Kampung Muara Donggala, Riwayatmu Kini

0
361

DONGGALA — Gempa dengan magnitude 7,4 skala richter, mengakibatkan terjadinya tsunami di pesisir pantai Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Akibatnya, ribuan rumah hancur karena tersapu tsunami. Sebuah kawasan di Kecamatan Banawa, Ibukota Kabupaten Donggala pun hilang. Lokasi itu berjarak sekitar 1 jam dari Kota Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah.

“Di sini dulu namanya Pasar Tua Donggala. Karena lokasinya berada di muara sungai, warga lebih mengenalnya dengan sebutan Kampung Muara,” kata Lebba Mamobausat (53), warga setempat, akhir November lalu.

Tak banyak rumah di sekitar Kampung Muara itu, tercatat hanya ada 38 rumah yang dihuni oleh sekitar 40 kepala keluarga. Sebagian besar warganya menambatkan kehidupan mereka di laut sebagai nelayan.

Sejumlah warga di tempat itu mengatakan, Kampung Muara tenggelam ke dasar lautan. Kampung itu amblas saat terjadinya gempa bumi 28 September 2018. Sebanyak 38 rumah warga amblas ke dalam laut. Bahkan, saat laut surut dan bening, sebagian rumah masih terlihat jelas berada di dasar laut itu.

Tercatat ada 41 orang terdiri dari 29 orang dewasa dan 19 anak-anak meninggal dunia. Kemudian enam orang dewasa dan enam anak yang dinyatakan hilang. Untuk mengenang para korban, keluarga mereka menuliskan nama-nama korban itu di tripleks bekas dan dipasang di bekas reruntuhan di Kampung Muara.

Warga yang masih hidup kini, rata-rata sebagian besar adalah laki-laki. Itu karena saat gempa dan tsunami, mereka sedang melaut. Saat kembali, mereka kaget karena ternyata rumah mereka sudah tidak ada.

Muhammad Rafli (40) misalnya, mengisahkan bahwa saat gempa dan tsunami itu ia dan beberapa yang lain sedang mencari ikan. Meski sedang berada di laut, tetapi mereka juga merasakan gempa.

“Tapi saya tak tidak tahu ada tsunami. Nanti sudah kembali ke darat baru saya tau ada tsunami,” kata Rafli.

Tetapi dia mengaku mendapatkan cerita dari keluarganya, bahwa rumahnya bukan tersapu tsunami, tetapi amblas ke dalam laut.

“Rumah saya tenggelam ke laut,” ujarnya.

Kini Rafli dan warga lainnya terpaksa mengungsi ke Gunung Bale di Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala. Mau kembali ke Kampung Muara, sudah tak mungkin lagi, karena kampung itu memang sudah tinggal nama.

Terbentuk karena sedimentasi
Kampung Muara, dulunya adalah pusat perbelanjaan di Donggala. Lebba Mamobausat mengisahkan, di saat Kota Palu belum memiliki bioskop, di Kampung Muara itu sudah ada bioskop. Di situ juga adalah kampung asal Sigit Purnomo Said alias Pasha Ungu, Wakil Walikota Palu saat ini.

“Di situ rumah kakeknya Pasha,” kata Lebba.

Menurut Lebba Mamobausat, Kampung Muara itu dulunya tak berpenghuni. Kampung terbentuk karena adanya sedimen. Ayahnya yang bernama Petta Mahmud di tahun 1960-an membuka kampung itu. Petta Mahmud mengajak warga Bugis dari kampungnya di Sulawesi Selatan, untuk tinggal di lokasi itu dan diberi nama Kampung Muara.

Seiring waktu, Kampung Muara mulai ramai. Petta Mahmud kemudian mengajari warga menjadi nelayan dan kemudian itu menjadi profesi utama warga hingga turun temurun. Tapi, kini, Kampung Muara tinggal menjadi kenangan.[]

Penulis dan foto: Ochan Sangadji
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini