Menaruh Asa di Atas Sesar Palu Koro

0
599

PALU – Asnidar menjadi salah satu saksi, ketika bumi berguncang begitu kuat, memporak-porandakan Kota Palu, 28 September 2018, setahun silam. Kala itu, Asnidar bersama Iwan suaminya sedang berada di rumahnya di Jalan Cemara, Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu.

Ketika sedang sibuk dengan aktivitas, tiba-tiba saja bumi berguncang, lampu gantung berayun kesana kemari, benda-benda hias di lemari pajang berjatuhan, suara gemuruh dari dalam tanah menggelegar. Bangun rumah bergeser, tangisan anak-anak hingga orang dewasa riuh menjadi satu.

“Beruntung kami sekeluarga selamat ketika itu,” ujarnya sambil menundukkan kepala sejenak, mencoba mengenang kembali peristiwa menakutkan itu.

Rumah Asnidar yang terletak tepat di atas jalur patahan Sesar Palu Koro itu, bergeser hingga beberapa meter dari tempat asalnya. Tak tahan melihat kondisi rumahnya, satu minggu pascabencana tepatnya 5 Oktober 2018, Asnidar sekeluarga memutuskan mengungsi ke Kotamobagu, Manado, Sulawesi Utara.

Dua minggu kemudian, mereka kembali lagi ke Kota Palu, berusaha bangkit kembali. Awal Maret 2019 kemudian, mereka mengumpulkan puing-puing kayu dari bangunan rumahnya yang telah porak-poranda, lalu membangun hunian sementara berukuran 7×5 meter. “Membangun rumah panggung ini, memakan waktu sekitar satu bulan, soalnya ongkos pembangunan terbatas,” ujarnya.

Meskipun rumahnya sekarang tidak seluas rumah sebelumnya, yang memiliki panjang 22 meter dan lebar 11 meter, dirinya bersyukur masih diberikan kesempatan hidup setelah bencana.

Iwan mengatakan, hanya membutuhkan biaya Rp1 juta lebih untuk membangun hunian sementara miliknya. Karena, hampir seluruh bahan bangunan memanfaatkan sisa kayu yang ada. “Satu juta itu hanya untuk beli tripleks dan beberapa sak semen untuk lantai di bawah rumah,” katanya sambil menunjuk ke arah rumahnya.

Iwan juga mendapatkan pembagian satu unit huntara di Donggala Kodi, namun, huntara itu hanya dihuni anak-anaknya, karena, menurutnya huntara tanpa sekat itu, dianggap tidak memadai bila semua anggota keluarganya tinggal di hunian itu. Belum lagi sulitnya mendapatkan air bersih. “Anak-anak saya sudah besar semua, tidak memungkinkan jika saya dan istri tinggal di huntara yang hanya berukuran 3×4 meter,” kata Iwan.

Sekitar sepuluh meter dari rumah panggung Iwan, patok terpasang di jalur sesar menghiasi pinggir jalan Cemara. Patok yang dibuat oleh tim peneliti ekspedisi Palu-Koro itu memilki barcode, jika barcode itu di scan menggunakan smartphone, pengguna HP akan di arahkan ke website geotour di laman pencarian.

Setelah masuk dilaman tersebut, secara otomatis pengguna HP diberi informasi yang berbunyi “saat ini anda sedang berdiri di atas retakan permukaan (Surface Rupture) Sesar Palu-Koro, segmen Palu yang bergerak pada tanggal 28 September 2018.”

Iwan bukan satu-satunya warga yang merasakan dampak guncangan gempa berkekuatan 7,4 SR, Muhammad Yusuf, warga Jalan Padanjakaya, Kelurahan Pengawu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, pun merasakan hal yang sama. Ia mengatakan, saat gempa terjadi, ia tak bisa berkata-kata selain berdoa dan pasrah.

Barang dagangan yang tertata di rak kayu, di dalam kios Yusuf, jatuh berhamburan tertimpa rak kayu dengan tinggi dua meter lebih, menyusul lemari kaca atau etalase pun jatuh tak karuan, susunan tiga rak telur beserta isinya pun pecah berhamburan disana sini.

Saat itu juga, Yusuf bersama istri dan seorang anaknya terbentur dinding dan rak dagangan sembari berusaha sekuat tenaga keluar dari dalam kios untuk menyelamatkan diri. Setelah berhasil keluar, Yusuf sangat terkejut melihat bangunan sekitar hingga jalan poros Padanjakaya bergeser. “Saat itu, perasaan campur aduk, antara takut, bingung dan gelisah,” ucapnya

“Bangunan kios roboh bersama barang dagangan, kerusakan sekitar 90 persen,” ujar Yusuf sambil sesekali menyeruput kopi buatan istrinya.

Sejak 2015, Yusuf dan keluarga sudah tinggal di Kota Palu, KTP Yusuf pun telah terdaftar sebagai warga berdomisili kota teluk ini. Sejak datang di Palu, Yusuf beralih profesi sebagai pedagang kios, sebelumnya ia berkebun.

Lokasi tempat usahanya yang dikontraknya selama 6 tahun itu, mengalami penurunan tanah atau downlift sekitar 15 cm akibat gempa.

Sejak terjadi peristiwa itu, Yusuf dan keluarganya memilih tak berjualan dan mengungsi sementara ke tempat kelahirannya di Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan.

Pada Tanggal 1 Januari dirinya kembali ke Palu dan kembali membangun kembali usaha kiosnya, dengan modal Rp35 juta, yang ia ambil dari tabungan pribadinya.

Yusuf menyadari dibalik musibah bencana pasti ada hikmahnya. Pria berusa 42 tahun itu, mengungkapkan setelah bencana 28 September keuntungan yang diperoleh dari usaha kiosnya meningkat.

Usahanya ia bangun tepat diatas jalur Sesar Palu Koro. Meskipun sudah pernah ditawarkan pemerintah untuk mendapatkan hunian tetap secara gratis tapi, dirinya tetap kekeh bertahan hidup di tempat tinggalnya. “Pesan orangtua saya jangan takut dengan kondisi alam Kota Palu, dan tetap berserah diri kepada tuhan,” terangnya.

Terpisah, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mudrik Rahmawan Daryono, mengatakan, Sesar Palu-Koro sendiri adalah salah satu sesar aktif di Indonesia dengan panjang bentangan sejauh sejauh kurang lebih 500 Km dari Teluk Palu hingga Teluk Bone, mengarah dari arah Utara hingga Selatan.

Efek yang telah ditimbulkan sesar ini yaitu membelah Pulau Sulawesi dengan berviri sinistral (pergeseran mengiri) dengan kecepatan maksimum sekitar 40-50 mm/tahun.

Reporter : Mohammad Faiz Syafar
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini