Membakaukan Teluk Palu Dimulai dari Panau-Tawaeli

0
289

PALU – Gong membakaukan Teluk Palu dimulai hari ini. Bertepatan dengan Hari Bumi (Earth Day), dimana berbagai cara dilakukan di seluruh dunia untuk menunjukkan kepedulian terhadap planet yang kita tempati ini. Khususnya menyangkut perlindungan lingkungan.

Di Palu, momentum ini dimanfaatkan oleh warga lintas komunitas untuk menanam mangrove – tepatnya di Pantai Talise Kelurahan Mpanau, berjarak 300-an meter dari PLTU batu bara Panau – Tawaeli. Gerakan membakaukan Teluk Palu, adalah kritik terhadap rencana pembangunan tanggul Teluk Palu, yang membentang sejak dari Silae hingga Pantai Talise. Sedikitnya, 50-an warga lintas komunitas di antaranya, Jari Production, Survivor Indonesia, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Relawan Mangrove Teluk Tomini (Remott) Om Dokter serta Pemkot Palu, ikut ambil bagian dalam penanaman mangrove ini.

Hamzah Tjakunu, Pendiri Relawan Mangrove Teluk Tomini (Remott), memberikan penjelasan detail tentang mangrove, jenisnya dan karakternya. Penjelasan ini sekaligus membantah klaim sepihak, bahwa karakter pasir di Pantai Teluk Palu, tak semuanya cocok untuk tanaman mangrove.

Menurutnya, hasil penelitian dari Cida- Kanada didapati sekitar 33 jenis mangrove. Di Teluk Tomini sendiri hanya terdapat 27 dari 33 jenis mangrove yang ada. Sebenarnya, lanjut Hamzah Tjakunu, dari hasil identifikasi sedikitnya ada 202 jenis tumbuhan jenis ini. Namun hanya 33 di antaranya yang berkatagori mangrove sejati. Cirinya, mereka selalu tumbuh di antara pasang tertinggi dan surut terendah air laut. Di Palu sendiri tinggal 13 jenis mangrove yang teridentifikasi.

 

Namun ada pula tumbuhan yang masuk dalam keluarga besar mangrove, baik yang menjalar, perdu, tanaman keras maupun serabut yang selalu berasosiasi dengan pantai. ”Tumbuhan jenis ini masuk pula dalam ekosistem mangrove. Bahkan ada beberapa jenis mangrove lainnya yang tumbuh di ketinggian di daerah Biromaru – Sigi,” jelasnya.

Saat ini katanya, tidak ada lagi ditemukan mangrove dari marga rhizophora di wilayah sekitar pantai Talise Panau. Yang ada hanya di kawasan barat di wilayah Dusun Pangga dan Kabonga Besar – Donggala. ”Ini menjadi keprihatinan kita. Karena ini adalah jenis tanaman paling unggul dan menjadi pionir di bagian depan pantai. Sayangnya, ini punah karena menjadi favorit oleh warga untuk berbagai kebutuhan,” jelas Hamzah.

Hamzah Tjakunu juga menjawab klaim tentang karakter pasir Pantai Teluk Palu yang tidak cocok dengan tanaman mangrove. Menurut dia, itu adalah pemahaman yang salah. Dan hanya memahami bahwa mangrove itu hanya satu jenis. Padahal keluarga mangrove itu puluhan bahkan ratusan. ”Mereka ini cocok dan bisa tumbuh di jenis pantai dan pasir mana pun,” katanya.

Menurutny, aksi pantas diteruskan untuk mengembalikan jenis bakau yang dahulu banyak tumbuh di kawasan tersebut. Dan kini menjadi jarang ditemui. Akibat diambil oleh masyarakat digunakan bahan bangunan. Karena itu, jenis yang ditanam di sini adalah rhizophora. Ada tiga jenis rhizophora yang ditanam, apiculata, mucronata, serta stylosa. Untuk jenis rhizophora pertumbuhannya terbilang cepat. Jika tumbuh normal, dalam setahun, tingginya bisa mencapai 2-3 meter.

Inisiator #TOLAKTANGGULTELUKPALU, Moh Isnaeni Muhidin mengatakan, aksi ini juga sebagai bentuk komitmen terhadap penolakan pembangunan tanggul di pesisir Teluk Palu. Ini adalah langkah konkret dari kelompok sipil yang peduli dengan pesisir Teluk Palu.

Menurut Neni, selama ini pemerintah mungkin hanya mengasosiasikan mangrove dengan bakau. Padahal bakau hanyalah satu dari 22 jenis mangrove. 7 dari 22 jenis mangrove ini kata dia tumbuh di lokasi pasang surut air laut. Sedangkan sisanya tumbuh di daratan, seperti ketapang, nipah, sagu, hingga kelapa.

”Pasca bencana, kita telah melihat, bagaimana mangrove mampu meredam gelombang tsunami dan menyelamatkan banyak nyawa. Pentingnya penanaman kembali mangrove sebagai upaya mengembalikan ekologi pesisir Teluk Palu, harus terus disuarakan,” tegasnya.

Pegiat literasi kebencanaan di Sulawesi Tengah ini, menjelaskan, usai penanaman di Panau – Tawaeli, pihaknya kembali menyasar tiga titik lainnya, Lere, Tipo, dan Gonenggati (Donggala).

”Mari berhimpun dan menanam untuk kehidupan. Selamat hari bumi. Hari di mana sebenarnya dunia memperingati kerusakan yang terjadi di sekujur tubuh ibu pertiwi,” tutup Neni.***

Penulis: Yardin Hasan & Jefrianto
Foto: Yardin Hasan
Editor: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini