Menata Masa Depan di Hunian Idaman

0
105
HUNIAN BARU - Deretan hunian baru kini sudah ditinggali penyintas setelah rumahnya lenyap dihantam gempa, tsunami dan liquefaksi, dua tahun silam. (f-Kristina Natalia)

PALU – Memiliki rumah impian adalah dambaan setiap orang. Siapa pun dia, akan menginginkan hunian yang refresentatif. Tak sekadar untuk bernaung. Di rumah, semua masa depan akan dirancang.

Gempa berkekuatan 7,4 SR September 2018, membuyarkan semua harapan itu. Tak hanya rumah yang lenyap. Harapan nyaris hilang, bahkan banyak nyawa terenggut dalam tragedi kemanusiaan paling menyedihkan dalam sejarah Sulawesi Tengah itu.

Tragedi besar ini memantik empati dari beragam kalangan. Dalam dan luar negeri. Salah satunya datang dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang bekerjasama dengan Eka Tjipta Foundation dan Indofood membangun Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi di Kelurahan Tondo, Mantikulure – Palu Timur.

Rampung Mei 2020, rumah persembahan Yayasan Buddha Tzu Chi kini sudah ditinggali warga penyintas di Kota Palu. Lima bulan menempati hunian asri yang berbatasan dengan Kampus Universitas Tadulako itu
warga mengaku bisa hidup tenang sekaligus mengakhiri kisah seribu satu cerita getir di hunian sementara atau tenda pengungsian.

Seperti yang dilakukan Rahmawati (45) dan suaminya Jamal (50). Pasangan yang menghuni blok R-12, membuka usaha jualan kebutuhan sehari -hari. Berbagai macam kebutuhan sehari-hari dijual di sana. Di depan rumah terparkir gerobak dorong warna hijau. Ujung kanan tertulis jual nasi kuning dan sayur masak. Warga asal Perumnas Balaroa adalah orang pertama yang menempati blok R. Jualan lauk pauk digeluti Rahmawati sejak beberapa waktu lalu. Menurut dia, ia adalah orang pertama yang menjual sayur matang di kawasan perumahan berkapasitas 1.500 rumah tipe 36 tersebut. ”Alhamdulillah laris karena belum ada yang usaha makanan di sini,” katanya.

Perempuan ramah ini mengaku memulai semuanya dari nol. Harta yang ia kumpulkan semasa di Balaroa ludes tak bersisa. Usaha bisnis yang dirintis bertahun-tahun di Perumnas Balaroa digulung liquefaksi. Walau demikian, Rahmawati tetap bersyukur. Ia dan suaminya masih diberikan kesempatan hidup. Bayangan masa depan makin jelas, saat nama suaminya dipastikan menjadi penghuni salah satu huntap donasi dari Yayasan Buddha Tzu Chi.

Mendiami hunian baru, bukan berarti aman dari ancaman. Untuk pertama kalinya banjir melanda Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi pada 16 Agustus 2020. Rahmawati pun merasa ketar ketir. Berada di posisi ketinggian, ia merasa yakin aman dari ancaman seperti banjir. Ia baru sadar saat air mulai masuk di huniannya. Mendadak Rahmawati keluar rumah dan sibuk mengamankan barang-barang dan jualannya.

Kejadian ini membuatnya dihantui kekhawairan. ”Kita mau bagaimana lagi, di sana bencana di sini bencana. Pasrah sudah kita,” tutupnya. ***

Penulis  : Kristina Natalia
Editor    : Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini