Jurnalis pun Bisa Trauma

0
145

PALU – Ardiansyah kini nyaris tak bisa tidur terlelap. Setiap tengah malam, ia selalu terbangun. Peristiwa saat mencari anak, istri dan mertuanya setelah gempa dan tsunami melanda 28 September lalu, selalu datang dalam tidurnya.

“Kondisi Palu gelap-gulita, saya hanya bisa berteriak dari satu pengungsian ke pengungsian lain mencari keluarga,” kenang Ardiansyah. Ia baru bertemu dengan keluarganya setelah lima jam pencarian. Ia bersyukur, seluruhnya selamat.

Ardiansyah adalah jurnalis Palu TV yang sudah 9 tahun menggeluti dunia jurnalistik.

Bayangan lain yang sering datang adalah saat anaknya demam tinggi. Ia kembali berkeliling mencari rumah sakit di tengah Palu yang gelap. “Anak saya lalu diinfus di antara banyak mayat,” katanya.

Selain susah tidur, Ardiansyah masih takut menaiki lantai dua rumah ibu kandungnya. Sebab saat berada di rumah itulah, gempa berguncang hebat.

Pria 30 tahun itu menceritakan kisah tersebut kepada konselor Yayasan Pulih yang sedang melaksanakan trauma healing bagi para jurnalis Palu, Rabu 21 November 2018. Selain Ardiansyah ada belasan wartawan lain yang mengikuti konseling dengan dua psikolog Yayasan Pulih.

Program itu diinisiasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu bekerja sama dengan Yayasan Pulih. Ketua AJI Palu, Mohammad Iqbal, mengatakan, saat terjadi bencana, posisi wartawan menjadi lebih sulit. Sebab di satu sisi ia harus tetap meliput bencana itu, namun di sisi lainnya ia harus berperan menyelamatkan diri dan keluarganya.

“Wartawan juga manusia biasa, punya kejiwaan seperti manusia lainnya. Di antara mereka tentu ada yang mengalami tekanan-tekanan sehingga tidak bisa atau sulit bertindak seperti sebelumnya ketika terjadi bencana,” kata Iqbal.

Menurut Iqbal, total ada 60 wartawan yang mengikuti konseling yang terbagi dalam enam kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 10 jurnalis dan harus mengikuti tatap muka dengan durasi 2,5 jam setiap orang.

Melalui program itu, Iqbal berharap, dapat membantu memulihkan, terutama aspek psikologis para jurnalis yang terdampak bencana.

Salah seorang konselor Yayasan Pulih, Delfian Tri Bandoro, mengatakan, program trauma healing pernah mereka lakukan di beberapa wilayah bencana seperti di Aceh, Padang, Lombok dan sejumlah daerah lainnya.
“Kami menggali secara mendalam apa yang dialami dan dirasakan oleh jurnalis tersebut. Lalu kami coba mencari stimulan-stimulan yang bisa menjadi sumber pemulih,” kata Delfian.

Jurnalis yang terindikasi mengalami gangguan psikis kategori parah, maka akan ditindaklanjuti dengan terapi khusus. Selain itu, keluarga jurnalis pun dijadwalkan akan mengikuti trauma healing bersama Yayasan Pulih.[]

Reporter: Basri Marzuki
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini