Kehilangan Dua Kaki Setelah Likuefaksi (Bagian 2)

0
172

Badan SAR berusaha mengevakuasi Nurul Istikharah atau Lulu yang tertimbun reruntuhan beton bangunan. Namun evakuasi Nurul beresiko besar, sebab kaki Lulu bisa patah jika ditarik paksa. Apalagi, tim evakuasi tak punya peralatan memadai.

“Tarik saja, tidak apa-apa kakinya patah, asal anak saya selamat. Lakukan itu. saya papanya yang bertanggungjawab,” kata Muhammad Yusuf kepada tim evakuasi.

Sungguh sebuah drama penyelamatan yang sangat menegangkan. Sampai akhirnya, Minggu (30/9) dini hari, tim evakuasi berhasil mengeluarkan Nurul dari reruntuhan bangunan. Itupun mereka harus mengeluarkan air dengan menggunakan pompa dari lobang tempat Nurul tertimbun.

Nurul berhasil dievakuasi lalu dibawa ke Rumah Sakit Undata Palu. Tim dokter tak bisa berbuat banyak, mereka hanya meminta persetujuan ayahnya, agar kaki Lulu diamputasi. Muhammad Yusuf pasrah dan menandatangani persetujuan itu.

Tiba-tiba, pamannya menolak. Kaki ponakannya itu tak boleh diamputasi. Ia pun memaksa Muhammad Yusuf agar membawa Nurul ke kampung keluarganya di Desa Randomayang, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Ternyata di sana tak ada rumah sakit, dan hanya ada Puskesmas Pembantu. Dokter di Puskesmas menyerah. Dokter hanya mengatakan kakinya Lulu harus diamputasi, sebab sudah inveksi dan bisa lebih membahayakan bagi nyawa Lulu.

Tak ada jalan lain, Nurul Istikharah harus dirujuk ke Makassar. Rumah Sakit Dokter Wahidin Sudirohusodo menjadi tujuan rujukannya. Tak perlu berlama-lama, begitu tiba di rumah sakit itu, tim dokter langsung mengamputasi kedua kaki Nurul Istikharah alias Lulu itu. Kakinya diamputasi dari atas lutut ke bawah. Kini, kaki Lulu tinggal sejengkal saja.

Sebulan lamanya Lulu dirawat di Rumah Sakit Dokter Wahidin Sudirohusodo Makassar itu. Jumat (9/11) tim dokter sudah membolehkan Lulu untuk pulang.

Mereka hanya kemudian meninggalkan rumah sakit, dan menumpang di rumah keluarganya di Makassar. Mereka mau kembali ke Randomayang, Pasangkayu, Sulawesi Barat, tapi tak punya biaya. Sejak gempa, ayahnya tak bisa bekerja dan hanya berharap bantuan orang kepada para korban gempa, tsunami dan likuifaksi Palu, Donggala, Sigi.

Kabar tentang Lulu menyebar ke beberapa group whatsapp. Akhirnya, salah seorang alumni Lemhannas bernama Alfan Cipto dari Surabaya dan Abdul Gafur Mas’ud, Bupati Panajam Paser Utara, Kalimantan Timur bersedia membiayai kepulangan Lulu ke kampung halamannya.

Kini, Lulu akhirnya bisa pulang ke kampungnya. Dia sudah ikhlas menerima kenyataan tanpa kedua kakinya. Lulu mengaku tetap semangat dan akan terus bersekolah. Ia juga bersedia menggunakan kaki palsu jika ada yang bersedia membantunya.

“Tapi saya tidak mau lagi sekolah di Palu. Saya takut,” kata Lulu.

Charles Ham, salah seorang dari Yayasan Hope Worldwide Indonesia mengaku bersedia membantu kaki palsu untuk Nurul Istikharah itu. Ia berjanji, jika luka Lulu sudah benar-benar sembuh, akan dibawa ke Yogyakarta untuk mengukur kaki palsunya.

“Kita akan membantu Nurul. Nanti kita akan pasang kaki palsudnya di Jogja,” kata Charles.(Habis)

Penulis: Ochan Sangadji
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini