Layanan Kesehatan dan Psikososial bagi Korban Gempa, Tsunami dan Likuifaksi

0
138

“Banyak yang mulai mengeluhkan gatal-gatal di sini, mas,” kata Aziz, koordinator Posko Dusun 3 Desa Langaleso ketika ditemui oleh Kareba Palu Koro.
Menanggapi hal tersebut, ERCB – Emergency Response Capacity Building melalui tim kesehatan dari Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (PERDHAKI) yang terdiri dari 2 dokter, 4 perawat, dan 1 apoteker bergerak ke Dusun 3 Desa Langaleso untuk memberikan layanan kesehatan.

”Hal itu kemungkinan dikarenakan kegiatan mandi dan cuci baju berasal dari sumber air baru yang muncul setelah likuifaksi,” ujar Dokter Caraka Anto Yuwono. Selain gatal-gatal, banyak warga yang mengeluhkan nyeri otot dan nyeri kepala. Hal ini dimungkinkan akibat kondisi di pengungsian yang kurang nyaman dan di malam hari pasien susah tidur,” tambahnya. Kasus infeksi saluran pernafasan atas akut (ISPA) karena kondisi lingkungan berdebu pun mulai ditemukan pada beberapa warga.

Selain keluhan-keluhan yang sudah disebutkan di atas, di desa lain ditemukan kasus pada anak-anak yang kemungkinan akibat alergi. Menurut dr. Dion Sulistyo, alergi yang ditemukan pada anak-anak tersebut kemungkinan akibat makanan instan. Bantuan berupa makanan instan dan susu formula memang tidak disarankan karena dapat menyebabkan alergi dan diare pada anak-anak.

Bros untuk Ketenangan
Selain Layanan Kesehatan, PERDHAKI juga memberikan Layanan Psikososial. Pertimbangannya adalah keadaan yang tiba-tiba berubah secara drastis bukan tidak mungkin memengaruhi kondisi seseorang. Tidak hanya secara fisik, namun bisa juga secara psikis. Oleh karena itu, Maria Goretti Ivoni Utami dan Maria Goretti Djanuria Samosir, RGS tergerak untuk membantu para warga terdampak dengan memberikan layanan psikososial di wilayah-wilayah yang terdampak.

“Tujuan pemberian psikososial yang kami adakan untuk memantau keadaan trauma mereka akibat bencana alam secara psikisnya. Adapun secara psikis keadaan mereka (warga terdampak) bisa diobservasi melalui bahasa tubuh mereka dari cara mereka menjawab pertanyaan baik melalui angket yang kami buat maupun dari cara mereka ketika berbagi cerita,” kata Ivon, sapaan Maria Goretti Ivoni Utami.

Beberapa kegiatan yang dilakukan untuk menggali keadaan mereka berupa melakukan kegiatan play therapy, role play, menggambar atau membuat bentuk 3 dimensi dengan plastisin. Setelah itu mereka kemudian diajak untuk berbagi pengalaman tentang bencana yg dihadapi.

Sasaran dari layanan psikososial ini adalah semua anak laki atau perempuan remaja laki atau perempuan dan dewasa laki laki maupun perempuan. Artinya semua orang yang membutuhkan.

“Kami melakukan konseling individu dan kelompok. Bagi mereka yang kami lihat perlu penanganan khusus kami coba dekati secara pribadi,” Ivon menambahkan.
Untuk remaja dan orang dewasa khususnya ibu-ibu walaupun ada juga anak laki-laki atau laki-laki dewasa yang mengikuti layanan kegiatan psikosoial, kami menggunakan teknik kreativitas membuat bros.

Dari hasil karya itu mereka diajak berbagi perasaan tentang duka yg dialami saat bencana terjadi dan mereka bisa bercerita dengan leluasa karena pengalaman yang dialami sama. Dan ibu-ibu ada juga yang mengungkapkan bahwa selama ini mereka tidak pernah disentuh dengan kegiatan psikososial.

Kegiatan membuat bros tersebut memiliki makna tersendiri. Merangkai bros diibaratkan menata kembali puing-puing yang ada. Bila dikumpulkan dan kemudian ditata kembali dengan semangat untuk memperbaiki akan menjadi rumah yang bisa ditempati lagi. Pemikiran atau semangat positif inilah yang coba dibangun melalui layanan psikososial yang diberikan.

“Perlu pendekatan yang berbeda saat kita menangani anak-anak kecil dengan mereka yang sudah dewasa,” kata Sr. Goretti, sapaan Maria Goretti Djanuria Samosir, RGS.

“Anak-anak butuh didekati dulu hingga merasa nyaman dengan kita, baru kemudian bisa ditanya tentang apa yang dia alami atau dia rasakan. Sedangkan mereka yang sudah dewasa sudah bisa diajak untuk sharing apa yang dialami,” tambahnya.

Hal tersebut terlihat ketika Sr. Goretti mendampingi sebuah keluarga yang kehilangan salah seorang anggota keluarganya di Desa Langaleso akibat bencana likuifaksi. Ia meluangkan waktu untuk membuat Syeffa (3) dan Angel (5) merasa nyaman untuk kemudian bercerita tentang ibu mereka yang menjadi korban. Kepada sang ayah, Sr. Goretti berpesan agar meluangkan waktu untuk melepaskan emosinya dalam ruang dan waktu yang tepat dari kesedihan yang dipendam akibat kehilangan istri tercintanya.

Selain di beberapa posko pengungsian, Kareba Palu Koro berkesempatan mendampingi tim ini ketika memberikan layanan psikososial di Sekolah Bala Keselamatan di Palu. Sasarannya adalah para pelajar SMP. Dibagi menjadi dua kelompok, anak-anak dari satu kelas diajak untuk berbagi pengalaman mereka saat bencana terjadi. Diawali dengan berdoa dan bernyanyi, anak-anak diajak untuk membuat sebuah bentuk dengan menggunakan plastisin yang mengingatkan mereka pada detik-detik terjadinya bencana. Ada yang membuat simbol radio, boneka, dan lain-lain. Dari kegiatan tersebut, anak-anak semacam dibuka untuk kemudian mau berbagi cerita tentang apa yang mereka alami saat bencana terjadi baik tertulis maupun secara lisan.

Sebelum berbagi cerita, anak-anak diminta untuk berkomitmen untuk mengeluarkan unek-unek atau perasaan yang selama ini dipendam. “Mau menangis pun tidak apa-apa. Teman-teman yang lain harus mendengarkan dan tidak boleh menertawakan jika ada teman yang menangis,” pesan Ivon kepada anak-anak.

“Kita tidak akan bisa melupakan masa lalu, tapi dengan berpikir positif kita akan dapat belajar banyak hal dari masa lalu untuk perbaikan ke depannya,” tutup Ivon.

Sumber: Kareba Palu Koro Edisi II (Newsletter terbitan konsorsium ERCB – Emergency Response Capacity Building)
Editor: Firmansyah MS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini