Kehilangan Dua Kaki Setelah Likuefaksi (Bagian 1)

0
145

Namanya Nurul Istikharah, siswi kelas X Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Palu. Ia adalah salah seorang dari ribuan anak yang menjadi korban gempa, tsunami dan likuefaksi di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Sigi, Sulawesi Tengah. Nurul adalah warga Jalan Kenanga, di Perumnas Balaroa, Palu Barat. Nurul selamat dari likuefaksi, tapi ia kehilangan dua kakinya.

Sore itu 28 September 2018, Nurul sedang berada di ruang tamu rumahnya di Jalan Kenanga, Perumnas Balaroa, Palu Barat. Dia sedang mengerjakan tugas mata pelajaran Bahasa Arab dari sekolahnya. Tiba-tiba, gempa dengan magnitude 5,3 skala richter melanda Kota Palu dan sekitarnya.

Nurul berlari ke luar rumah. Ia berlari sambil menggandeng adik perempuannya, Nurul Istiqamah (14). Namun ayahnya, Muhammad Yusuf (43) dan ibunya Risni (45) meminta mereka tetap berada di dalam rumah.

Tapi Nurul ketakutan. Ia khawatir akan datang gempa susulan yang lebih besar. Akhirnya ia mengajak keluarganya agar pergi, tapi ajakan itu ditolak oleh ayah ibunya.

“Papa dan mama bilang tidak apa-apa. Tidak usah kita pergi, karena gempa itu biasa saja,” cerita Nurul.

Nurul Istikharah pasrah. Dia manut pada kedua orang tuanya itu. Nurul akhirnya kembali ke dalam rumah dan meneruskan tugas sekolahnya itu. Sedangkan ayahnya pergi ke belakang rumah untuk mengurus ayam yang akan dijual ke pasar keesokan harinya. Sedangkan ibunya meneruskan memasak untuk makan malam.

Suara mengaji di masjid dekat rumahnya mulai terdengar dari toa masjid. Tak lama kemudian Muadzin mengumandangkan adzan. Nurul bergegas berwudhu untuk siap-siap Salat Magrib. Tiba-tiba gempa yang lebih dahsyat terjadi. Nurul terhempas ke ruang tamu. Adiknya, Nurul Istiqamah terlempar ke dapur, sedangkan ibunya tertimpa lemari.

Mereka kemudian berlari keluar rumah. Bangunan mulai runtuh. Tanah-tanah dan jalan di sekitar mereka mulai terbelah. Tanah juga mulai bergerak dan lumpur mulai menyembur. Belakangan, baru diketahui itulah fenomena likuefaksi.

TERTIMPA BETON BANGUNAN

Nurul Isikharah tak bisa lagi berlari. Ia tertimba reruntuhan beton bangunan. Separuh tubuhnya terendam air dari saluran pipa PDAM yang bocor.

Dia tertimpa material bangunan dan tertanam di dalam tanah bersama adik dan ibunya. Mereka tak bisa saling menolong, karena tak bisa bergerak sama sekali.

Nurul Istikharah bercerita, posisi adiknya yang bernama Nurul Istiqamah itu atau yang dipanggil Isti berada di bagian kakinya, sedangkan ibunya, Risni berada di sampingnya.

“Saya lihat mama dan Isti meninggal waktu tertimpa reruntuhan bangunan itu,” cerita Lulu, panggilan akrab Nurul Istikharah.

Ayahnya, Muhammad Yusuf (42) tak kuasa menahan air mata. Ia berupaya menyelamatkan keluarganya itu. Dengan susah payah Yusuf melewati reruntuhan bangunan, lumpur dan tanah yang terbelah untuk menemukan keluarganya.

Yusuf berhasil menemukan istri dan kedua anaknya tertimpa reruntuhan beton bangunan. Tapi ia kebingungan karena tak ada orang yang sanggup menolong.

Hanya Lulu yang tersisa. Yusuf menemukan selang agar Lulu tetap bisa bernapas. Usahanya tak sia-sia. Sampai akhirnya pada Sabtu (29/9) sore, tim evakuasi dari Badan SAR berhasil mencapai tempat Lulu, Isti dan ibunya yang tertimbun itu. (Bersambung)

Penulis: Ochan Sangadji
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini