Kak Seto Ajak bermain Anak-anak Penyintas Bencana

0
205

PALU – Psikolog anak dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi alias Kak Seto, tampil menghibur seribuan anak yang terdampak gempa di Palu, Sigi, Donggala (Pasigala).

Dikemas dengan suasana riang, hajatan bertajuk One Day for Children di Taman Vatulemo, Palu, Kamis 13 Desember 2018, itu sukses menghadirkan suasana ceria bagi anak-anak terdampak gempa.

One Day for Children yang didukung penuh Kementerian Sosial RI, Dinas Sosial Provinsi Sulteng dan sejumlah LSM perempuan dan anak diramaikan dengan aneka pertunjukan, parade lagu dan puisi, sulap hingga bagi-bagi hadiah.

Menurut Kak Seto, pemulihan trauma bagi anak-anak adalah bagaimana membuat mereka terus gembira. Tidak boleh ada kesedihan menghinggapi pikiran mereka. Karena sebenarnya anak-anak tersebut terus dihantui perasaan takut akibat gempa atau kehilangan orang tua mereka.

‘’Trauma healingnya adalah dengan terus menerus membuat mereka gembira. Karena itu adalah dunia mereka,’’ ungkap pencipta karakter Si Komo yang populer tahun 90-an ini.

Menurutnya, kondisi anak-anak di Pasigala terus membaik. Ini tidak terlepas dari cara penanganan yang dilakukan termasuk keterlibatan kalangan LSM yang intens menangani mental anak-anak.

Ia empat kali berkunjung ke Palu dan Sigi sejak kejadian gempa untuk mengunjungi pengungsian, melihat kondisi mental anak-anak. Di awal kunjungannya, banyak anak-anak di tenda pengungsian yang susah bicara saat ditanya. Muram dan terlihat sedih.

Selain jarak kejadian yang masih dekat dengan memori anak-anak suasana tenda pengungsian juga membuat anak-anak murung.

Kunjungan kedua mulai ada perubahan, seiring dengan intervensi yang dilakukan para pegiat LSM anak. Nah pada kunjungan ketiga dua dan seterusnya, perubahan terus membaik.

“Saya perkiraan kasar saja sekitar 90% telah bangkit. Anak-anak telah menemukan dunianya kembali, dunia bermain,” ungkapnya di sela sela menghibur para penyintas.

Guru sekolah juga punya perna penting dalam melakukan pemulihan trauma kepada anak-anak. Metode mengajar guru harus mampu membawa anak-anak kembali dalam kondisi keceriaan.

”Sekolah juga harus menghadirkan nuansa bermain. Para guru jangan terlalu tegang mengajarnya, harus dengan keceriaan dan kebahagiaan.” katanya.

Masih menurut Kak Seto, semestinya Dinas Pendidikan dan sekolah tidak memberikan soal yang sulit saat Ujian Akhir Semester lalu. Sebab memori anak-anak masih dibayangi dengan peristiwa kelam dan tidak bisa diajak berpikir ekstra memecahkan soal-soal ujian yang rumit.

“Cukuplah membuat soal yang bisa merangsang pikiran anak-anak tentang hal-hal keseharian mereka. Namun tetap mempunyai sisi edukasi yang tinggi,” katanya.

Reporter: Yardin Hasan dan Faiz Syafar
Foto: Kemensos RI
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini