Huntara yang Memanusiakan Penyintas

0
829

PALU – Hunian Sementara (Huntara) Banua Petobo yang terletak di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah, berbeda dengan huntara lainnya.

Huntara yang dibangun oleh Yayasan SAI Study Group (SSG) Indonesia sebulan pasca bencana 28 September 2018 lalu ini, memiliki 27 unit bangunan yang ditempati oleh 108 kepala keluarga.

Selain memiliki fasilitas tinggal, di tempat ini terdapat pula sarana taman bermain anak, PAUD, rumah baca, aula pertemuan, klinik bersalin, klinik kesehatan dan sarana air bersih termasuk dua kegiatan pemberdayaan.

Konsep penataan bangunan di lokasi huntara ini cukup menarik, bangunan yang dikerjakan sejak bulan November dan diserahkan untuk ditempati pada bulan Desember 2018 ini, tertata sedemikian rupa agar para penyintas merasa betah tinggal di huntara.

Huntara ini juga ramah terhadap anak dan perempuan. Satu unit bangunan terdapat empat bilik berukuran 3x 4 meter.

Ketua SSG Palu Prof. I Wayann Sutapa, mengatakan, Organisasi Sai Study Group Indonesia (SSGI) adalah suatu lembaga, tempat mempelajari, menghayati, dan mengamalkan wacana-wacana Bhagawan Sri Sathya Sai Baba.

Menurutnya SSGI, bukan suatu organisasi yang mempunyai misi pemindahan agama, bukan organisasi yang mencampur-adukkan agama, bukan pula agama baru atau suatu aliran kepercayaan.

“Organisasi ini memiliki tiga bidang kegiatan yakni pendidikan, kesehatan dan sosial. Kesemua bidang itu kita terapkan di huntara Banua Petobo,” ujarnya.

Untuk pendidikan mereka membangun PAUD dan tamanbaca , bidang kesehatan disiapkan klinik umum dan klinik bersalin sedangkan bidang sosial kita meliputi banyak bidang salah satunya yakni pemberdayaan,” kata I Wayan Sutapa.

SSG Palu, katanya sudah lama berdiri di Sulawesi Tengah, pascabencana terjadi SSG Palu berkoordinasi dengan SSG Indonesia yang kemudian segera melakukan kegiatan bidang social berupa penanggulangan bencana.

Selanjutnya, kata dia, dalam masa itu dibangun huntara agar para penyintas khususnya di wilayah Petobo yang terdampak likuefaksi bisa memiliki tempat tinggal. Maka dibangunlah huntara Banua Petobo ditanah seluas dua hektar hasil dari peminjaman salah seorang warga.

“Kami bersyukur hingga saat ini sebanyak 346 jiwa bisa tinggal ditempat itu tanpa adanya keluhan,” terang profesor bidang engginnering ini.

Terpisah koordinator huntara Banua Petobo, Suharto menjelaskan, fasilitas yang dibangun SSG Palu ditempat itu berupa aula serba guna berukuran 8 x 15 meter. Aula itu sering digunakan warga melakukan pertemuan maupun rapat musyawarah.

Tidak hanya itu ditempat ini juga berdiri rumah bersalin dan klinik umum dengan luasan masing-masing 6 x 12 meter. Bangunan lainnya yakni Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), taman baca serta taman bermain.

Disediakan pula fasilitas MCK serta banua internet untuk warga berkomunikasi.

Kata dia, fasilitasnya lengkap, layaknya menghuni perumahan BTN. Air bersih dan listrik tersedia bahkan airnya bisa langsung diminum berkat adanya alat filterisasi.

“Pada kesempatan ini saya menyampaikan ucapan terimakasih atas perhatian SSG Palu kepada kami para penyintas,” ujar Suharto.

Bidan Mia dan bidan Sarina dua petugas kesehatan yang ada di huntara Banua Petobo mengatakan, mereka ditempatkan di lokasi itu guna mendekatkan pelayanan kepada masyarakat khususnya para penyintas 1 x 24 jam.

Dua klinik ini kata mereka, dibawah kordinasi Puskesmas Petobo. Ditempat itu disediakan sejumlah tenaga medis termasuk dokter. Pelayanan yang diberikan yakni pelayanan kesehatan umum, pemeriksaan menyangkut kebidanan yakni pemeriksaan kehamilan, KB hingga proses melahirkan.

Kedua bidan ini menyebutkan alat yang disediakan sudah lengkap dan memenuhi standar kesehatan.

“Kita siaga dua puluh empat jam melakukan pelayanan ditempat ini, selain penyintas di huntara Banua Petobo kita juga melayani warga lainnya dalam pelayanan kesehatan termasuk kesehatan reproduksi,” terangnya.

Pelayanan disini kata dia, tidak dipungut biaya alias gratis, namun jika dalam pelayanan membutuhkan proses atau tindakan lanjut maka pasien akan di rujuk.

Tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, penghuni huntara ini juga diberdayakan dengan membuat usaha batu bata dan kerajinan anyaman lidi.

Untuk kegiatan usaha batu bata sampai saat ini telah menghasilkan sekitar 20.000 buah batu bata, sedangkan anyaman lidi sudah puluhan lusin piring, baki serta tatakan ikan.

Koordinator usaha batu bata Ahyar menceritakan, menyebutkan, para penyintas yang terlibat dalam pembuatan batu bata di upah sesuai batu bata yang dihasilkan.

“Siapa saja yang terlibat secara langsung pasti memperoleh hasil, kita memberikan upah sesuai jumlah batu bata yang dihasilkan, makin banyak yang dihasilkan maka jumlah pendapatannya akan banyak pula,” terang Ahyar.

Senada dengan itu, Niluh Suarni penyintas yang tinggal di huntara Banua Petobo mengatakan, dirinya terlibat dalam bidang pembedayaan karena memiliki keahlian membuat kerajinan anyaman lidi.

Siapa saja katanya bisa mempelajari kerajinan pembuatan anyaman lidi. Sejauh ini sudah banyak penyintas yang belajar, hanya saja hasil karya mereka belum bisa dipasarkan karena masih dalam proses belajar.

Niluh yakni para penyintas yang ikut dalam proses pemberdayaan itu kedepan bisa mandiri dan bangkit perekonomiannya.

Reporter/Video : Irwan K Basir
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini