Jalan Berliku Dana Stimulan

0
693

Kesabaran Yusuf menunggu dana stimulan perbaikan rumah sudah habis. Ia pun memutuskan untuk merehab rumahnya sendiri yang rusak parah karena gempa. Ia rela membongkar uang tabungan.

Rumah Yusuf di Kelurahan Pengawu, Kecamatan Tatanga, rusak berat karena berada di dekat patahan. Dinding sebagian ruang tamu, kamar dan dapurnya ambruk. Begitupun lantainya retak-retak. Harusnya, untuk memperbaiki semuanya, Yusuf butuh uang hingga Rp 15 juta.

“Tapi cuma punya Rp 7 juta, jadi saya perbaiki bertahap,” katanya, 21 Agustus 2019.

Yusuf mulai memperbaiki rumahnya Juli lalu. Meski belum sepenuhnya rampung, awal Agustus, ia dan keluarganya mulai menghuni rumah asalnya itu. Retak di bagian dinding masih tampak di sana-sini, tapi toh, Yusuf mengaku hidupnya kini lebih tenang dan senang. “Ada ikatan sejarah yang tak bisa hilang dengan rumah ini,” kata pegawai swasta tersebut.

Seharusnya, nama Yusuf masuk sebagai calon penerima dana stimulan untuk kategori rumah rusak berat. Namun ia memilih melupakannya, karena terlanjur menunggu 10 bulan, dan dana stimulan belum cair hingga sekarang.

Selama menunggu dana stimulan itu, Yusuf enggan tinggal di huntara. Ia menumpang di salah satu Gedung di Komplek Alkhairaat, tempatnya bekerja sebagai jurnalis di sana.

“Tinggal di huntara, airnya sulit, tidak bisa membawa alat-alat elektronik. Mendingan rumahnya direhab, meski tidak rehab total,” kata pria 36 tahun itu.

Yusuf hanya salah satu korban bencana yang rumahnya terdampak parah. Dalam laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu, bencana 28 September 2019, menyebabkan 55.102 unit rumah rusak. Terdiri dari 11.603 unit rusak berat (RR), 15.917 unit, rusak sedang (RS), 21.078 rusak ringan (RR).
**

Sesuai Peraturan Menteri Sosial No 4 Tahun 2015 tentang Bantuan Langsung Berupa Uang Tunai Bagi Korban Bencana, bahwa korban bencana yang rumahnya rusak berhak mendapatkan dana stimulan untuk perbaikan rumah.

Untuk rumah rusak ringan, jumlah bantuan antara Rp1 juta hingga Rp 5 juta. Rumah rusak sedang, besar dana stimulan antara 5,5 juta hingga Rp10 juta. Sedangkan bantuan rusak berat, mencapai Rp 10,5 juta hingga Rp 25 juta.

Namun, bantuan tersebut bukan berupa uang tunai langsung terhadap korban. Bantuan itu disalurkan melalui kelompok masyarakat (pokmas) untuk membeli bahan bangunan. Pokmas dibentuk dengan anggota paling sedikit lima kepala keluarga dan paling banyak 15 kepala keluarga.

Pemkot Palu sendiri menargetkan ada 133 pokmas terbentuk. Namun hingga Agustus 2019, baru 110 pokmas yang berdiri. Dari 110 pokmas itu pun, baru 29 pokmas yang dananya cair untuk membeli material bangunan.

Alhasil, mereka yang tidak tahan berlama-lama menumpang atau tinggal di huntara seperti Yusuf, akhirnya menempuh jalan pintas: memperbaiki sendiri rumahnya.

Namun mereka yang tidak punya uang untuk merehab rumah, tiada pilihan lain kecuali menjalani mekanisme dana stimulan itu dengan penuh lika-liku.

Andris, warga yang sedang menanti dana stimulan, mengakui membentuk pokmas dengan 10 kepala keluarga, bukan perkara mudah. Rumit, sulit, dan berbelit.

“Hampir setiap hari rapat, kadang harus bersitegang, perang urat syaraf,” kata Andris yang ditunjuk sebagai Ketua Pokmas II Kelurahan Pengawu.

Setelah pokmas terbentuk, kesulitan berikutnya, adalah menyusun rencana anggaran biaya (RAB) dan rencana penggunaan dana (RPD). Inilah proses yang paling sulit karena setiap kepala keluarga harus menghitung estimasi kebutuhan bahan material beserta harganya.

Namun menurut Andris, setiap pokmas didampingi oleh fasilitator sehingga kesulitan-kesulitan yang muncul bisa diatasi juga. Saat ini, rehab 10 rumah anggotanya pun sudah berjalan.

“Apabila proses rehab sudah 50 persen, baru dana tahap pertama dicairkan. Mungkin satu atau dua hari sudah bisa cair,” katanya.

Berbeda dengan pengalaman Pokmas I Kelurahan Pengawu. Menurut Sekretaris Pokmas 1, Alirman, mereka tak butuh waktu lama untuk membentuk pokmas karena ada dokumen petunjuk teknis dan pelaksananya.

Pokmas yang telah terbentuk kemudian harus mendapatkan surat keputusan (SK) dari masing-masing lurah. Setelah itu, mereka survei ke toko bangunan terdekat untuk mengecek harga sejumlah bahan material.

Dari harga yang didapat, fasilitator akan mendampingi untuk pembuatan RAB dan RPD. “Pembuatan dokumen rencana anggaran ini harus menyesuaikan tipe rumah yang diinginkan penerima, mau konvensional atau rumah tahan gempa (Rhisa),” katanya.

Dokumen yang telah lengkap lalu diajukan ke BPBD Kota Palu. Apabila hasil verifikasi BPBD dinyatakan layak, Bank Mandiri akan mengirimkan anggarannya ke rekening pokmas lalu pokmas mentransfer dana itu ke rekening toko bangunan yang telah ditunjuk.

Alirman mengatakan, sejauh ini tidak menemui kendala yang berarti. Tantangannya, hanya rumah anggota pokmas yang berjauhan dan kesibukan masing-masing warga. Akibatnya, anggotanya pun kadang sulit bertemu dan bermusyawarah.

“Untuk diskusi saja butuh waktu. Belum lagi kalau tidak ada kesepahaman antar anggota,” katanya.

Fasilitator, Kecamatan Palu Selatan, Razab Rifandi, bercerita tantangan terbesarnya sebagai pendamping adalah bagaimana memberikan pemahaman mengenai mekanisme dana stimulan sesuai dokumen petunjuk teknis dan pelaksananya. “Paling tidak butuh waktu satu bulan sendiri untuk membentuk pokmas,” kata Razab.

Tantangan berikutnya adalah menghitung rencana penggunaan dana (RDP) yang memiliki dua koefisien, yakni kebutuhan volume barang dan menentukan berapa nilai satuannya.

“Misalnya dengan dana Rp 50 juta, rumah yang dibangun itu maksimal berukuran 6 meter x 6 meter,” kata fasilitator untuk Kelurahan Birobuli Utara dan Kelurahan Petobo ini.

Dari nilai Rp 50 juta dana stimulan rumah rusak berat, kata Razab, sebesar Rp 40 juta dibelanjakan untuk material bahan bangunan. Sedangkan sisanya, Rp 10 juta diperuntukkan sebagai upah tukang.

Upah tukang, pun harus diberikan secara bertahap. Ini bertujuan agar tukang tidak melarikan diri sebelum tugasnya rampung.

Tugas Razab tak hanya soal mendampingi pokmas. Ia juga harus memastikan bangunan sesuai dengan standar bangunan tahan gempa seperti syarat dari pemerintah.

” Jikalau ada yang tidak sesuai, fasilitator akan ditegur. Akan ada tim teknis diakhir pekerjaan untuk mengecek,” katanya.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Badan Penanggulan Bencana daerah (BPBD) Kota Palu, Syafruddin A. Mahurati, mengatakan, hingga 21 Agustus 2019, total dana yang berada di rekening pokmas sebanyak Rp 44,8 miliar. Akan tetapi, baru Rp 12,1 miliar yang dicairkan oleh pokmas.

Menurut Syafruddin, pencairan dana stimulan sangat bergantung pada kinerja masing-masing pokmas. Selama ini, kendalanya, anggota pokmas sulit punya waktu untuk berkumpul.

“Sebenarnya kalau rajin bertemu, pembentukan pokmas bisa selesai dalam satu minggu. Ini semua tergantung masyarakatnya,” kata dia.

Syafruddin juga menekankan rumah yang direhab harus berkonsep Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) yang lebih tahan gempa. Rumah jenis ini bisa tahan gempa berkekuatan magnitudo (M) 8, sesuai hasil penelitian Kementerian Pekerjaan Umum. Keunggulan lainnya, pengerjaan Risha tidak membutuhkan waktu lama, dibandingkan rumah konvensional.

Sementara untuk warga yang melakukan rehab rumahnya sendiri, akan tetap mendapatkan dana pengganti dari pemerintah. Apabila pembangunannya masih berlangsung, maka, dana bisa diajukan pada tahap 1 saat ini.

Sedangkan apabila rehab rumahnya telah rampung, maka, penggantian dana akan dilakukan secara reimburse.
**
Surya, penyintas Kelurahan Boyaoge memilih langkah yang sama dengan Yusuf. Alasannya, ia merasa segan menumpang hidup pada kerabatnya hampir satu tahun. Sementara dana stimulan tidak lagi jelas kabarnya.

Dia beruntung karena seorang anak dan menantu yang kebetulan sukses di rantau, membiayai perbaikan rumahnya. Maklum, sebagai pedagang pakaian, Surya tak yakin mampu merehab rumahnya yang rusak berat. “Pasti butuh puluhan juta,” kata ibu dua anak ini.

Tak lama lagi perbaikan rumahnya rampung. Tersisa, pemasangan bumbungan rumah dan atap. Meski rumah barunya ini lebih kecil, tapi Surya cukup lega mimpinya terwujud. Sudah lama ia menantikan bisa tinggal di rumah sendiri. Ia pun berencana akan kembali membuka usahanya berjualan baju muslim yang sempat surut karena lindu.

Reporter: Ikram
Editor: Ika Ningtyas

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini