warga memeriksa nama mereka sebagai penerima dana stimulan (foto: Ikram)

PALU  – Sinar (68) terperangah ketika melihat namanya tidak masuk tercantum dalam kategori rumah rusak berat pada daftar pengumuman yang ditempel pihak kelurahan Boyaoge, Kecamatan Tatanga, Kota Palu.

Sinar satu dari sekian warga namanya berubah dari kategori rusak berat, menjadi kategori rusak ringan, masih ada sebagian warga dan kelurahan lainya mengalami hal sama.

” Sudah bolak-balik dicermati, teliti setiap nama-nama pada daftar rumah rusak berat , tapi hasilnya nihil, ” kata salahsatu anaknya Abdul Gafur ditemui kediamannya di Jalan Buah Pala, Kelurahan Boyaoge, Kota Palu, Selasa (26/11).

Setelah itu , Abdul Gafur melakukan pengecekan katagori rumah rusak ringan, ternyata namanya ada. Pengecekan itu dilakukanya sekitar awal bulan November.

Dia pun melakukan komplain kepada pihak kelurahan. Mempertanyakan status katagori kerusakan berubah dari rusak berat menjadi rusak ringan.

Oleh pegawai kelurahan, ia diarahkan ke Badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) Kota Palu. Sampai di BPBD Kota Palu, Ia disuruh kembali menanyakan ke pihak kelurahan pada data yang ada di sistem komputer.
”Dua kali bolak-balik ke BPBD disana, ia menyerahkan kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK),” katanya.

Sekembalinya dari BPBD Kota Palu, Ia lalu kembali melakukan konfirmasi ke Pihak kelurahan untuk mengecek pada sistim komputer, ternyata nama Sinar masuk dalam kategori rusak berat.

Pegawai kelurahan menyuruhnya menyiapkan serta melengkapi berkas kembali diantaranya foto copy KTP, KK, Surat kepemilikan tanah, dan lunas bayar PBB.

Setelah melengkapi semua persyaratan yang diminta, Abdul Gafur belum dapat tenang, apakah rumahnya nanti masuk dalam katagori rusak berat atau ringan. Pernyataan dari pegawai kelurahan sedikit membuatnya tenang,

“kalau masih ada nama di sistem komputer kelurahan tidak usah kuatir, penting namanya sudah ada,” kata Abdul Gafur mengutip ucapan pegawai kelurahan.

Sebab nantinya , kata dia, masih akan ada petugas untuk melakukan survey, disampaikan agar menunggu saja untuk didatangi tim survey.

“Sudah seminggu lebih, sejak dimasukkan berkas, belum ada tim yang datang survei ,” ujarnya.

Dari pantauan media ini struktur pondasi kiri dan kanan bangunan turun, tembok dapurnya ambruk tak bersisa, beberapa sudut-sudut bangunan terlepas tidak lagi saling berkait dan mengikat, terjadi retakan-retakan baik tembok dan sebagian lantainya.

Abdul Gafur menuturkan, pascagempa, sekitar Oktober 2018, ada banyak yang datang mendata, Ia sudah tidak ingat lagi dari instansi/lembaga mana, pastinya mereka mengambil data dan foto kerusakan rumah kala itu.

Ia mengatakan, sekitar bulan November 2018 kunjungan wakil presiden ke Sulteng bahwa warga mengalami rumah rusak berat akan dapat dana stimulan Rp50 Juta, rusak sedang Rp25 juta, rusak ringan Rp10 juta.

Untuk itu semua rumah mengalami kerusakan didata oleh dinas terkait saat itu, sekitar bulan Juni 2019 BPBD Kota Palu membuat satu website bagi semua warga rumahnya mengalami rusak berat, sedang dan ringan, hal ini guna memudahkan warga melakukan pengecekan.

Saat itu, Sabikun kakaknya mengecek website BPBD Kota Palu, nama Sinar (ibunya) tercantum dalam katagori rusak berat. Sampai kemudian disuruh melengkapi data KK, KTP dan memasukannya ke kantor lurah guna selanjutnya diserahkan ke kantor BPBD Kota Palu. Kenyataanya saat dicek pada pengumuman kantor lurah nama Sinar (ibunya) masuk katagori rumah rusak ringan.

“Mudah-mudahan setelah memasukkan kembali berkas ini, masuk dalam kategori rusak berat,” harapnya cemas.

Lain pula dialami Ahmad Baihaqi, warga Boyaoge lainnya. Paska gempa 28 September usai petugas Instansi melakukan pendataan, juga didampingi RT setempat. Ia mengungsikan istri beserta anaknya kembali ke Sulawesi Selatan Makasar – asal daerahnya.

Hal ini dilakukan Ahmad Baihaqi, disebabkan rasa ketakutan istri beserta anaknya, adanya masih sering terjadi susulan gempa-gempa kecil. Selain itu sebagian dapur rumahnya ambruk, beruntung masih ada tembok rumah tetangga yang menahannya kiri dan belakang. Jika tidak bagian tersebut jatuh ke tanah semua. Bagian lantainya pun mengalami retak-retak.

Sekitar 7 bulanan Ahmad Baihaqi meninggalkan rumahnya ke Makasar, sampai Ia mendengar kabar bahwa rumah mengalami kerusakan akan mendapat dana stimulan.

Ia pun lalu melakukan pengecekan pada website BPBD Kota Palu guna memastikan, bahwa dirinya berhak mendapat dana stimulan. Walau dia belum tahu pasti tingkat kerusakannya.

Setelah melakukan pengecekan namanya masuk dalam penerima data stimulan dengan katagori rumah rusak ringan.

Ahmad Baihaqi lalu balik ke Palu melengkapi syarat-syarat tersebut dan dimasukkan ke kelurahan setempat tinggalnya berada. Setelah semua urusan selesai, Ia lalu balik ke Makasar, menunggu informasi perkembangan selanjutnya. Saat di Makasar, ia meminta tolong keluarganya berada di kota Palu untuk mengecek namanya. Hasilnya, namanya tidak ada terdapat dalam data.

Dia pun lalu melakukan koordinasi dan mempertanyakan pada RT tempat tinggalnya, melalui sambungan telpon, oleh ketua RT tempat tinggalnya disarankan melengkapi persyaratan guna dimasukkan kembali.

Baihaqi memenuhi saran tersebut, melalui salahsatu keluarganya ada di Palu untuk memasukan berkas persyaratan dimaksud. Sampai saat ini nasibnya pun, belum ditahu apakah namanya akan masuk terdaftar atau tidak. “belum jelas,” kata Ahmad Baihaqi mengutip kata salahsatu keluarganya di Palu.

Berdasarkan data ditempel di Kelurahan Boyaoge, rumah mengalami rusak berat 38 unit, rusak sedang 108 unit, rusak ringan 494 unit.

Di tempat terpisah kantor Kelurahan Petobo masih ada warga melengkapi syarat administrasi untuk nantinya mendapat dana stimulan sesuai kategori kerusakannya.

RUSAK – Abdul Gafur menunjukan bagian dalam rumahnya yang rusak di Kelurahan Boyaoge (foto: Ikram)

Ditemui diruang kerjanya, Lurah Petobo Alfin H Ladjuni mengakui masih ada sebagian warganya tidak terdata masuk dalam penerima dana stimulan atau dari yang sudah terdaftar kategori rumah rusak berat, berubah masuk kategori rumah rusak ringan atau tidak sama sekali.

” Setiap waktu data ini terus berubah, katanya.

Ia mengatakan, pendataan yang mengalami rumah rusak dilakukan pihak kelurahan pasca bencana dengan perangkatnya, usai dilakukan pendataan, data tersebut lalu diserahkan ke Bappeda kala itu.

Dia menyebut, jumlah rumah warga yang mengalami rusak berat, sedang dan ringan kelurahan Petobo totalnya sekitar 2.508 unit. Jumlah tersebut dengan rincian rumah rusak berat (RB ) 1.455 unit, rusak sedang (RS) 647 unit, rusak ringan (RS) 406 unit.

Dia menambahkan, penentuan kategori kerusakannya , diassesament tim BPBD.

” Jumlah tersebut baik sudah valid maupun invalid,” katanya.

Dia mengatakan, maksudnya valid disini sudah memasukan KTP dan KK , sedangkan yang invalid belum memasukan KKnya.

Selanjutnya kata dia, data tersebut sudah diserahkan, kepada BPBD Kota Palu, dibawa ke Jakarta guna diserahkan kepada badan penanggulangan nasional bencana (BPNB).

” Tapi sampai saat ini masih ada saja warga belum terakomodir, ” katanya.

Untuk itu kata dia, pihaknya , masih terus menerima berkas warga belum terakomodir sekitar 200 kepala keluarga (KK).

” Ini sebagai data tambahan, nantinya,” katanya.

Ia mengatakan, warga belum terakomodir ini diantara penyebabnya pasca gempa meninggalkan kelurahan Petobo, kembali setelah dirasa aman dan kondusif.

” baru mengurus berkas-berkasnya,”katanya.

Ia mengatakan, pihaknya sangat selektif dan teliti terkait data-data tersebut. Jangan sampai ada berhak mendapatkan, tapi tidak masuk, begitupun sebaliknya.

” mereka masuk sebagai data tambahan, harus menunggu perkembangan selanjutnya,” katanya.

Kepala BPBD Kota Palu , Singgih B Prasetyo mengatakan bagi masyarakat belum terdata atau ada perubahan kategori kerusakannya tidak perlu kuatir, masukan saja berkas-berkasnya di kelurahan, nanti akan ada tim yang memverivikasi, jadi tidak usah kuatir dan jadi masalah.

” Tapi harus bersabar,” katanya.

Dia mengatakan, begitulah dinamika pendataan, apalagi skala bencananya besar, tidak serta merta datanya langsung valid.

” Akan dilakukan verivikasi dan validasi, ” katanya.

Walikota Palu menyerahkan langsung data penerima dana stimulan rumah rusak berat, rusak sedang dan rusak ringan ke BNPB pusat di Jakarta pada Senin, (02/12).

Data penerima dana stimulan rumah rusak berat sedang dan ringan tersebut diterima direktur pemulihan dan peningkatan fisik BNPB pusat, Taufik Kartiko.

Sesuai data hasil verifikasi dan validasi BNPB yang telah disesuaikan dengan keputusan Gubernur Sulteng nomor 360/006/BPBD- G-ST/2019, data rumah rusak 55.102 unit, dengan rincian rumah rusak berat 11.603 unit rusak sedang 15.917 unit rusak ringan 21.078 unit.

data penerima dana stimulan rumah rusak berat tahap 1 sebanyak 1594 unit data selisih rumah rusak berat tahap 1 dan hasil verifikasi dan validasi BNPB sejumlah 38805 unit data selisih umur sebatang pertama dan hasil verifikasi dan validasi BNPB sejumlah 8194 unit dengan rincian rusak berat 4847 unit rusak sedang 475 unit dan rusak ringan 2877 unit bahwa masih terdapat rumah rusak berat sedang dan ringan yang belum terdata disebabkan korban yang mengungsi ke luar kota Palu baik yang ada di Kabupaten ada di Sulawesi Tengah maupun keluar dari wilayah Sulawesi Tengah saat ini telah kembali ke kota Palu sejumlah 15965 unit dengan rincian sebagai berikut untuk rumah rusak berat sebanyak 1910 unit rusak sedang 4512 unit dan rusak ringan 9503.

Penulis  : Ikram
Editor    : Yardin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini