Harapan Penyintas di 2020, Punya Hunian Layak dan Kesejahteraan yang Terjamin

0
337
LILIN HARAPAN - Anak anak penyintas menyalakan lilin menyambut tahun baru 2020 di tenda pengungsian Balaroa (foto - Ipal)

SETIAP orang mempunyai resolusi saat menjelang tahun baru. Harapan baru dan agenda baru. Harapan yang sama juga datang dari para survivor di tenda tenda pengungsian dan hunian sementara.

SENJA beranjak hilang di balik gugusan gunung Gawalise. Sebentar lagi cahaya mentari sore perlahan hilang digantikan cahaya bohlam yang menggantung anggun di sudut -sudut tenda. Kesibukan penghuni tenda tampak menggeliat. Menyediakan properti khas tahun baru. Para penyintas tidak ingin melewatkan selebrasi malam indah, walau mereka sendiri tak tahu seperti apa nasib mereka di tahun kedua bencana liquifaksi Balaroa, yang akan dijelang beberapa jam lagi itu.

Selfi (25) warga salah satu survivor yang tinggal di Shelter Pengungsian Balaroa tampak lalulalang di tenda ditinggali bersama keluarga kecilnya. Selfi bersama suami dan tiga anaknya telah setahun lebih tinggal di tenda bantuan Pemerintah Erdogan itu. Gerakannya tampak gesit. Tak ada lagi kekesalan hidup di tenda yang sumpek, gerah dengan segala rupa kekurangannya. Selfi tampak sudah terbiasa dengan kondisi yang dihadapinya setidaknya dalam 15 bulan terakhir ini. Anak-anaknya berjumplitan di dalam tenda menggenggam lilin menunggu disulut sebentar lagi.

Walau mengaku sudah cukup familiar dengan kondisi kehidupan di tenda, namun Selfi tetap saja menginginkan kehidupan yang lebih baik. Hunian yang layak, sumber pendapatan yang konsisten sebagai jaminan masa depan anak-anaknua kelak.

Di huntara Padang Golf Bumi Roviega, harapan senada juga disampaikan Masnah (42). Ibu dua anak ini, mengaku bersyukur mendapat huntara yang ditempatinya kini, daripada harus berhimpitan di dalam tenda sempit di pekarangan gedung silat di depan Graha Pena Radar Sulteng dulu. Korban tsunami dari Jalan Komodo – Talise ini mengaku tetap berharap hunian tetap yang dijanjikan pemerintah bakal rampung sebelum Lebaran 2020 bisa ditempati secepatnya. Setidaknya, kata dia jika mempunyai rumah sendiri bisa lebih tenang mengatur masa depannya. Masna yang berjualan minuman di kompleks Hutan Kota Kaombona ini berharap janji itu tak meleset lagi. Ia bahkan sudah beberapa kali ke lokasi hunian tetap di Tondo. ”itu sudah cukup,” katanya, sambil memperlihatkan foto selfie di rumah sumbangan Yayasan Buddha Tzu Chi di smartphonenya.

Di Huntara Petobo, sejumlah warga tetap mengingatkan pemerintah atas janjinya yang akan membangun hunian tetap satelit di kompleks tak jauh dari huntara mereka kini.

Menyambut tahun baru, pemandangan sama terlihat. Anak-anak menyiapkan lilin di beranda dan halaman huntara. Temaram cahaya lilin kecil menerobos ke dalam tenda tenda yang tampak kusam. Selaras dengan harapan mereka akan hadirnya perubahan kecil pada tahun 2020, demi masa depannya yang lebih indah.

Penulis   : Ival Norwan Kalbajang
Editor     : Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini