Perempuan Penyintas Perlu Mengetahui Jurnalisme Warga

0
382
PELATIHAN - Perempuan penyintas mendapat pelatihan soal jurnalisme warga di Kedai Kopi Fabula SKP- HAM Jalan Jendral Basuki Rahmat, Lorong Saleko 2 , kelurahan Birobuli Utara, Kota Palu beberapa waktu lalu. (foto - ikram)

PALU – Jurnalisme warga sangat penting keberadaannya, di tengah keterbatasan serta jangkauan dilakukan jurnalis profesional dalam mewartakan kejadian ditengah-tengah keberadaan penyintas baik di hunian sementara maupun di tenda-tenda pengungsian pasca bencana kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala dan Kabupaten Parigi Mautong 28 September 2018 silam.

Ini antara lain benang merah yang mengemuka pada pelatihan jurnalisme warga di Kedai Kopi Fabula SKP- HAM Jalan Jendral Basuki Rahmat, Lorong Saleko 2 , kelurahan Birobuli Utara, Kota Palu beberapa waktu lalu.
Di tempat yang sama Kartini Nainggolan Jurnalis Mercusuar, inisiator workshop mengatakan, di saat sekarang ini Kota Palu, Sigi dan Donggala baru dilanda musibah, tentunya ada berbagai banyak masalah dihadapi para penyintas baik terkait pemenuhan kebutuhan air bersih, pelayanan kesehatan dan lainnya.
“Ada banyak masalah-masalah tidak semuanya diketahui jurnalis,” dengan adanya jurnalisme warga ini bisa ditindaklanjuti, guna dipublikasikan katanya.

Ketua Badan Eksekutif Komunitas (BEK) Solidaritas Perempuan (SP) Palu Ruwaidah mengatakan, jurnalisme warga ini sangat penting, sebab situasi warga/penyintas saat ini, jarang diketahui para pengambil kebijakan. Kemudian, kata dia, mereka tidak memiliki ruang dan akses memberikan informasi nya kepada siapa?.

Kalau misalnya selama ini, pihaknya yang memberikan penguatan dilapangan, paling informasinya kepadanya, misalnya pengaduan mereka, pihaknya menyampaikan advokasi ya secara berjaringan misalnya dengan aksi baik ke DPRD/Gubernur. “Tapi apa yang dilakukan dirasanya belum cukup, apa yang disampaikan belum tentu didengar pemerintah sebagai pemegang kebijakan, ” kata Ruwaidah.

Dia menyebut , adanya workshoop jurnalisme warga ini kesempatan baik sekembalinya mereka ditengah-tengah kelompoknya, bisa menyuarakan dengan menuliskan situasinya baik dialami sendiri maupun sekitarnya.
“Tentunya setelah melalui proses kaidah jurnalistik,” katanya.

Jadi menurutnya, disitu akan terlihat situasi real dilapangan apa yang dialaminya, apalagi sebagai seorang perempuan. Sebab sampai hari ini kata dia, kondisi perempuan ini tidak dapat ter update dengan baik ke pemerintah.

Sehingga kata dia, banyak perempuan mengalami hal-hal tidak diinginkan seperti pelecehan/kekerasan seksual dan lain sebagainya. “Kekerasan seksual , pernikahan dini, merupakan bagian dari situasi yang telah ada, sehingga orang menjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),” katanya. Selain itu kata dia, perempuan juga tidak pun nya ruang partisipatif untuk dilibatkan dalam perencanaan program bencana, apa menjadi kebutuhan dasar mereka.

“Hal-hal seperti ini, sangat jarang, ” katanya. Kalaupun, misalnya ada kata dia, paling didampingi teman-teman NGO yang fokus terhadap perempuan dan anak. “Tapi sangat jarang perempuan mendapatkan akses atau terlibat diruang-ruang publik untuk bagaimana dia menyampaikan,” ujarnya. Dia menyebut, jurnalisme warga menjadi ruang penting buat mereka dan mereka inipun harus diberi penguatan kapasitas.

“Sebab, tidak semua perempuan bisa ngomong,” katanya. Ia mengatakan, secara psikologi mereka takut salah dan lainya, sebab mereka tidak diberi ruang khusus. Selama ini keberadaan mereka disamaratakan dengan lainya. Padahal kata dia, kebutuhannya berbeda, sehingga ketika ada situasi tertentu paling yang ada, bapak-bapaknya saja.

Pelatihan jurnalisme warga ini hanya sebagian kecil, dia berharap pelatihan jurnalisme warga ini lebih besar bagi semua penyintas terdampak, Palu, Sigi, Donggal dan Parimo terdampak. ***

Penulis  : Ikram
Editor    : Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini