Jono Oge, dari Alang-alang Hingga Likuefaksi

0
737

PALU – Minggu, 4 Agustus 2019, cuaca begitu cerah menerangi langit Jono Oge, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi. Sejauh mata memandang, hanya ilalang dan hamparan tanaman jagung tumbuh di atas tanah seluas 220 ha.

Dulunya tempat ini adalah pemukiman warga. Namun, setelah terjadi likuefaksi yang diakibatkan gempa bermagnitudo 7,4 SR, puluhan rumah warga dan gereja di tempat ini bergeser sejauh 3 km.

Di seberang jalan terlihat belasan mahasiswa sedang menyusuri jejak fenomena alam yang telah meluluhlantakkan kampung itu. Sambil berjalan, seorang geomate atau sebutan peserta wisata geologi, bertanya kepada pemandu wisata geologi. “Pak boleh tau asal usul nama tempat Jono Oge ini dari mana? ”

Wisata geologi adalah kegiatan wisata dibidang ilmu kebumian yang digelar oleh geotour Indonesia. Kegiatan ini, dilakukan agar masyarakat belajar tentang ilmu geologi atau ilmu bumi di Sulawesi Tengah.

Muhammad Rizky Ramadhan salah seorang pemandu geowisata lalu menjelaskan, berdasarkan toponimi atau pengetahuan tentang asal usul nama tempat, menurut bahasa Kaili Jono Oge memiliki dua suku kata yakni Jono yang berarti alang-alang dan Oge berarti banyak.

Sehingga, dapat diartikan bahwa Jono Oge di Kecamatan Biromaru merupakan daerah yang terdapat banyak alang-alang. Menariknya lagi, Jono Oge berada diwilayah Kecamatan Biromaru, dimana kata Biromaru berasal dari kata Biro Namaru yang berarti alang-alang yang membusuk.

Chris Indra Cahya Baligau, pemandu geowisata lainnya menambahkan, secara geologis tempat-tempat terjadinya likuefaksi memiliki struktur tanah yang hampir sama, yakni memiliki pasir-pasir lepas.

“Saat diguncang gempa lapisan tanah yang kurang kompak bergerak dipicu tekanan intrusi sehingga menyebabkan permukaan tanah diatas menjadi cair,” jelasnya.

Terpisah, Iksam Djorimi Arkeolog di Museum Kota Palu, menjelaskan, penamaan suatu wilayah atau toponimi khususnya diwilayah Sulawesi Tengah berdasarkan tiga latar belakang, yaitu, kondisi geologis atau geografis, ekologi, dan peristiwa sejarah atau tradisi.

“Untuk Jono Oge penamaannya didasarkan dari keadaan ekologi yakni tumbuhan berupa alang-alang yang banyak serta Biromaru yang artinya alang-alang yang membusuk,” jelasnya.

Berdasarkan penelusuran dan cerita orang tua terdahulu bahwa, Jono Oge pertama kali menjadi pemukiman warga pada awal tahun 1960. Hal itu terjadi karena kondisi bangunan yang membutuhkan banyak ruang sehingga, menyebabkan wilayah yang seharusnya tidak ditempati akhirnya dijadikan pemukiman.

“Jika dilihat berdasarkan toponimi wilayah-wilayah itu, seharusnya wilayah itu tidak ditempati,” tuturnya.

Olehnya itu, dirinya tidak sepakat jika bencana yang terjadi 28 September 2018 itu disebut kebetulan, karena, orang tua terdahulu telah memberikan gambaran dari toponimi bahasa Kaili sebagai mitigasi bencana.

Dr Adrin Tohari, Peneliti Ahli Madya Bidang Geoteknik di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI menjelaskan, secara geologi wilayah Jono Oge tersusun oleh molase dan endapan aluvial.

Molase kata dia, adalah produk dari perpindahan batuan tua di daerah perbukitan yang mengalami pelapukan dan tertransportasi ke daerah rendah oleh air hujan. Untuk endapan aluvial lanjut Adrin, dihasilkan oleh pengaruh laut yang pernah masuk ke Teluk Palu hingga Sigi, juga, akibat pengendapan aliran sungai Palu pada zaman dahulu.

Endapan aluvial ini, lanjut dia, bersifat lepas atau tidak padat, kemudian ditambah muka air tanah di daerah Jono Oge yang dangkal sehingga, menyebabkan wilayah Jono Oge rentan terhadap likuefaksi.

Khusus fenomena likuefaksi yang mengalir, menurut dia, itu dipengarungi oleh faktor topografi.

“Saya mempunyai hipotesa, batas antara lapisan tanah aluvial dan lapisan molase dibawahnya itu membentuk bidang miring,” ujarnya.

“Jadi, ketika terkena guncangan yang hebat saat gempa, lapisan aluvial yang menjadi jenuh air berubah menjadi seperti cairan yang mengalir ke daerah yang lebih landai,” tambahnya.

Ia berharap, Pemda Kabupaten Sigi melakukan pemetaan potensi likuefaksi diwilayah lain yang ada didaerah itu, hal ini untuk mengantisipasi bencana gempa di masa mendatang termasuk menyesuaikan tata ruang Kabupaten Sigi yang nantinya berbasis mitigasi bencana gempa dan likuefaksi.

Sumber : Google Maps

Penulis : Irwan K Basir
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini