Ibu Asat Menjahit Masa Depan dari Mesin Butut

0
37
MENJAHIT -Ibu Asat (55) menyelesaikan jahitannya di huntara Petobo. (f-lia kristina)

SIANG itu matahari cukup menyengat kulit. Hawa di huntara Petobo terasa panas.
Huntara yang dibangun oleh pemerintah itu terlihat ramai tak seperti biasanya. Ada antrean ibu-ibu di sebuah bilik huntara. Mereka menantikan panggilan nama untuk menerima bantuan sosial beras bagi keluarga penerima manfaat melalui Program Keluarga Harapan (PKH).

Dari kumpulan ibu-ibu itu ada seorang wanita yang tampak acuh tak acuh. Ia sibuk aktivitasnya dengan mesin jahit tua. Asat perempuan 55 tahun. Sambil menggoyangkan kedua kakinya, sesekali matanya memandang dari jauh orang senasibnya. Mereka mengangkat berkilo-kilo beras.

Ini bukan pertama kalinya, perempuan kelahiran 1965 itu menikmati pemandangan itu kala dirinya duduk di depan bilik huntaranya sambil menyelesaikan jahitannya.

Asat sudah lama menjadi warga Kelurahan Petobo. Dulu Asat adalah seorang petani, namun bencana gempa dan likuifaksi 2018 menggeser pekerjaanya menjadi seorang penjahit permak pakaian. Sudah hampir satu tahun Asat mengasah keterampilan seujung kuku itu, agar tetap menghasilkan uang. Nenek dengan empat cucu, dua diantaranya tinggal bersamanya. Ia mengasuh dua cucu yang ditinggalkan ibunya mengadu nasib sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Singapura.

Asat bercerita sudah tidak begitu mengharapkan bantuan lagi. Bukan karena ia sudah punya uang yang cukup. Tapi ia sudah kehilangan harapan. Sejujurnya kata dia, dengan kondisinya kini, bantuan sembako yang sesekali datang sebenarnya sangat diharapkan. Setidaknya untuk menambal kebutuhan dapur tatkala order permak busana sedang sepi.

Namun kini harapan itu dikuburnya dalam-dalam. Pasalnya, kesempatan untuk mendapatkan sembako selalu terlewat. Ia sendiri tidak tahu penyebabnya. Sebagai penyintas, semua syarat administrasi sudah dipenuhinya. ”Didata sudah, foto copy kartu keluarga, KTP dan surat sudah semua diurus. Tapi pas pengumuman nama saya tidak ada,” keluhnya. Di huntara, ia tinggal bersama suaminya Satman Lamuria yang usianya lebih muda lima tahun darinya. Di bilik huntara yang tak seberapa luas itu, meringkuk dua cucu dan satu keponakan perempuan yang sekolah di SMP Negeri 15 Petobo.

Sebelum gempa, keluarga sederhana ini adalah petani palawija. Namun gempa berskala 7,2 SR yang meluluhlantakan lahan pertaniannya, memaksa pasangan ini mencari mata pencaharian lain. Berbekal mesin jahit tua pemberian anaknya, Asat menerima permak baju sesama penghuni huntara. Sebelumnya, ia pernah dijanjikan mesin jahit. Seperti yang sudah sudah. Berbagai syarat administrasi ia penuhi. Namun mesin jahit yang diharapkan jatuh ke tangan orang lain.

Pendapatan dari permak baju tetangga tak mencukupi untuk menutupi kebutuhan lima orang di dalam huntara. Penghasilan suaminya sebagai buruh lepas yang tak setiap saat menerima order masih belum mencukupi kebutuhan di dalam bilik huntara. Pun ditambah dengan penghasilan suami sebagai pencari besi tua, tetap tak mampu menambal kebutuhan dapur. Asat dan ponakannya memutar otak, bagaimana agar asap dapur terus mengepul. Saat order jahitan sepi, keduanya berjibaku menjadi buruh cuci. ”Pendapatannya tidak banyak, tapi cukup untuk belanja dapur,” ujarnya.

Penghasilan dari permak baju, buruh cuci plus kuli besi tua dan buruh lepas sebulannya Rp150.000.
”Cukup untuk beli beras saja, kalau lauk pauk ya sekali-kali saja supaya uang yang didapat setiap hari ini cukup,” katanya.

Di tengah keterbatasan hidup, seiring waktu kualitas fasilitas huntara Petobo diakuinya makin menurun. Awal menghuni huntara, mereka masih mendapat pemeriksaan dan konsultasi kesehatan. Kini fasilitas yang bisa dinikmati gratis itu tak ada lagi. Suasana huntara Petobo juga tak lagi ramah. Perabotan rumah tangga yang dibeli dengan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit raib diembat pencuri. Karena itu, Asat dan keluarganya, tak sabar lagi menghuni huntap mandiri di Kelurahan Petobo yang memasuki tahun kedua bencana tak kunjung rampung.

Dua tahun bencana berlalu, Ibu Asat masih dibayangi perasaan gagal. Apakah ia dan suaminya gagal lagi mendapatkan hunian tetap mandiri seperti yang dialaminya di huntara selama ini. Bagi keluarga sederhana ini, rumah layak yang dijanjikan pemerintah adalah harapan terakhir yang didambakannya. Jika pembagian sembako ia kerap terlewatkan, maka untuk hunian tetap ia ingin memastikan dirinya sebagai penerima yang ada dalam daftar pemerintah. Itulah dambaan terakhir. Kelak di huntap nyaman itulah ia dan suaminya menjalani usia senja. Menyulam masa depannya dari satu-satunya harta yang tersisa. Mesin jahit butut. ***

Penulis   : Kristina Natalia
Editor     : Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini