Ian Morse, Jurnalis Bule, Konsisten Menulis Penyintas di Pasigala

0
253

PALU – Gempa berkekuatan 7,4 skala richter yang mengguncang, Palu Sigi dan Donggala (Pasigala) serta sebagian Parigi Moutong, mengundang keprihatinan publik luas. Tidak hanya di dalam negeri. Gelombang keprihatinan juga datang dari luar negeri.

Peristiwa kemanusiaan ini juga mengundang datangnya ratusan jurnalis.Tak hanya jurnalis dalam negeri. Tak kurang seratusan pewarta dari luar wara wiri, mengabadikan tragedi ini. Beberapa di antara jurnalis asing itu bermalam di AJI Palu.

Di antara seratusan jurnalis itu, terselip Ian Morse (24), jurnalis kelahiran Houston, Texas – Amerika. Dialah jurnalis asing paling lama mengabadikan momen pascabencana di Pasigala. Sejak peristiwa 28 September, ia pernah sekali ”menghilang”. Lalu kembali dan melakukan liputan nyaris di semua daerah terdampak di Sulawesi Tengah.

Sebelum peristiwa gempa, pria yang fasih berbahasa Indonesia, tinggal di Gorontalo. Di sana, ia berbaur bersama kawan-kawan AJI Gorontalo. Ian Morse masuk ke Kota Palu dari pintu utara Sulawesi Tengah – Gorontalo. Ian menuturkan, baru berhasil masuk ke Palu pada hari kelima gempa dengan penerbangan komersial. Ketika terjadi gempa, sebenarnya ia sedang merencanakan ke perjalanan ke Banggai Laut untuk meliput pengeboman ikan.

Gempa pada 28 September 2018, goncangannya terasa hingga di Gorontalo. Mobil-mobil yang terpakir di jalan ikut bergoyang. Beberapa saat linimasa media sosial, berseliweran informasi terjadi gempa dahsyat di ibukota Provinsi Sulawesi Tengah – Palu. Kantor pusat IRIN News tempatnya bekerja, yang berpusat di Swiss memintanya segera ke Palu. Jadilah ia ke Bumi Tdulako, untuk pertama kalinya. Sebenarnya akses darat tidak terlalu jauh dari Gorontalo ke Palu. Namun buruknya komunikasi, akhirnya memilih penerbangan komersial.

Kedekatannya dengan AJI Gorontalo, memudahkannya untuk menemukan aktivis AJI Palu. Sesaat setelah keluar dari perut pesawat yang menerbangkannya dari Gorontalo, langsung melakukan liputan.

Ian melakukan wawancara dan mengabadikan gambar pengungsi yang tidur di alam terbuka di hamparan rumput kering di kompleks Bandara Mutiara Sis Aljufrie Palu. Keasyikan mengabadikan gambar pengungsi, tiba tiba teringat Pimred Radar TV Palu Mohamad Iqbal Rasyid. Ia pun langsung mengontak Ketua AJI Palu ini, hingga akhirnya jadilah ia tinggal di Markas AJI Palu, Jalan Rajawali 28 Palu – kompleks Radio Nebula FM Palu.

Dari sinilah, petualangannya menjelajah sudut Kota Palu dimulai. Tak hanya Kota Palu. Keinginannya untuk melihat kondisi pengungsi membawanya hingga ke pelosok terpencil Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala. Yang terakhir, bersama dengan Ketua AJI Palu, Iqbal Rasyid, Muhamad Sharfin (Beritasatu TV) serta Muh Faiz (Tribun Timur) serta Abdul Rahman (Net TV) berkunjung ke episentrum gempa di Desa Lende – Donggala, sambil menikmati buah khas di negara tropis – durian.

Lantas bagaimana tangggapannya terhadap penanganan pengungsi pascabencana di Pasigala, (Palu, Sigi dan Donggala). Ian tampak berhati-hati merespons pertanyaan. ”Saya harus hati hati mengatakan ini. Tapi saya melihatnya dari perspektif saya sebagai jurnalis. Karena apa yang saya kemukakan ini, cukup objektif,” katanya.

Untuk menjelaskan penilaiannya itu, Ian tampak kesulitan mengeja kata untuk mencari padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. ”Terus terang saya mengatakan, penanganan pascabencana masih belum maksimal. Masih banyak hak-hak mendasar pengungsi yang belum tertangani dengan baik,” katanya terus terang. Bisa disebutkan apa saja itu? ”Banyak hal. Huntara, huntap dana santunan maupun hak-hak dasar warga pengungsi belum tertangani dengan baik,” rincinya.

Di tengah diskusi, pria kelahiran Houston, Texas ini, mencoba membandingkan penanganan bencana di Indonesia dengan negaranya. Memang kata dia, perbedaan tetap ada.

Perbedaan itu disebabkan karakter dan budaya kedua negara yang memang berbeda. Namun ada yang satu sama, yakni sikap abai terhadap suatu wilayah mestinya dinyatakan terlarang (rawan gempa) namun tetap saja dilanggar. Penyebabnya banyak hal.

Namun yang dominan adalah desakan atau pertambahan penduduk, membuat pemerintah atau warga sendiri berani menerabas kawasan yang dinyatakan rawan gempa. Di negaranya, khususnya dibeberapa negara bagian, ancaman bencana cukup tinggi. Yang sering terdengar adalah badai dahsyat.

Selama 60 menit wawancara, Ian beberapa kali enggan menjawab pertanyaan. Ia hanya merespons dengan kalimat pendek. ”Yang itu jangan”. Seketika saya pun tersadar. Saya sedang berhadapan dengan bule. Beda karakter narasumber bule dengan orang Indonesia. ”Oke-oke kita abaikan itu,” jawab saya, membuat suasana Sekretariat AJI malam itu makin gayeng.

Ian tidak banyak basa-basi ditanya alasannya tinggal di Sekretariat AJI yang beralaskan kasur lipat dan fasilitas yang jauh dari memadai. Atau paling tidak mencari penginapan yang memadai untuk rebahan setelah seharian melakukan liputan di lapangan.

Menurut pria yang pernah menjadi guru Bahasa Inggris di Gorontalo, sebelum beralih menjadi jurnalis (freelance) ini, alasannya pertama tentunya soal finansial. Sebagai jurnalis lepas, tidak ada jaminan dari redaksi dari kantor pusat. Namun sebagai jurnalis aku Ian, tinggal bersama warga di komunitas tertentu, sangat memberikan keuntungan baginya. Ia bisa mengenal secara intens budaya setempat.

Ditambah dengan penguasaan bahasa Indonesia yang nyaris sempurna makin memudahkan ia menembus sumber sumber di pemerintahan, lembaga kemanusiaan maupun tokoh tokoh informal di masyarakat. Tinggal di markas jurnalis, dirasakannya makin memudahkannya mendapat informasi untuk bahan liputan. Pasalnya, saban hari ia bertemu dengan wartawan yang punya segudang informasi.

Selama di Palu, ia bahkan sudah mencoba nyaris semua jenis makanan tradisional di Palu. Palumara, kaledo, Uvempoi, tabaro hingga binte dan kapurung. Sempat pula menghadiri acara nikahan.

—-
Sejak gempa bumi September 2018 lalu, Ian praktis menghabiskan hari-harinya di tiga daerah terdampak musibah ini. Ia hanya sekali keluar dari Kota Palu. Setelah itu, ia pun datang lagi. Tidur di markas AJI lagi. Melakukan liputan lagi. Pada Rabu 21 Maret 2019 lalu, subuh hari, Ian pun pamit.

Berangkat dari Sekretariat AJI Palu, transit di Jakarta lalu menuju Singapura. Sesampai di negeri jiran itu, Ian sempat berkirim kabar via watshaap. ”Saya sudah tiba di Singapura. Pagi tiba di Jakarta dari Palu. Sorenya langsung terbang ke Singapura,” tulisnya dalam bahasa Bahasa Indonesia.

Di linimasa twitternya, @ianjmorse, sesekali ia masih mencuit soal Palu dan kondisi pengungsi yang pernah ditemuinya.

Penulis: Yardin Hasan
Foto: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini