Jangan Memberi Susu Formula dalam Situasi Bencana

0
270

PALU – Satuan Tugas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Wiryani Pambudi, mengatakan, pemberian susu formula harus dihindari di situasi darurat bencana. Sebab susu formula rentan tercemar dan menyebabkan bayi menderita diare akut.

“Ketiadaan air bersih dan lingkungan yang kotor bisa membuat susu formula tercemar kuman,” kata Wiryani saat narasumber pada Media Workshop dengan tema “Peran Media dalam Melindungi, Mempromosikan dan Mendukung Menyusui” yang diselenggarakan Yayasan Save The Children (YSTC) dalam rangka memperingati Pekan ASI sedunia 2019, di Santika Hotel, Selasa, (6/8/2018).

Menurut Wiryani, dalam situasi bencana, pemberian air susu ibu (ASI) justru paling tepat dan aman. Sebab ASI selalu tersedia dan siap diberikan tanpa menunggu bantuan datang. Antibody ASI juga dapat melindungi bayi terhadap kuman penyakit sehingga menurunkan risiko kematian bayi akibat infeksi, pneumonia, diare dan Otitis Media Akut (OMA).

“Angka kematian bayi usia 0-2 bulan yang tidak disusui lebih tinggi enam kali lipat dibandingkan anak yang disusui, kemudian angka kematian akibat pneumonia lebih tinggi 15 kali lipat dialami bayi yang tidak disusui,” jelasnya.

Menyusui yang optimal, lanjut dia, dapat meningkatkan pengembangan sumber daya manusia dan mengurangi pengeluaran kesehatan untuk keluarga dan Indonesia. Untuk itu, ia meminta para pembuat kebijakan harus berinvestasi dalam kebijakan dan program dukungan menyusui.

Dalam pantauan Wiryani di setiap daerah situasi bencana, belum ditemukan ada upaya pendirian tenda laktasi, belum ada upaya penugasan nakes dengan kompetensi konseling menyusui, belum ada tindakan tegas untuk menyikapi donasi formula bayi (+botol-dot) yang massif dan dibagikan tanpa sepengetahuan dinas kesehatan setempat.

“Salah satu kendala menyusui disituasi bencana adalah minimnya dukungan menyusui, terpisah dari anggota keluarganya dan kondisi tempat tinggal atau penampungan tidak memadai,” terangnya.

Alasan utama kegagalan menyusui, kata dia, bukan karena ASI tidak cukup, tapi, kurangnya dukungan lingkungan sekitar, masalah fisik dan emosi, pilihan ibu dan kekhawatiran ASI berkurang.

Menurut Wiryani, dalam situasi bencana setiap produsen susu formula bayi dan produk lainnya dilarang memberikan sufor bayi. Dilarang pula membujuk, meminta dan memaksa ibu menyusui atau pihak keluarganya untuk menggunakan sufor bayi. Larangan itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah nomor 33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI susu ibu ekslusif.

Dalam pasal 19 disebutkan, pemberian susu formula bayi pada situasi darurat atau bencana hanya ditujukan untuk memenuhi gizi bayi dan kepentingan sosial, namun setiap pemberian sufor bayi dan produk harus melalui dinas kesehatan kabupaten kota setempat

Kemudian, pemberian itu harus dilaksanakan sesuai dengan pedoman pemberian makanan bayi dan anak pada situasi darurat yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. kemudian, dinas kesehatan kabupaten/kota harus berkoordinasi secara berjenjang dengan kemenkes.

Mengapa Peran Suami Penting Dalam Situasi Bencana?

Rahmat Hidayat yang tergabung dalam Gerakan Inisiatif Ayah ASI Indonesia mengatakan, peran seorang ayah dalam memberikan ASI disituasi bencana maupun situasi normal sangat dibutuhkan.

Mengapa demikian? karena sikap dan pengetahuan si ibu tentang ASI dan menyusui semakin meningkat ketika ayah terlibat. Para ibu lebih bahagia, jika suami membantu mengurus anak lebih sering, membantu pekerjaan rumah tangga dan membantu ketika ibu mengalami kesulitan.

“Jika dukungan itu didapatkan para ibu menyusui maka para ibu akan rileks, selalu merasa bahagia, produksi ASI pun meningkat,” terangnya.

Ditempat yang sama, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, Ilham N Sunusi mengatakan, pada saat masa bencana gempa bumi yang melanda Kota Palu, Sigi dan Donggala, dinas kesehatan tidak bisa mengawasi seluruh bantuan sufor sebab, jumlah lokasi pengungsian lebih banyak dari petugas dinas kesehatan.

Dia mengakui sebelumnya tidak pernah ada pelatihan dan sosialisasi pedomanan pemenuhan gizi disituasi bencana, sehingga dinas kesehatan kurang maksimal dalam melaksanakan tugas sesuai peraturan dalam Undang-undang.

Meski demikian pihaknya tetap berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi hak-hak para ibu menyusui, salah satunya Dinas kesehatan Sulteng telah membangun 15 pos layanan kesehatan reproduksi dari 72 lokasi huntara di Kota Palu, Sigi dan Donggala.

Penulis : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini