Lolos dari Tsunami, Begini Kiat Bertahan Hidup Ala Samsidar

0
128

Sore naas itu saya dan keluarga tidak buka kafe sehingga selamat dari tsunami, tapi rumahku hancur….

SAMBIL mengipas jagung bakar pesanan pelanggan, Samsidar (46) melayani sejumlah pertanyaan dari media ini, tepatnya di kawasan relokasi pedagang kaki lima “Kafe Torabika” Taman Hutan Kota Kaombona, Talise depan Kampus Universitas Muhammadiyah Palu.

Samsidar mengenang Jumat sore, 28 September tahun lalu. “Sore itu saya dan keluarga tidak buka kafe sehingga selamat dari tsunami. Tapi rumahku hancur,” kenang Samsidar.

Pascabencana, Samsidar bersama suaminya Nadir dan anak-anaknya menempati tenda di halaman gedung Olahraga KONI, Talise.

Enam bulan berlalu, Samsidar berusaha bangkit. Selama ini dia tak punya pekerjaan dan tidak ada sumber pendapatan. Seiring dibukanya kembali kawasan Taman Hutan Kota bagi pedagang kaki lima Talise, dia pun memulai kembali usaha dengan modal seadanya.

Gerobak yanh digunakan Samsidar adalah ‘upah’ sang suami dari bertukang membuat lapak yang diperuntukkan bagi rekan-rekannya sesama pedagang.

Samsidar sesekami memutar-mutar jagung di pembakaran pesanan pelanggan.

“Baru sepekan memulai aktifitas ini. Sehingga pendapatan masih kecil. Modalnya pun pas-pasan,” kata Samsidar.

Pendapatan menjual jagung bakar dalam semalam bisa mengantongi sampai antata rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu untuk malam liburan. Tapi malam-malam kadang hanya mendapat Rp80 ribu. Kata Samsidar, cukuplah untuk beli ikan, sayur dan lain-lain. Sedangkan beras masih mendapat pasokan bantuan.

Soal bantuan lainya, dalam beberapa bulan terakhir sudah semakin berkurang. Pasokan air pun menurun, kadang hanya tiga kali dalam sepekan. “Mulai Maret bantuan sudah menipis,” katanya.

Menyangkut huniannya di tenda, pasca bencana hingga bulan keenam masih bertahan. Hanya saja kondisi tenda sudah kurang layak dan mulai sobek. Cuaca panas membuat penghuni tidak mampu bertahan di tenda pada siang hari. Samsidar bersama sesama pengungsi dari Talise memang belum mendapatkan hunian sementara. Begitupula untuk hunian tetap belum ada kepastian.

Terkait bantuan logistik, Pemerintah Kota Palu sudah kewalahan untuk mendanai. Sejak Oktober 2018 hingga Maret 2019, pengungsi masih mendapat pasokan bantuan logistik melalui APBD Kota Palu. Namun mulai April ini, sudah disetop.

Walikota Palu Hidayat mengaku sedang merumuskan strategi untuk untuk tetap membantu pasokan logistik ke pengungsi yang masih mencapai belasan ribu jiwa dan tersebar di beberapa titik.

“Saya berusaha agar saudara-saudara kita yang masih di pengungsian bisa dibantu logistiknya,” kata Hidayat.

Menurut Hidayat, masih ada sekitar 30 persen pengungsi yang masih bertahan di tenda-tenda atau shelter.

“Kita sudah membelanjakan APBD sekitar Rp165 miliar untuk bantuan logistik dan perbaikan jalan-jalan dalam kota yang menjadi kewenangan pemerintah Kota Palu,” ujar Hidayat.

Kasatgas Infrastruktur Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwono mengakui masih adanya hunian sementara yang belum diselesaikan pembangunannya.

Arie berharap bangunan huntara yang sudah selesai agar bisa ditempati. Untuk huntara yang belum mendapat pasokan listrik akan segera ditangani.

Dia mengaku pembangunan terkendala susahnya bahan bangunan dan belum terbayarnya para kontraktor yang membangun huntara. Satgas diminta membangun 699 unit huntara untuk Kota Palu, Sigi dan Donggala. ***

Reporter & Foto: Pataruddin
Editor: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini