Kisah Musriadi : “Tergulung Ombak Hingga Kehilangan Kaki, Istri dan Anak Semata Wayang”

0
306

MEMAKAI kaos oblong merah, dipadu dengan celana kolor merah bergaris putih, lelaki paruh baya menggunakan dua tongkat kruk tampak berdiri didepan hunian sementara Silae. Orang sekitar biasa memanggilnya dengan sebutan Mus.

Mus menggunakan tongkat karena kaki kanannya terpaksa diamputasi akibat terluka dan infeksi saat diseret tsunami pada 28 September 2018 silam.

“Saya belajar ikhlas menerima kondisi saat ini,” kata lelaki yang memiliki nama lengkap Musriadi saat ditemui di hunian sementara Silae belum lama ini.

Awalnya Mus enggan menceritakan ikhwal mengapa kakinya harus diamputasi. Dia tak ingin kembali mengenang kisah pahit dan pilu yang menyebabkan dirinya harus kehilangan istri dan anak semata wayangnya.

Namun, demi memberikan motivasi bagi penyandang disabilitas lainya, Ia pun membagi kisah pilunya.

“Sebenarnya saya tidak mau mengingat kejadiaan itu lagi,” kata dia sambil menyimpan kedua tongkatnya lalu duduk disamping kasur tempat tidurnya. Kedua tangannya memegang selembar kertas sambil menceritakan kisahnya.

Kata dia, pada 28 September silam sore menjelang magrib dia sedang berada didalam rumah bersama Ece (istri) dan Icha (anaknya), tiba-tiba gempa datang. Saat itu istri dan anaknya sangat panik, hendak keluar rumah. Tapi dirinya berusaha menenangkan mereka agar tetap tenang sambil beristigfar.

Namun guncangan semakin kuat dan terus berulang, akhirnya dia memutuskan membawa keluar rumah istri dan anaknya. Tapi, baru saja melangkahkan kaki dan membuka gagang pintu, air bah laut telah menerjang mereka.

Dia bersama keluarga kecilnyapun terseret arus tsunami. Pada hantaman air pertama, dia masih bersama istri dan anaknya. Namun pada hantaman air tsunami kedua kalinya, merekapun terpisah.

Sampai akhirnya, Ia terduduk dan sadar telah berada pada satu bongkahan batu besar dipinggir laut Silae. Di saat dirinya baru akan mengingat peristiwa yang baru saja dialaminya sembari bangkit dari duduknya, Ia pun kembali melihat gulungan air besar menerjang kearahnya.

Ia hanya bisa pasrah serta berdoa dalam hati ketika itu. “Ya Allah jika ini adalah kehendak darimu maka ambilah, tapi, jika bukan selamatkanlah” air lautpun menghempaskannya.

Diapun tidak mengetahui lagi apa yang menimpanya setelah itu. Pria berusia 62 tahun itu baru tersadar, sudah berada di tengah jalan trans Sulawesi Kelurahan Silae. Ia mengamati sekelilingnya dan mencoba untuk berdiri meninggalkan tempat tersebut.

Tapi apa daya, ketika hendak berdiri, kakinya terasa lunglai tak kuat menopang tubuhnya. Disitu baru Ia sadar kakinya telah patah (hancur).

Ia lalu berteriak meminta pertolongan pada orang-orang sekitar, setelah itu tak sadarkan diri lagi.

Sampai akhirnya Ia telah berada di rumah sakit Anutapura untuk dirawat secara intensif. Hampir sekujur tubuhnya mengalami luka, baik kecil maupun besar, akibat terseret arus air dengan material lainnya.

Hari-hari yang rumit itu dilewatinya dirumah sakit, sampai pada titik ia harus diperhadapkan dengan dua pilihan yang sulit yaitu, memilih menolak kakinya diamputasi dengan konsekuensi kakinya hancur, infeksi serta mengancam jiwanya. Atau kakinya harus diamputasi agar jiwanya bisa selamat.

Kala itu, itu dokter memberinya waktu untuk mengambil keputusan paling lama 15 hari. Bila tidak mengambil keputusan maka luka dikakinya akan terus menyebar, bila sudah sampai ke hati dan paru, bisa menyebabkan kematian.

Ia pun meminta waktu satu jam, guna memberi keputusan, atas keberlangsungan hidupnya akan datang.

Setelah menimbang dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa dialaminya. Ia pun memantapkan hati dan menyampaikan kepada dokter agar segera mengamputasi kakinya.

Satu bulan lebih pasca amputasi, Ia mengalami hari-hari yang rumit. Tapi dia menguatkan jiwanya. “Mungkin ada hikmah besar akan didapatkan dari Allah SWT atas peristiwa ini” ucapnya dalam hati meyakinkan dirinya saat itu.

Menurutnya sebagaimana dalam salahsatu firman Allah SWT, sesudah kesulitan akan ada kemudahan.

Firman Allah itulah yang menguatkan dirinya dan dijadikan prinsip dalam menjalani kehidupannya sehari-hari di Huntara Silae. Sebelum menempati Huntara Silae, Ia tidur di emperan masjid Al-Huda Kelurahan Silae. Sebab, rumah yang ditempatinya bersama keluarga kecilnya serta semua harta bendanya hilang disapu tsunami.

Meski telah kehilangan kaki, sanak saudara dan harta benda tak membuat dirinya berputus asa. Ia tetap bersemangat bahkan sesekali Ia memberikan motivasi kepada penyintas lain yang tinggal di komplek huntara.

Di bilik sederhana yang Ia tempati saat ini menjadi tempat satu-satunya saat ini menaruh asa. Kesehariannya banyak menghabiskan waktu membaca dan memahami makna kandungan Alquran lalu diimplimentasikannya dalam menjalani hidup.

“Bukankah dalam agama kita diajarkan, manusia yang baik, adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi lainnya,” ujarnya.

Diapun ingin kembali bangkit, merintis usaha pres percetakan batako bila mendapat bantuan usaha dan telah menerima kaki palsu dari salahsatu lembaga kemanusiaan, yang selama ini mendampinginya.

Sebelum bencana, Ia menggeluti pekerjaan sebagai penyuplai jagung, untuk makanan ayam bagi peternak disekitar Kota Palu. Namun menurutnya dengan kondisinya saat ini, pekerjaan tersebut tidak mungkin lagi dapat digelutinya.

Kata dia, usaha pres batako ini telah melalui pertimbangan matang baik dari prospeknya kedepan maupun cacat fisik yang dialaminya saat ini, dari usaha lain yang ditawarkan.

Ia hanya bisa menaruh harapan kepada pemerintah agar lebih memperhatikan penyandang disabilitas lainnya, jangan ada tebang pilih antara satu dan lainnya.

Ia mengatakan, kerap kali meneteskan air mata ketika melihat salahsatu penyandang disabilitas lainya menggunakan tongkat terbuat dari kayu ukuran 5 X 5.

“Apakah tidak ada orang sekitar atau pemerintah berempati melihat hal tersebut.” ucapnya lirih

Penulis / Foto : Ikram
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini