Kale Popa, Sisa Tanaman Bakau di Pesisir Timur Teluk Palu

0
175

RENCANA pembangunan tanggul sepanjang tujuh Km di pesisir Teluk Palu telah didengungkan oleh Pemerintah, melalui Kepala Satgas Bidang Infrastruktur Kementrian PUPR, Arie Setiadi Moerwanto, beberapa waktu yang lalu.

Dilansir dari surat kabar Kaili Post yang terbit tanggal 03/01/2019, Tanggul setinggi tiga meter tersebut sedianya dibangun dengan konstruksi bebatuan yang dilapisi bahan biosintetik yang kedap air.

Tetapi dalam kenyataanya, rencana pembuatan Tanggul sepanjang tujuh kilometer sebagaimana direkomendasikan JICA dalam rencana induk rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami Palu itu mendapat penolakan dari beberapa elemen masyarakat di Kota Palu, dalam releasenya, mereka lebih memilih untuk menanami Pesisir Teluk Palu dengan Tanaman Bakau atau Mangrove.

Catatan sejarah di Teluk Palu, mengidentifikasi tanaman Bakau dengan sebutan Popa dan Banggo, tanaman tersebut bukanlah varietas yang asing di pesisir Teluk Palu. Hamzah Tjakunu , Seorang pemerhati lingkungan, dalam sebuah diskusi tentang pentingnya penanaman Bakau di Teluk Palu, menyampaikan bahwa Popa adalah jenis Bakau yang cocok ditanam di Teluk Palu.

“ Di Teluk Palu, rata-rata jenis Bakau yang tumbuh adalah Sonneratia Alba atau biasa yang disebut dengan Popa” ucap Hamzah. Suku Kaili sejak dahulu menyadari akan pentingnya keberadaan Popa di pesisir Teluk Palu, pada kisaran tahun 1980-1990 tumbuhan Popa, masih tumbuh subur di sekitar Teluk Palu.

Berdasarkan data perdagangan Ekspor kayu Bakau di sulawesi Tengah, tahun 1987 merupakan puncak perdagangan kayu Bakau, nilai ekspor kayu Bakau untuk Provinsi Sulawesi tengah mencapai angka 19. 320 meter kubik.

Fakta tersebut terkonfirmasi dengan penuturan Moh.Sarif, tokoh masyarakat Layana Indah;“ Dahulu hutan Bakau masih banyak di sini, mulai dari Salu Bai (Layana Indah) yang sekarang menjadi Kompleks Pergudangan sampai di depan Kebun Sari (Mamboro), waktu itu saya masih kelas tiga SD, sekitar tahun 1980-an” ujar Sarif sapaan akrabnya.

Setalitigauang dengan apa yang diujar Sarif, Lukman, Tokoh Masyarakat Mamboro, mengisahkan tentang apa yang disebutnya sebagai Kale Popa. “Kale adalah akar dari tumbuhan yang hidup di tepian pantai, dari Iradat Puri sampai Mamboro, itu adalah sisa tanaman Bakau, akan tetapi saat ini tanaman itu sudah tidak ada, yang tersisa hanya beberapa pohon saja di depan kompleks Pergudangan, di sekitar situlah ada daerah yang bernama Kale, yang dahulunya banyak terdapat akar tumbuhan Bakau itu” ujar Lukman.

“Kale Popa merupakan bukti bahwa pohon Popa dulu pernah tumbuh subur di pesisir Teluk Palu ini” tutupnya, dalam diskusi Sejarah Pesisir Mamboro. ***

Penulis: Herianto
Foto: Historia
Editor: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini