Jejak Mitigasi Bencana di Kampung Lere

1
1049
Foto Kampung Lere : Haris, nelayan Kelurahan Lere sedang mengecek perahu bantuan setelah bencana tsunami, 8 Maret 2019. Foto: Basri Marzuki

Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu menjadi salah satu daerah terparah yang terdampak bencana gempa dan tsunami 28 September 2018. Data sementara dari Kelurahan Lere per Desember 2018, tercatat, ada 93 korban jiwa dan 267 rumah lenyap karena hempasan tsunami. Sedangkan rumah rusak berat sebanyak 69 unit, rusak sedang 62 unit, serta rusak ringan 83 unit.

Dampak bencana tersebut masih berlanjut hingga kini. Turunnya permukaan pesisir usai gempa, membuat air laut pasang dari Teluk Palu menggenang hingga ke pemukiman warga.

Di masa lalunya, kampung berpenduduk 11.674 jiwa (2018) tersebut sebenarnya memiliki potensi vegetasi dan kearifan lokal yang bisa diadopsi untuk mengurangi risiko (mitigasi) bencana ke depannya.

Berikut ini jejak potensi vegetasi dan kearifan lokal yang didokumentasikan
Kabar Sulteng Bangkit :

1. Vegetasi pelindung pantai

Tumbuhan “Lalere”

Kampung Lere berasal dari “lalere”, nama lokal Ipomea Pes Caprae, salah satu spesies tanaman yang umumnya tumbuh di garis pantai. Tumbuhan merambat ini, memiliki peranan penting dalam ekosistem pantai, seperti pelindung alamiah garis pantai terhadap erosi. Vegetasi ini biasanya tumbuh dekat mangrove serta tergolong tumbuhan yang berstruktur kuat.

Tokoh masyarakat Kelurahan Lere, Andi Alimuddin Rauf menyebutkan, dimasa lalu daerahnya memang ditumbuhi banyak lalere. “Tumbuhan ini tumbuh di sepanjang pesisir pantai, mulai dari muara Sungai Palu hingga kawasan Silae,” kata Andi kepada Kabar Sulteng Bangkit, awal Agustus 2019.

Namun kini, habitat lalere tidak lagi banyak dijumpai. Saat ini, hanya terkonsentrasi di sepanjang kawasan di depan Taman Datokarama hingga ke arah IAIN Palu.

Selain tanaman lalere, dulunya vegetasi bakau juga tumbuh. Ini tertera dalam laporan sejarawan Maritim Universitas Tadulako (Untad), Wilman D Lumangino dalam “Pengembangan Diorama ‘Kaili Tour’ Dalam Perspektif Sejarah” yang menyebutkan, bahwa pada tahun 1970-an, pantai Lere hingga Silae merupakan areal hutan bakau yang lebat.

Sayangnya vegetasi tanaman pantai itu hilang, kata Wilman, saat pemerintah melakukan reklamasi di awal tahun 1980. Di atas lahan reklamasi itu, pemerintah membangun taman rekreasi bernama Taman Ria. Di dalamnya terdapat berbagai wahana permainan anak.

Wajah Pantai Lere kembali berubah pada tahun 1990-an. Bermunculannya kafe-kafe di sepanjang pesisir menjadikan pantai ini segera menjadi tujuan yang menggabungkan wisata kuliner dan wisata alam.

Pantai Lere semakin riuh setelah pemerintah membangun Jembatan Kuning di tahun 2000an sebagai penghubung dengan pusat kota. Dengan sendirinya ini juga membuat hunian Kelurahan Lere semakin padat ke arah ruas jalan yang mendekati pantai.

Alaudin, 62 tahun, salah satu ketua RT setempat bercerita, sebelum tahun 1980an pemukiman di Kelurahan Lere masih berjarak sekitar 500 meter dari pantai. Warga tidak bisa membangun dekat pantai karena masih berupa rawa-rawa. “Dulu banyak mangrove sampai di dekat Palu Grand Mall,” tutur Alaudin.

Demikian juga dikatakan Bachtiar (67), salah seorang nelayan di Kelurahan Lere. Menurutnya, garis pantai Kelurahan Lere sebelum tahun 1980an berjarak sekitar 100-200 meter dari garis pantai setelah reklamasi. “Dulu pantai itu di belakang SPBU ini,” kata Bachtiar seraya menunjuk lokasi jalan di belakang SPBU Jalan Cumi-cumi, sebagai lokasi pantai sebelumnya.

Namun, pemukiman warga semakin dekat ke pantai —sekitar 200an meter, setelah rawa-rawa ditimbun dalam proyek reklamasi. Jumlah hunian, kata dia, terus memadat seiring bertambahnya penduduk Lere, baik karena kelahiran atau hadirnya para pendatang.

Badan Pusat Statistik juga mencatat kenaikan jumlah penduduk Kelurahan Lere. Pada 2005, jumlah penduduk berada di angka 9.620 jiwa. Namun pada 2017, tercatat 11.674 jiwa. Dengan demikian dalam 12 tahun, jumlah penduduk Kelurahan Lere bertambah 2.054 jiwa.

Hilangnya mangrove membuat kawasan ini tak memiliki pelindung alami saat diterjang tsunami. Gelombang “laut berdiri” menerjang rumah-rumah yang berjarak sekitar 200 meter dari pantai dan merusak timbunan-timbunan reklamasi. “Tsunami seperti mengembalikan Kampung Lere seperti sedia kala,” tutur Alaudin.

2. Rumah tahan gempa

Berjarak sekitar 1 kilometer dari pesisir Kelurahan Lere, berdiri Banua Oge atau Souraja. Souraja tersebut berbentuk rumah panggung dengan luas 32 x 11,5 meter yang memakai konstruksi kayu ulin. Terdapat 28 tiang di rumah induk dan 8 tiang di bagian dapur sebagai penyokong.

Souraja berarti rumah raja yang dibangun pada 1892. Pembangunan Souraja dikepalai oleh Amir Pettalolo, menantu dari Raja Palu Yodjokodi yang memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Palu dari Siranindi ke Lere.

Untuk membangun Souraja, sebagian besar tenaga kerjanya didatangkan dari Banjar. Sehingga tampaklah khas arsitektur etnis Banjar di bangunan tersebut.
Souraja menjadi tempat kediaman raja Palu hingga 1942. Di masa Jepang, bangunan ini beralihfungsi sebagai tangsi militer, meski masih menjadi kantor pemerintahan raja Palu.

Banua Oge atau Souraja di Kampung Lere yang tahan gempa

Menariknya, bangunan bergaya rumah panggung ini tetap kokoh saat diguncang gempa M 7,4 pada 28 September 2018. Lokasinya pun selamat dari terjangan tsunami. Arkeolog Museum Negeri Sulteng, Iksam, pernah menjelaskan, bahwa nenek moyang masyarakat Sulawesi Tengah cenderung hidup lebih adaptif dengan bencana. Hal itu nampak dari jejak budaya dari leluhur seperti arsitektur bangunan tahan gempa.

Arsitektur khas tersebut berupa struktur kotak di atas tiang fondasi kayu yang dapat ditanam ke dalam tanah atau diletakkan di atas permukaan tanah.

Penggiat literasi bencana, Neni Muhidin, menuturkan, arsitektur tradisional pada rumah-rumah adat leluhur Palu sebenarnya bisa diadaptasi untuk bangunan tahan gempa. Sebab, arsitektur menjadi bagian mitigasi nonstruktural yang penting untuk mengurangi risiko bencana.

“Banyak bangunan yang rusak dan runtuh saat gempa karena arsitekturnya gagal,” kata Neni dalam Geotour yang berlangsung Februari lalu.

Penulis : Jefriyanto
Editor : Ika Ningtyas

 

1 KOMENTAR

  1. Hello, I just visited kabarsultengbangkit.id and thought I would reach out to you.

    I run an animation studio that makes animated explainer videos helping companies to better explain their offering and why potential customers should work with them over the competition.

    Watch some of our work here: http://www.story-bite.com/ – do you like it?

    Our team works out of Denmark to create high quality videos made from scratch, designed to make your business stand out and get results. No templates, no cookie cutter animation that tarnishes your brand.

    I really wanted to make you a super awesome animated video explaining what your company does and the value behind it.

    We have a smooth production process and handle everything needed for a high-quality video that typically takes us 6 weeks to produce from start to finish.

    First, we nail the script, design storyboards you can’t wait to see animated. Voice actors in your native language that capture your brand and animation that screams premium with sound design that brings it all together.

    If you’re interested in learning more visit our website or please get in touch on the email below:
    Email: storybiteanimations@gmail.com

    Thank you!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini