Kemensos Serahkan Jadup Korban Bencana Palu dan Donggala

0
1517
Keterangan Foto : Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat, saat menyerahkan bantuan jaminan hidup (jadup) secara simbolis kepada warga terkena dampak bencana, di Kabupaten Donggala, Sabtu, (24/8/2019). (Moh. Qadri)

PALU – Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat, menyerahkan bantuan jaminan hidup (jadup) sebesar Rp.17,3 miliar untuk 28.879 korban yang terdampak bencana di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Bantuan jadup Kota Palu, diserahkan langsung Harry Hikmat kepada Walikota Palu, Hidayat. Sedangkan jadup Donggala diserahkan secara simbolis kepada wakil bupati Donggala, Moh.Yasin, selanjutnya jadup diserahkan oleh wabup Yasin kepada 10 perwakilan korban bencana, Sabtu 24 Agustus 2019.

“Dana jadup Palu disalurkan melalui Bank Mandiri sebesar Rp.15,9 miliar kepada 6.938 KK untuk 26.591 jiwa. Sedangkan Donggala disalurkan melalui Bank BRI cabang Palu, sebesar Rp.1,3 miliar kepada 575 KK untuk 2.288 jiwa,” ujarnya.

Kemensos RI juga telah menyerahkan dana jadup kepada korban terdampak bencana di Kabupaten Sigi. Dari tiga daerah itu, dana jadup untuk korban bencana di Sigi sudah disalurkan 100 persen, Kota Palu masih 67 persen, dan Donggala masih tahap pertama berdasarkan data yang diterima 13 persen.

“Pada prinsipnya pemulihan sosial pada masa rehabilatasi dan rekonstruksi segera diwujudkan. Memang bukan perkerjaan mudah untuk memastikan bahwa penerima jadup betul-betul tepat sasaran,” ucap Harry.

Menurutnya, dalam menentukan calon penerima jadup yang memenuhi kriteria akan ada risiko seperti kejadian bencana sebelumnya. Inilah yang harus dipahami semua pihak termasuk awak media.

“Kadangkala kalau melihat tahapan kenapa kok sedemikian rupa memakan waktu yang lama. Sebetulnya kalau terkait bencana upaya tahapan yang ditempuh dari mulai merespon masa darurat bencana, tanggap darurat, dan transisi darurat relatif lebih cepat dari bencana di Lombok,” ungkap Harry.

Berdasarkan Peraturan Menteri Sosial nomor 4 tahun 2005 tentang bantuan langsung kepada masyarakat diberikan setelah berakhirnya masa transisi darurat atau sudah tinggal di Hunian Sementara (Huntara) Hunian Tetap (Huntap) atau rumah sewa.

Namun Harry mengakui, terjadi keterlambatan penyaluran jadup karena banyaknya jumlah korban bencana yang belum terdata secara valid. Untuk itu ia meminta kepada masyarakat agar dapat bersabar dalam situasi yang sulit.

“Yang jelas pemerintah pusat dan pemerintah daerah terus melakukan berbagai upaya agar ekonomi masyarakat bisa cepat pulih,” tutupnya.

Sementara itu Wakil Bupati Donggala Moh. Yasin, menyampaikan dari data Dinas Sosial dan BPBD Kabupaten Donggala total penerima jadup di Kabupaten Donggala berjumlah 3000 jiwa namun hingga saat ini yang masih terverifikasi baru 575 KK.

Yasin menyatakan, penerima jadup bukan hanya tanggungjawab pemerintah semata. Tapi, menjadi tanggungjawab semua pihak. Untuk itu, ia meminta kerja sama semua pihak untuk menyiapkan data penerima karena batas waktu penyaularan jadup tahap pertama ini tidak boleh melewati bulan Agustus 2019.

“Saya minta dana jadup yang disalurkan jangan sampai melewati batas waktu, karena dana ini bisa ditarik. Yang masalah ketika para korban sudah berharap tapi akhirnya tidak menerima karena lewat batas waktu pendataan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, wabub meminta kepada masyarakat agar berpartisipasi aktif. Masyarakat jangan hanya menunggu tapi harus berperan dengan mendatangi pemerintah desa, kecamatan, atau masyarakat yang sudah menerima jadup tanya dokumen apa saja yang disipakan agar bisa menerima Jadup.

Ia pun meminta warga agar tidak usah menunggu hari kerja, karena dirinya sudah perintahkan dinas Catatan Sipil agar buka di hari Minggu untuk melayani masyarakat yang membutuhkan dokumen kependudukan. “Hal itu saya lakukan, karena kita tidak punya waktu yang banyak untuk menyelesaikan ini,” tegasnya.

Kepada lembaga-lembaga NGO yang selama ini membantu korban bencana di Donggala Yasin meminta agar turut memberikan masukan dan motivasi kepada masyarakat untuk segera menyiapkan data yang benar.

“Masalah kita saat ini adalah soal data Insya Allah kita tuntaskan secepat mungkin.” tandasnya.

Herdiance, salah satu warga Desa Banawa Selatan, Kabupaten Donggala, usai menerima jadup mengatakan, sangat bersyukur bisa menerima bantuan jadup tahap pertama.

Herdiance kini tidak memiliki rumah. Rumahnya telah hancur diguncang gempa 28 September 2018 silam. “Adanya jadup ini cukup meringankan beban saya.” tuturnya.

Reporter : Moh. Qadri/Jose Rizal
Foto : Moh. Qadri
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini