Jejak Tsunami di Bekas Pelabuhan Limbuo

0
194

PALU — Puluhan orang, siang itu, meriung di pesisir Pantai Limbuo, Kelurahan Talise. Mereka menghadap delapan tiang pancang besi yang tertanam di bawah Teluk Palu. Tinggi yang nampak di permukaan laut hanya sekitar satu meter, dengan seluruh sisinya telah berkarat.

Mereka sedang merefleksikan bencana tsunami yang pernah melanda Palu, 1 Desember 1927. “Tiang pancang ini untuk merawat ingatan kita semua,” kata Neni Muhyidin kepada peserta yang hadir. Neni adalah anggota ekspedisi Palu Koro yang menggagas acara refleksi itu pada Sabtu siang, 1 Desember 2018.

Bertahun-tahun sebelumnya, keberadaan tiang beton itu tertutup sedimentasi dan reklamasi. Di atas daratan baru itu, tumbuh rapat warung makanan, pemukiman dan ruas Jalan Komodo yang membentang dari Palu ke Donggala.

Tiang pancang itu justru tersingkap setelah tsunami 28 September 2018 melahap pantai kurang lebih 750 meter, meruntuhkan bangunan di atasnya dan memutus Jalan Komodo sepanjang 600 meter. Ini adalah salah satu titik kerusakan terparah setelah diterjang tsunami setinggi 5 meter.

Tersingkapnya tiang-tiang itu telah menjadi penanda yang menghubungkan dua bencana gempa dan tsunami dalam rentang 91 tahun.

Neni menjelaskan, tiang pancang itu sesungguhnya adalah bekas dermaga Pelabuhan Limbuo yang dibangun di era kolonial Belanda. Namun, saat itu, tiang pancang masih terbuat dari kayu. Gempa berkekuatan sekitar 6 SR yang berpusat di Donggala dan disusul tsunami di Teluk Palu pada 1 Desember 1927, menyebabkan dermaga kayu itu rusak.

Berita tentang gempa tersebut bersumber dari surat kabar Nieuwe Rotterdamsche Courant edisi 4 Desember 1927. Koran yang berdiri 1844 itu melaporkan, bahwa gempa menyebabkan 14 orang tewas dan 50 orang luka-luka.

Kantor asisten residen di Donggala juga runtuh, dermaga roboh sebagian dan dua pasar hancur. Setelah dermaga rusak, pemerintah kolonial Belanda kemudian menggantinya dengan besi. “Saat itu kerugian karena bencana ditaksir 50.000 gulden,” katanya.

Di masa itu, pesisir Teluk Palu belum menjadi kawasan permukiman. Menurut Kordinator Komunitas Sejarah Kota Palu, Mohammad Herianto, pada abad ke-20 kawasan pesisir di sekitar Limbuo menjadi sentra produksi garam. Ada berhektar-hektar tambak garam milik petani yang tumbuh di dekat pantai.

Gudang penyimpanan garam juga berdiri di sekitar pelabuhan. Garam-garam itu secara rutin diangkut ke Surabaya dengan kapal motor milik Koninklijk Paketvaart Matschappij (KPM), maskapai milik perusahaan Belanda. “Dulu, Palu menjadi sentra produksi garam di Sulawesi,” kata Herianto.

Masa kejayaan garam Palu mulai meredup sekitar 1933 dan lebih banyak melayani kebutuhan lokal. Sementara Pelabuhan Limbuo bertahan sebagai pelabuhan tradisional hingga tahun 1960an.

Setelah tahun 1980, menurut Herianto, Pelabuhan Limbuo mulai kurang optimal. Salah satu penyebabnya adalah karena tingginya sedimentasi dari Sungai Pondo.

Menurut Neni, lanskap pesisir Teluk Palu juga berubah sejak tahun 1970an. Itu setelah status Palu yang sebelumnya hanya sebagai salah satu kecamatan dari Donggala, menjadi kota administratif pada 1978.

Kemudian pada 1994, Palu resmi berstatus kotamadya. Perubahan sebagai kotamadya, dibarengi dengan pesatnya pembangunan dan tingginya migrasi penduduk pendatang. Kawasan pesisir yang semula hanya tambak garam, gudang dan pelabuhan, mulai padat dengan hunian tetap. Promosi Pantai Talise sebagai pusat pariwisata, berujung pula pada menjamurnya hotel, rumah makan dan proyek reklamasi pantai.

Salah satu hal yang belum menjadi perhatian serius di tengah pesatnya pembangunan itu, kata Neni, adalah mitigasi bencana. Padahal Kota Palu berada di atas sesar aktif Palu Koro yang punya riwayat panjang dengan bencana gempa dan tsunami. Sementara tidak banyak penduduk pendatang yang tahu bahwa mereka hidup di dataran yang rentan bencana.

Dengan mengunjungi jejak-jejak bekas bencana -seperti bekas dermaga Limbuo, adalah salah satu cara untuk mengingatkan warga pada bencana di masa lalu. Agar berikutnya masyarakat punya kewaspadaan dan bisa tergerak untuk menyiapkan mitigasi. “Sebab kita ini sering abai dengan peristiwa-peristiwa yang telah lewat. Padahal sejarah itu selalu aktual,” kata pendiri rumah baca NemuBuku ini.

Penulis dan foto: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini